Oleh: Mhd. Taufik Arifin
Ketika mengikuti Indonesia Insurance Summit 2026 di Yogyakarta pada tanggal 11-13 Juni 2026, salah satu sesi yang paling menarik perhatian penulis adalah diskusi internasional yang menghadirkan Tatsuro Toda, Deputy General Manager, International Business Underwriting Department, MSIG Japan. Kehadirannya melengkapi perspektif global yang dibawa oleh pembicara dari Korea Selatan dan negara lainnya.
Jika pembicara dari Korea banyak berbicara mengenai transformasi industri dan pertumbuhan pasar, maka pembicara dari Jepang membawa perspektif yang berbeda. Jepang tidak sedang berbicara tentang bagaimana menjadi besar. Jepang berbicara tentang bagaimana tetap dipercaya.
Bagi penulis, justru di situlah letak pelajaran paling berharga bagi industri asuransi Indonesia. Karena pada akhirnya, ukuran sebuah industri tidak hanya ditentukan oleh besarnya premi yang dikumpulkan. Ukuran sebuah industri juga ditentukan oleh kemampuannya menjaga kepercayaan masyarakat selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Jepang, Negeri yang Hidup Bersama Risiko
Ketika mendengar paparan Tatsuro Toda, penulis langsung teringat bahwa Jepang adalah salah satu negara dengan tingkat eksposur risiko tertinggi di dunia. Gempa bumi, tsunami, topan, letusan gunung berapi, kebakaran, gangguan rantai pasok, dan risiko penuaan penduduk.
Seluruh risiko tersebut merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Namun yang menarik, risiko-risiko tersebut tidak membuat Jepang menjadi negara yang lemah. Sebaliknya, Jepang justru menjadi salah satu negara dengan sistem manajemen risiko terbaik di dunia.
Masyarakat Jepang memahami bahwa risiko tidak dapat dihindari. Tetapi risiko dapat dipersiapkan, risiko dapat dikelola, dan risiko dapat dialihkan melalui mekanisme asuransi. Inilah filosofi yang menurut penulis perlu semakin berkembang di Indonesia.
Ketika Asuransi Menjadi Bagian dari Budaya
Salah satu hal yang paling terasa dari pemaparan Tatsuro Toda adalah bahwa di Jepang, asuransi bukan sekadar produk keuangan. Asuransi telah menjadi bagian dari budaya manajemen risiko.
Masyarakat membeli asuransi bukan karena dipaksa. Bukan karena diwajibkan bank, bukan karena takut. Tetapi karena mereka memahami bahwa pelindungan adalah bagian dari perencanaan kehidupan.
Perusahaan Jepang juga memiliki pola pikir yang serupa. Manajemen risiko bukan sekadar memenuhi persyaratan audit. Manajemen risiko menjadi bagian dari strategi perusahaan. Setiap risiko diidentifikasi, diukur, dikelola, dan jika diperlukan, dialihkan kepada pasar asuransi. Pendekatan ini membuat industri asuransi berkembang secara sehat dan berkelanjutan.
Pelajaran Penting: Kepercayaan Dibangun Puluhan Tahun
Dalam berbagai diskusi selama Indonesia Insurance Summit 2026, kata trust atau kepercayaan terus muncul sebagai tema utama. Tatsuro Toda memberikan contoh bagaimana industri asuransi Jepang membangun kepercayaan tersebut.
Kepercayaan tidak dibangun melalui iklan, tidak dibangun melalui promosi, dan tidak dibangun melalui slogan. Kepercayaan dibangun melalui konsistensi. Ketika terjadi klaim, perusahaan hadir. Ketika terjadi bencana, industri merespons dengan cepat. Ketika pelanggan membutuhkan bantuan, sistem bekerja sebagaimana mestinya.
Puluhan tahun pengalaman tersebut akhirnya membentuk keyakinan masyarakat bahwa industri asuransi adalah bagian dari solusi. Menurut penulis, inilah pelajaran yang sangat relevan bagi Indonesia.
Dunia yang Berubah Memerlukan Ketahanan yang Baru
Tema besar Indonesia Insurance Summit 2026 adalah: “Insurance in a Volatile World: Strengthening Resilience, Trust & Innovation”.
Tema ini sangat sesuai dengan pengalaman Jepang, karena negara ini telah menghadapi berbagai krisis selama puluhan tahun. Krisis ekonomi, bencana alam, pandemi, perubahan demografi, dan gangguan perdagangan global.
Namun industri asuransinya tetap menjadi salah satu yang paling stabil di dunia. Mengapa? Karena fokus mereka bukan hanya pada pertumbuhan. Mereka juga fokus pada ketahanan.
Dalam banyak kasus, perusahaan terlalu fokus mengejar pertumbuhan premi. Padahal pertumbuhan tanpa fondasi yang kuat sering kali menciptakan masalah di kemudian hari. Jepang mengajarkan bahwa pertumbuhan dan ketahanan harus berjalan bersama.
Apa Artinya bagi Broker Asuransi Indonesia?
Sebagai broker asuransi, penulis melihat banyak pelajaran yang dapat diterapkan langsung. Selama ini sebagian broker sering terjebak dalam persaingan harga. Klien meminta premi yang lebih murah. Pasar merespons dengan penurunan tarif. Kompetisi menjadi semakin ketat.
Padahal nilai utama broker tidak terletak pada harga. Nilai utama broker terletak pada kemampuannya membantu klien mengelola risiko.
Inilah yang dilakukan broker-broker besar di Jepang dan negara maju lainnya. Mereka tidak hanya menjual polis, namun menjual solusi, membantu klien memahami risiko, membantu klien membangun ketahanan bisnis, membantu klien menghadapi krisis, dan ketika klaim terjadi, mereka hadir sebagai pendamping.
Peran seperti inilah yang menurut penulis perlu terus diperkuat oleh broker Indonesia.
APPARINDO dan Tantangan Profesionalisme
Ketika mendengarkan pengalaman Jepang, penulis juga melihat relevansinya dengan agenda pengembangan profesi broker di Indonesia. Saat ini OJK telah meningkatkan standar kompetensi industri secara signifikan. Hal itu dilakukan melalui sertifikasi BNSP, program pendidikan berkelanjutan, pengawasan berkala, dan peningkatan tata kelola. Seluruhnya bertujuan meningkatkan profesionalisme industri.
Jika dilihat dari perspektif Jepang, langkah tersebut sebenarnya merupakan investasi jangka panjang. Semakin tinggi kualitas profesi broker, maka akan semakin tinggi kepercayaan masyarakat. Sedangkan semakin tinggi kepercayaan masyarakat, maka semakin besar kontribusi broker terhadap pembangunan industri.
Karena itu APPARINDO memiliki peran yang sangat strategis untuk memastikan bahwa peningkatan kompetensi menjadi budaya, bukan sekadar kewajiban regulasi.
Dari Jepang untuk Indonesia
Menurut penulis, terdapat lima pelajaran utama yang dapat dipetik dari pengalaman Jepang. Pertama, kepercayaan adalah aset terbesar industri asuransi. Kedua, manajemen risiko harus menjadi budaya, bukan sekadar prosedur. Ketiga, pertumbuhan harus diimbangi dengan ketahanan. Keempat, profesionalisme sumber daya manusia merupakan fondasi utama industri. Kelima, pelanggan harus selalu menjadi pusat dari seluruh keputusan bisnis.
Kelima pelajaran tersebut terdengar sederhana. Namun, implementasinya membutuhkan komitmen jangka panjang.
Peluang Indonesia Masih Sangat Besar
Meskipun Indonesia dan Jepang memiliki tingkat kematangan pasar yang berbeda, Indonesia memiliki peluang yang sangat besar, yakni:
– Jumlah penduduk yang besar.
– Pertumbuhan ekonomi yang relatif baik.
– Pembangunan infrastruktur yang masif.
– Kesadaran risiko yang terus meningkat.
– Transformasi digital yang cepat.
Semua faktor tersebut merupakan modal penting untuk mempercepat pertumbuhan industri asuransi. Namun tantangannya bukan pada potensi pasar, yakni bagaimana membangun kepercayaan dan profesionalisme secara konsisten. Jika hal tersebut dapat dilakukan, maka masa depan industri asuransi Indonesia sangat menjanjikan.
Penutup
Salah satu manfaat terbesar mengikuti Indonesia Insurance Summit 2026 adalah kesempatan untuk belajar dari negara-negara yang telah lebih dahulu membangun industri asuransi yang kuat.
Presentasi Tatsuro Toda dari MSIG Japan memberikan pengingat bahwa keberhasilan industri tidak selalu diukur dari seberapa cepat ia tumbuh. Keberhasilan juga diukur dari seberapa lama ia mampu mempertahankan kepercayaan masyarakat.
Jepang menunjukkan bahwa ketahanan, disiplin, profesionalisme, dan kepercayaan bukanlah konsep yang terpisah. Keempatnya saling terkait dan membentuk fondasi industri yang berkelanjutan.
Bagi broker asuransi Indonesia, pesan tersebut sangat jelas. Masa depan bukan hanya tentang menjual lebih banyak polis. Masa depan adalah tentang membantu lebih banyak klien memahami risiko, membangun ketahanan, dan menghadapi ketidakpastian dengan lebih percaya diri. Itulah sesungguhnya esensi dari profesi broker asuransi.
Catatan: Artikel ini merupakan seri ke-10 dari 12 artikel yang akan ditulis.
*Penulis adalah Ketua Departemen Pusat Kajian Riset Industri (DPKRI) APPARINDO serta CEO PT. Liberty and General Insurance Broker (L&G) – Ingrisk.co.id
PT L&G Insurance Broker (Ingrisk.co.id) menyediakan solusi manajemen risiko dan asuransi untuk sektor energi, pertambangan, konstruksi, manufaktur, logistik, infrastruktur, dan berbagai industri strategis lainnya di Indonesia.
“Managing Risk, Protecting Future”
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
