Media Asuransi, JAKARTA – Media sosial kini menjadi bagian dari keseharian anak, bahkan, tidak sedikit yang mulai mengenalnya sejak usia dini. Kemudahan mengakses berbagai platform digital memang membuka banyak peluang untuk belajar dan berinteraksi.
Akan tetapi di sisi lain juga meningkatkan risiko anak terpapar konten maupun aktivitas yang belum sesuai dengan usianya. Untuk memberikan perlindungan yang lebih baik, pemerintah mulai memberlakukan kebijakan pembatasan akses media sosial bagi anak melalui PP Tunas sejak 28 Maret 2026.
Aturan ini mewajibkan platform digital membatasi kepemilikan akun dan akses media sosial bagi anak berusia di bawah 16 tahun. Bagi orang tua, kebijakan ini bukan sekadar membatasi penggunaan gawai. Lebih penting, aturan tersebut bertujuan melindungi kesehatan mental anak dari dampak penggunaan media sosial yang berlebihan.
Pasalnya, paparan media sosial dapat memengaruhi emosi, rasa percaya diri, hingga cara anak memandang dirinya sendiri. Lalu, mengapa pembatasan ini dianggap penting dan apa saja dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak?
|Baca juga: Dari Beban Kerja hingga Lingkungan, Ini Penyebab Karyawan Memilih Resign
|Baca juga: Kenali Toxic Leadership: Ciri, Dampak, dan Penyebab Bos yang Merusak Tim!
Melansir laman Prudential, Minggu, 19 Juli 2026, pembatasan media sosial bagi anak merupakan kebijakan yang mengatur akses dan kepemilikan akun media sosial berdasarkan kelompok usia.
Ketentuan ini tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas) yang mulai berlaku efektif pada 28 Maret 2026.
Pelaksanaan kebijakan ini dikoordinasikan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Melalui aturan tersebut, penyelenggara platform digital diwajibkan menerapkan pembatasan akses bagi pengguna berusia di bawah 16 tahun sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang digital yang lebih aman bagi anak.
Kebijakan ini lahir karena anak dinilai lebih rentan terhadap berbagai risiko di dunia digital, termasuk dampaknya terhadap kesehatan mental. Dengan adanya pembatasan, pemerintah berharap anak dapat terhindar dari paparan konten maupun interaksi yang belum sesuai dengan tingkat kematangan psikologisnya.
Dampak media sosial terhadap kesehatan mental anak yang perlu diwaspadai
Pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental anak sering kali tidak muncul secara langsung. Dalam banyak kasus, dampaknya berkembang perlahan sehingga kerap luput dari perhatian orang tua. Berikut beberapa dampak yang perlu diwaspadai:
Tekanan sosial dan menurunnya kepercayaan diri
Media sosial membuat anak lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Paparan foto maupun video yang terlihat ‘sempurna’ dapat memunculkan rasa tidak percaya diri dan perasaan bahwa dirinya kurang baik dibandingkan dengan orang lain.
Survei American Psychological Association (2024) menunjukkan sebanyak 41 persen remaja dengan intensitas penggunaan media sosial tertinggi menilai kondisi kesehatan mental mereka buruk. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan remaja yang menggunakan media sosial dalam intensitas rendah.
Ketergantungan pada validasi di media sosial
Jumlah like, komentar, atau pengikut sering kali menjadi ukuran penerimaan sosial di mata anak. Akibatnya, mereka dapat bergantung pada respons dari orang lain untuk merasa dihargai.
Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, rasa cemas, kecewa, bahkan stres bisa muncul. WHO (2024) juga mencatat sekitar 11 persen remaja menunjukkan perilaku penggunaan media sosial yang bermasalah, termasuk kesulitan mengendalikan waktu penggunaan.
Mengganggu pola tidur dan kondisi emosional
Kebiasaan menggunakan media sosial hingga larut malam dapat mengurangi waktu tidur anak. Kurang tidur tidak hanya memengaruhi konsentrasi, tetapi juga membuat anak lebih mudah lelah, sensitif, dan sulit mengendalikan emosi. Dalam jangka panjang, kondisi ini bahkan dapat memengaruhi kualitas interaksi anak dengan keluarga.
Kecemasan yang muncul secara perlahan
Dampak media sosial terhadap kesehatan mental tidak selalu terlihat secara langsung. Kecemasan sering berkembang sedikit demi sedikit dan sulit dikenali tanpa komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak. Di balik sikap yang tampak baik-baik saja, anak bisa saja sedang menyimpan tekanan emosional yang baru terasa dampaknya di kemudian hari.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

