Media Asuransi, JAKARTA – Allianz Utama Indonesia tidak menampik fenomena El Nino Godzilla akan memberikan dampak tersendiri terhadap kinerja industri asuransi di Tanah Air. Karenanya, berbagai macam upaya dan langkah antisipasi perlu dilakukan untuk meminimalkan risiko yang muncul, terutama dari sisi klaim.
Head of Commercial Underwriting Allianz Utama Indonesia Datien Widyastuti menjelaskan untuk menghadapi potensi risiko tersebut maka Allianz Utama Indonesia secara konsisten memperkuat manajemen risiko dan disiplin underwriting.
|Baca juga: OJK Terima 4 Paket Kandidat Direksi BEI, Ini Tahapan Berikutnya
|Baca juga: Pasar Modal RI Kian Bergairah, 71 Penawaran Umum Masuk Pipeline OJK
“(Hal itu) termasuk diversifikasi portofolio, pemantauan eksposur di wilayah berisiko, serta koordinasi dengan tim klaim dan reasuransi untuk memastikan kesiapan operasional,” kata Datien, kepada Media Asuransi, dikutip Kamis, 7 Mei 2026.
Datien Widyastuti menambahkan Allianz Indonesia terus memantau potensi risiko yang mungkin terjadi terkait munculnya fenomena El Nino Godzilla di Indonesia. Pasalnya, kondisi itu bisa berdampak terhadap klaim asuransi di lini properti.
“Termasuk fenomena El Nino Godzilla, yang berpotensi meningkatkan klaim kebakaran pada lini asuransi umum, khususnya properti,” kata Datien.
Di sisi lain, BMKG dan BRIN memperkirakan sejumlah wilayah di Indonesia mengalami fenomena El Nino Godzilla di awal April 2026. Kondisi itu diprediksi menimbulkan risiko terjadinya kekeringan ekstrem yang menimbulkan krisis air bersih, risiko kebakaran hutan/lahan, gagal panen pertanian, serta penurunan kesehatan.
|Baca juga: OJK Berlakukan Uji Coba New RBC di 10 Perusahaan Asuransi, Ini Tujuannya!
|Baca juga: Sejumlah Manajer Investasi Mulai Ajukan Pendirian DPLK, OJK: Sudah Masuk Tahap Evaluasi
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menyebutkan OJK memandang fenomena El Nino ekstrem berpotensi meningkatkan risiko pada industri asuransi, khususnya terkait kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan pada sektor pertanian dan kesehatan.
“Lini usaha yang terdampak antara lain asuransi properti, kendaraan bermotor terutama risiko kebakaran, pertanian, dan kesehatan, seiring meningkatnya frekuensi dan severity risiko,” kata Ogi.
Meski demikian, Ogi meyakini, industri asuransi telah memiliki mitigasi yang memadai melalui program reasuransi termasuk proteksi katastropik serta pembentukan cadangan teknis. Ia menambahkan penyesuaian tarif premi tetap dilakukan secara terukur sesuai ketentuan yang berlaku dan mempertimbangkan daya beli masyarakat.
|Baca juga: Dorong Gaya Hidup Sehat, Sequis Life Dukung Ajang Triathlon Ramah Pemula
|Baca juga: AXA Insurance dan AXA XL Hadirkan Art Insurance Berstandar Global untuk Karya Seni Bernilai Tinggi
Selain itu, masih kata Ogi, OJK juga mendorong penguatan inovasi produk seperti asuransi parametrik serta koordinasi dengan pemangku kepentingan, termasuk Maipark, dalam pemutakhiran peta risiko bencana.
“Secara keseluruhan, industri diharapkan terus memperkuat manajemen risiko dan kesiapan menghadapi potensi peningkatan klaim akibat kondisi iklim ekstrem,” tutupnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
