Media Asuransi, TANGERANG – Fesyen kini semakin menjadi bagian dari cara konsumen mengekspresikan diri, bukan sekadar mengikuti tren musiman. Dalam keputusan berbelanja, mereka mempertimbangkan kesesuaian produk pakaian dengan gaya personal, kemudahan dipadukan, dan kualitas yang andal untuk penggunaan jangka panjang.
Pergeseran ini mendorong konsumen melihat fesyen sebagai style investment, ketika sebuah item dinilai dari kemampuannya mencerminkan identitas sekaligus tetap relevan digunakan dalam berbagai kesempatan. Dengan banyaknya pilihan yang tersedia, melakukan pembelian pun menjadi lebih relevan dan selektif.
Arah tersebut semakin terlihat pada generasi muda. Riset oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama Women’s Wear Daily (WWD) memproyeksikan Gen Z dan Gen Alpha akan menyumbang 40 persen pasar fesyen Amerika Serikat (AS) dalam satu dekade mendatang.
Kondisi itu dengan perilaku belanja yang semakin dipengaruhi oleh relevansi budaya, kreator, serta pengalaman digital. Kondisi ini membuat tantangan brand fesyen di era digital tidak lagi sebatas menarik perhatian konsumen, tetapi juga membangun kepercayaan hingga mendorong keputusan pembelian.
Meski demikian, minat masyarakat terhadap produk fashion tetap tinggi, khususnya di ranah e-commerce. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dirangkum Databoks, mencatat pakaian dan aksesori sebagai jenis produk yang paling banyak dibeli melalui e-commerce pada 2025, dengan proporsi 43,74 persen.
Dari sisi pasar, eCommerceDB (ECDB), lembaga riset e-commerce asal Jerman mencatat pendapatan e-commerce kategori fesyen di Indonesia mencapai US$15,885 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh 10-15 persen pada 2026, menunjukkan posisi pada kategori ini semakin signifikan dalam lanskap e-commerce Indonesia.
Data internal SIRCLO turut menunjukkan arah pertumbuhan yang serupa, yakni jumlah pesanan kategori fesyen pada semester I/2026 tumbuh 44 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Penguatan juga terlihat pada kanal live streaming, dengan pesanan dari sejumlah brand fesyen meningkat hampir lima kali lipat pada semester I/2026 dibandingkan dengan semester I/2025, di mana menunjukkan peran format visual dan interaktif yang semakin relevan dalam perjalanan belanja daring.
Di tengah tren tersebut, proses pemilihan produk fesyen secara daring juga kian kompleks, karena konsumen dihadapkan pada berbagai pilihan merek, platform, promosi, dan konten. Tantangan ini menjadi terasa bagi item fashion dengan karakter kuat atau harga lebih tinggi.
Calon pembeli membutuhkan visual proof sebelum melakukan pembelian untuk memahami detail produk terlebih dahulu, seperti fit, cutting, warna, material, hingga rekomendasi styling yang sesuai.
|Baca juga: Masyarakat Perlu Mengetahui Pentingnya Perlindungan Risiko dalam Perencanaan Keuangan
|Baca juga: Pasar Relatif Tenang Usai Gubernur BI Mengundurkan Diri, Mirae Asset: Investor Tunggu Kepastian Kebijakan
Live streaming menjadi salah satu format untuk menanggapi kebutuhan tersebut, karena brand mampu memperlihatkan produk, memberikan konteks penggunaan, hingga merespons pertanyaan audiens secara langsung.
Melihat dinamika tersebut, SIRCLO menilai tantangan utama brand fesyen di kanal digital terletak pada kemampuan mengurangi keraguan di tengah pertimbangan yang semakin personal dan detail.
Vice President of Account Management SIRCLO Arnold Oscar Suandrea Chandra mengatakan konsumen produk fesyen saat ini tidak hanya memikirkan tampilan, tetapi ingin memahami bagaimana sebuah produk terlihat saat dikenakan, apakah fit dan cutting-nya sesuai, serta apakah kualitas material dan detailnya sepadan dengan ekspektasi.
“Karena itu, brand perlu menyeimbangkan pengalaman digital yang mampu memberikan keyakinan sebelum checkout, sekaligus memastikan kesiapan operasional agar berlanjut menjadi transaksi,” kata Oscar, dikutip dari keterangan resminya, Rabu, 29 Juli 2026.
Lebih lanjut, denim menjadi salah satu contoh bagaimana style investment hadir dalam keputusan berbelanja. Memilih produk denim bukan sekadar soal model, tetapi juga menemukan potongan, ukuran, dan material yang paling sesuai dengan preferensi masing-masing konsumen.
Kebutuhan tersebut menjadi salah satu konteks dalam kolaborasi SIRCLO dengan Levi’s ®, brand denim global asal Amerika Serikat yang dikenal melalui produk jeanswear ikonis dan relevansinya dengan gaya personal lintas generasi.
Melalui SIRCLO StreamLab, penyampaian produk diperkuat secara visual dan interaktif melalui live streaming, sehingga calon pembeli memperoleh gambaran yang lebih jelas sebelum menentukan pilihan.
Sejak mulai memanfaatkan layanan SIRCLO StreamLab pada 2024, performa live streaming Levi’s ® di sejumlah platform marketplace terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Pada periode Januari hingga Juni 2026, jumlah pesanan meningkat lebih dari dua kali lipat, sementara jumlah tayangan mencatat kenaikan lebih dari enam kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama pada 2024, saat Levi’s ® mulai menggunakan layanan SIRCLO StreamLab.
Pencapaian ini didorong oleh kampanye di marketplace, perpanjangan durasi live pada periode kampanye, kolaborasi dengan Key Opinion Leader (KOL), jumlah konten yang ditayangkan, serta penguatan penawaran melalui harga khusus, flash sale, dan pemberian voucher.
Di saat yang sama, SIRCLO Commerce mendukung pengelolaan e-commerce Levi’s ® secara menyeluruh, mulai dari marketplace operations, campaign execution, product listing, customer service, fulfilment, hingga performance monitoring.
Country Marketing Head, PT Levi Strauss Indonesia Stiffen Andika menyatakan perubahan cara konsumen memilih produk fesyen mendorong Levi untuk terus memperkuat pengalaman belanja digital yang lebih informatif dan relevan.
“Berkat dukungan solusi SIRCLO, kami dapat menyampaikan detail produk melalui live streaming sekaligus menjaga kesiapan operasional e-commerce, sehingga konsumen dapat memahami pilihan produk lebih baik dan memperoleh pengalaman belanja yang lebih memuaskan,” pungkas Stiffen Andika.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
