Media Asuransi, JAKARTA – Temuan Manulife Asia Care Survey 2026 menunjukkan bahwa 93% masyarakat Indonesia memandang kemandirian finansial sebagai bentuk warisan baru bagi keluarga.Di tengah usia harapan hidup yang semakin panjang, kemandirian finansial menjadi semakin penting agar setiap individu dapat memenuhi kebutuhannya sekaligus memberikan dukungan bagi keluarga.
Dalam hal ini, aspirasi untuk merdeka secara finansial secara pribadi menjadi langkah awal sebelum dapat memberikan dukungan bagi keluarga. Sejalan dengan aspirasi tersebut, orang dewasa di Indonesia berencana mengalokasikan sekitar 60% aset finansial mereka untuk mendukung kemandirian diri. Dengan fondasi finansial yang lebih kuat, individu dapat memenuhi kebutuhannya sekaligus memberikan dukungan yang lebih berkelanjutan bagi keluarga.
“Fondasi finansial yang kuat tidak dibangun dalam satu langkah besar, melainkan melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Dengan mengelola pengeluaran, mengembangkan aset, mempersiapkan masa pensiun, serta melengkapi perencanaan dengan perlindungan yang sesuai, keluarga dapat memenuhi kebutuhan hari ini sekaligus menjaga kemandirian finansial pada masa depan,” ujar Chief Marketing Officer PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Shierly Ge dalam keterangannya, Selasa, 29 September 2026.
|Baca juga: Manulife Indonesia Lanjutkan Program Adopt Village di Warga Kampung Cigaok, Bogor
Berdasarkan insight dari Manulife Asia Care Survey 2026, Manulife Indonesia merangkum lima kebiasaan finansial yang dapat membantu keluarga menerjemahkan aspirasi kemandirian finansial ke dalam langkah sehari-hari.
Pertama, catat anggaran dan tetapkan prioritas finansial. Keinginan untuk tetap mandiri sekaligus memberikan dukungan kepada keluarga memerlukan pengelolaan dana yang terarah. Sebagai langkah awal, keluarga dapat mencatat pemasukan dan pengeluaran secara rutin, mengurangi pengeluaran impulsif, serta mengalokasikan dana sesuai prioritas, seperti kebutuhan sehari-hari, dana darurat, dan tujuan jangka panjang.
Kedua, tabungan bukan satu-satunya solusi keuangan jangka panjang. Menabung tetap penting untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek dan menjaga likuiditas, tetapi keluarga juga perlu membangun sumber pendapatan dan arus kas yang lebih terprediksi untuk menghadapi inflasi dan risiko umur panjang. Namun, pengembangan aset juga dapat dilakukan untuk tujuan jangka panjang, seperti pendidikan anak, dana pensiun, atau perlindungan masa depan keluarga.
|Baca juga: Manulife Asia Care Survey 2026: Kemandirian sebagai “Warisan” Baru Masyarakat Indonesia
Ketiga, persiapkan masa pensiun sejak dini. Temuan Manulife Asia Care Survey 2026 menunjukkan 66 persen masyarakat Indonesia menginginkan pendapatan yang stabil dan mandiri secara finansial di masa tua. Namun, 68 persen orang dewasa di Indonesia juga memberikan dukungan finansial kepada keluarga. Karena itu, persiapan pensiun perlu dimulai sejak dini dengan memperkirakan kebutuhan masa tua, menyisihkan dana secara rutin, dan mengelola aset sesuai tujuan serta profil risiko.
Keempat, perkuat kemampuan untuk menjaga pendapatan. Keinginan untuk memiliki pendapatan yang stabil pada masa tua menunjukkan pentingnya menjaga keberlanjutan penghasilan sepanjang perjalanan hidup. Keluarga dapat mempertimbangkan peningkatan keterampilan, pengembangan karier, atau sumber penghasilan tambahan yang sesuai dengan kemampuan, kondisi, dan tujuan finansial masing-masing.
Kelima, bangun jaring pengaman finansial. Dengan 62 persen masyarakat Indonesia memiliki tanggung jawab perawatan keluarga, risiko kesehatan atau kejadian tidak terduga dapat berdampak tidak hanya pada individu, tetapi juga anggota keluarga yang bergantung kepadanya. Dana darurat dan perlindungan asuransi yang sesuai kebutuhan dapat membantu keluarga menjaga stabilitas keuangan ketika menghadapi risiko tersebut.
Shierly menambahkan, kemerdekaan finansial tidak harus dimulai dari langkah besar. Hal yang terpenting adalah memahami tujuan keluarga dan membangun kebiasaan yang relevan secara konsisten. “Setiap keluarga memiliki kebutuhan dan prioritas yang berbeda. Dengan memulai dari langkah yang sesuai dengan kondisi masing-masing, setiap keluarga dapat menjadi lebih tangguh dan siap menghadapi berbagai fase kehidupan,” jelas Shierly.
Editor Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
