Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyiapkan sejumlah strategi untuk menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan domestik setelah gejolak yang berkaitan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Salah satunya melalui optimalisasi insentif bagi investor yang menanamkan dana pada aset keuangan Indonesia.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan perkembangan terkait MSCI sempat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah selama dua hari. Meski demikian, BI menilai tekanan tersebut masih relatif normal dengan mempertimbangkan kondisi pasar regional yang juga kurang kondusif.
“Kami juga melakukan asesmen dan memang sempat dua hari juga rupiah mengalami tekanan pada saat itu, tapi kami masih melihat bahwa tekanannya masih relatif dalam batas yang cukup normal,” ujar Destry, dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Destry mengatakan BI terus memantau pergerakan arus modal asing setelah perkembangan terkait MSCI. Bank sentral juga telah membahas langkah-langkah yang diperlukan untuk merespons kondisi tersebut, dengan fokus pada upaya menarik kembali aliran modal asing yang keluar dari pasar domestik.
|Baca juga: Tok! BI Tahan Suku Bunga Acuan di Level 5,75% pada Oktober 2026
Menurutnya, kebijakan yang ditempuh akan lebih terarah dengan mengoptimalkan insentif bagi investor yang menempatkan dana pada instrumen keuangan Indonesia, termasuk Surat Berharga Negara (SBN), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), dan instrumen lainnya.
|Baca juga: DAI Optimistis Mayoritas Perusahaan Asuransi Penuhi Ekuitas Minimum di 2026
|Baca juga: BEI Siapkan Inisiatif Baru untuk Perkuat Integritas Pasar Modal RI
Salah satu insentif yang diberikan berupa pengurangan biaya lindung nilai atau hedging melalui transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) hingga 45 persen.
Destry mengungkapkan kebijakan insentif dalam bentuk transaksi swap dan DNDF yang diberlakukan sejak Juni hingga Oktober 2026 telah berhasil mendatangkan aliran modal masuk sebesar US$9,9 miliar.
“Sejak Juni hingga Oktober ini kita mulai berlakukan kebijakan insentif ini, baik dalam bentuk untuk swap maupun DNDF. Dan sepanjang Juni kemarin hingga saat ini sudah berhasil mendatangkan inflow sampai US$9,9 miliar,” katanya.
BI berharap kombinasi insentif dan penyesuaian imbal hasil aset keuangan domestik dapat meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia. Dengan demikian, selisih imbal hasil antara aset domestik dan aset berdenominasi dolar Amerika Serikat (AS) menjadi lebih menarik bagi investor.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

