Media Asuransi, JAKARTA – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi diproyeksikan semakin berperan dalam meningkatkan efisiensi operasional industri asuransi. Hal itu termasuk dalam pelayanan nasabah dan pengelolaan premi pada 2026.
Vice President Director Prudential Indonesia Vikash Kumar Sinha menilai transformasi digital menjadi kebutuhan utama industri untuk menjawab perubahan perilaku dan ekspektasi nasabah.
|Baca juga: Jerih Payah Petani Buah Indonesia Kini Jangkau 25 Negara Bersama Java Fresh dan DBS Foundation
|Baca juga: Mandiri Institute Sebut Konsumsi Masyarakat Tetap Tangguh di Tengah Dinamika Global
“Digitalisasi adalah masa depan industri asuransi. Bagi kami, ini bukan hal baru karena transformasi digital sudah dilakukan sejak sebelum pandemi,” ujar Vikas, kepada Media Asuransi, dikutip Kamis, 16 April 2026.
Menurut dia, penguatan ekosistem digital dilakukan untuk meningkatkan pengalaman nasabah, mulai dari akses produk hingga interaksi layanan.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyediaan aplikasi bagi tenaga pemasar, seperti PRUForce dan PRUFast, yang dirancang untuk mempermudah layanan dan menghadirkan pendekatan yang lebih personal kepada nasabah.
Di sisi lain, perusahaan juga mengembangkan layanan berbasis web melalui PRUServices yang memungkinkan nasabah mengakses berbagai fitur secara mandiri tanpa perlu mengunduh aplikasi. Fitur tersebut mencakup pelacakan klaim, riwayat transaksi, hingga pembayaran premi.
|Baca juga: Rupiah Melemah, OJK Sebut Biaya Retrosesi Reasuransi Berpotensi Tertekan
|Baca juga: BI Catat Utang Luar Negeri Indonesia Naik Jadi US$437,9 Miliar
“Layanan ini bisa diakses kapan saja dan di mana saja, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan nasabah,” kata Vikas.
Selain itu, perusahaan mulai menguji pemanfaatan AI dalam meningkatkan kualitas layanan pelanggan. Teknologi ini digunakan untuk menganalisis rekaman percakapan nasabah dalam jumlah besar secara lebih cepat dibandingkan dengan metode manual.
|Baca juga: Investor Global Nilai Kebijakan Indonesia Tetap Kredibel di Tengah Ketidakpastian
|Baca juga: BP BUMN Dorong Integrasi Sistem Pungutan Pajak Atas Transaksi Digital Luar Negeri yang Cepat
Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat mendeteksi potensi masalah layanan secara real-time, termasuk mengidentifikasi sentimen negatif lebih dini. “Evaluasi layanan bisa dilakukan lebih cepat, akurat, transparan, dan objektif,” ujarnya.
Penggunaan AI juga disebut mendukung peningkatan kapasitas dan kapabilitas customer service sebagai garda terdepan dalam layanan, sehingga respons terhadap kebutuhan nasabah dapat dilakukan lebih optimal.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
