1
1

Inilah 5 Penyakit dengan Klaim Tertinggi di Allianz Indonesia Sepanjang Semester I-2026

Ilustrasi. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Sepanjang semester pertama 2026, Allianz Indonesia membayarkan klaim sebesar Rp1,8 triliun, naik 4,17 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Tingginya angka klaim kesehatan tersebut menjadi cerminan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap perlindungan finansial semakin besar.

Data Allianz Indonesia pada semester pertama 2026 menyebutkan klaim terbesar didominasi oleh kanker payudara, diikuti diare, infeksi saluran pernapasan atas, penyakit jantung, dan infeksi bakteri. Gambaran tersebut menegaskan bahwa perlindungan kesehatan menjadi kebutuhan penting untuk mengantisipasi beban biaya pengobatan yang terus meningkat.

|Baca juga: Allianz Indonesia Bagikan Lima Checklist Financial Check-Up untuk Jaga Ketahanan Finansial di Pertengahan Tahun

Tren tersebut menunjukkan bahwa berbagai risiko kesehatan masih berpotensi menimbulkan beban ekonomi yang signifikan, sehingga kepemilikan asuransi kesehatan menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas keuangan keluarga.

Di Allianz Indonesia tercatat ada lima penyakit pengajuan klaim kesehatan dengan nominal tertinggi sepanjang semester pertama 2026, yakni:

  1. Kanker Payudara paling mendominasi dengan nilai klaim lebih dari Rp77,6 miliar.
  2. Diare nilai klaimnya mencapai lebih dari Rp50,4 miliar.
  3. Infeksi Saluran Pernapasan Atas angka klaimnya juga tinggi lebih dari Rp34 miliar.
  4. Penebalan Dinding Pembuluh Darah Arteri Jantung nilai klaimnya juga lebih dari Rp32,8 miliar
  5. Infeksi Bakteri angka klaim lebih dari Rp29,3 miliar.

Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti, menjelaskan, besarnya nilai klaim tersebut menunjukkan bahwa risiko kesehatan bukan hanya persoalan medis, tetapi juga dapat memberikan dampak finansial yang signifikan apabila masyarakat belum memiliki perencanaan dan perlindungan yang memadai.

|Baca juga: Allianz Beberkan Manfaat MCU bagi Kesehatan Jangka Panjang

Menurutnya, banyak orang rutin melakukan medical check-up untuk memantau kondisi kesehatan. Namun, tidak banyak yang melakukan financial check-up untuk mengevaluasi apakah kondisi keuangannya masih siap menghadapi berbagai risiko kehidupan.

‘’Di saat yang sama, risiko kesehatan dan meningkatnya biaya perawatan medis juga dapat memberikan tekanan terhadap kondisi keuangan apabila tidak dipersiapkan sejak awal. Perencanaan keuangan yang baik tidak hanya berfokus pada menumbuhkan aset melalui tabungan atau investasi, tetapi juga memastikan aset tetap terlindungi saat risiko datang,’’ ujar Ni Made Daryanti, dalam keterangannya, Selasa, 28 Juli 2026.

Dijelaskan, risiko mungkin tidak selalu dapat diprediksi, tetapi dampak finansialnya dapat dipersiapkan. Financial check-up menjadi kesempatan untuk meninjau kembali apakah dana darurat, perlindungan kesehatan, maupun target keuangan yang telah disusun di awal tahun masih sesuai dengan kebutuhan dan kondisi saat ini.

Menurut Ni Made, melakukan evaluasi kondisi keuangan di pertengahan tahun bukan untuk melihat apakah target tabungan atau investasi masih tercapai, tetapi untuk memastikan fondasi keuangan tetap kuat menghadapi berbagai risiko yang muncul sewaktu-waktu. Dana darurat, rasio utang, hingga kecukupan perlindungan kesehatan menjadi beberapa aspek yang perlu ditinjau kembali agar tujuan keuangan jangka panjang tetap dapat berjalan sesuai rencana.

Editor  : Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Kesehatan dan Perencanaan Finansial Jadi Fondasi Kemandirian
Next Post OJK Sebut Uji Coba New RBC Bikin Mayoritas Asuransi Alami Penurunan Rasio Solvabilitas

Member Login

or