Oleh: Mhd. Taufik Arifin
Ketika mengikuti Indonesia Insurance Summit 2026 di Yogyakarta pada tanggal 11-13 Juni 2026 yang dihadiri sekitar 700 orang direksi dan komisaris industri perasuransian Indonesia, penulis menemukan satu benang merah yang menghubungkan hampir seluruh presentasi para pembicara. Mulai dari isu geopolitik global, perubahan iklim, ancaman siber, transformasi digital, medical inflation, hingga Program Penjaminan Polis, semuanya bermuara pada satu kata yang terus diulang selama forum berlangsung: resilience atau ketahanan.
Tidak mengherankan apabila tema besar Indonesia Insurance Summit 2026 adalah “Insurance in a Volatile World: Strengthening Resilience, Trust & Innovation”.
Namun, di antara seluruh pembicara, salah satu yang memberikan perspektif paling luas dan strategis adalah Muliaman D. Hadad, Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara dan juga mantan Ketua Dewan Komisioner OJK. Dia merupakan tokoh senior sektor keuangan nasional, dan salah satu figur yang terlibat langsung dalam berbagai reformasi sektor keuangan Indonesia selama lebih dari dua dekade.
Dalam paparannya, Muliaman tidak hanya berbicara mengenai industri asuransi sebagai sebuah sektor bisnis. Dia mengajak peserta melihat industri asuransi sebagai bagian dari ketahanan ekonomi nasional.
Bagi penulis, inilah salah satu pesan terpenting dari Indonesia Insurance Summit 2026.
Ketika Dunia Menjadi Semakin Tidak Pasti
Muliaman membuka pembahasannya dengan menggambarkan perubahan besar yang sedang terjadi di dunia. Dalam beberapa tahun terakhir, dunia menghadapi berbagai peristiwa yang sebelumnya dianggap sulit terjadi secara bersamaan.
– Pandemi global
– Perang Rusia-Ukraina
– Konflik Timur Tengah
– Perubahan iklim
– Gangguan rantai pasok global
– Krisis energi
– Transformasi digital
– Kecerdasan buatan
– Tekanan geopolitik negara-negara besar
Masing-masing peristiwa tersebut memiliki dampak ekonomi yang signifikan. Namun, ketika semuanya terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, tingkat ketidakpastian meningkat secara eksponensial.
Dalam kondisi seperti ini, negara membutuhkan sistem yang mampu membantu masyarakat dan dunia usaha menghadapi risiko. Di sinilah industri asuransi memainkan peran yang sangat penting.
Asuransi Bukan Sekadar Produk Keuangan
Salah satu hal yang menarik dari pemaparan Muliaman adalah cara pandangnya terhadap industri asuransi. Selama ini banyak orang melihat asuransi sebagai produk keuangan. Sebuah kontrak, sebuah polis, atau sebuah transaksi. Pandangan tersebut tidak salah. Namun, terlalu sempit.
Menurut penulis, pesan yang ingin disampaikan Muliaman jauh lebih besar. Asuransi adalah instrumen ketahanan ekonomi. Ketika sebuah pabrik terbakar, asuransi membantu perusahaan bangkit kembali. Ketika proyek infrastruktur mengalami kerusakan, asuransi membantu menjaga kelangsungan pembangunan. Ketika terjadi kecelakaan kapal, asuransi membantu menjaga kelancaran perdagangan. Ketika keluarga kehilangan pencari nafkah, asuransi membantu menjaga stabilitas keuangan.
Dengan kata lain, asuransi membantu masyarakat dan dunia usaha pulih dari guncangan. Kemampuan untuk pulih dari guncangan itulah yang disebut ketahanan.
Mengapa Penetrasi Asuransi Indonesia Masih Rendah?
Salah satu tantangan yang juga menjadi perhatian dalam berbagai diskusi selama Indonesia Insurance Summit 2026 adalah rendahnya penetrasi asuransi di Indonesia.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, tingkat penetrasi asuransi Indonesia masih relatif rendah dibandingkan dengan banyak negara lain.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting. Apakah masyarakat belum membutuhkan asuransi? Tentu tidak.
Risiko yang dihadapi masyarakat Indonesia justru semakin besar. Bencana alam, kecelakaan, risiko kesehatan, risiko usaha, risiko siber, dan risiko perubahan iklim, semuanya terus meningkat.
Masalahnya bukan pada kebutuhan. Masalahnya adalah pada tingkat pemahaman, kepercayaan, dan akses terhadap solusi pelindungan yang memadai.
Oleh karena itu meningkatkan penetrasi asuransi bukan sekadar target bisnis industri. Ini adalah agenda pembangunan nasional.
Kepercayaan Tetap Menjadi Fondasi
Salah satu tema utama Indonesia Insurance Summit 2026 adalah trust. Muliaman kembali mengingatkan bahwa tidak ada industri keuangan yang dapat tumbuh tanpa kepercayaan.
Dalam industri asuransi, kepercayaan memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan dengan sektor lain. Nasabah membayar premi hari ini. Tetapi manfaatnya mungkin baru dirasakan bertahun-tahun kemudian.
Artinya, nasabah harus percaya bahwa perusahaan asuransi akan tetap ada dan mampu memenuhi janjinya di masa depan. Kepercayaan tersebut tidak dibangun melalui iklan. Tidak dibangun melalui slogan. Tidak dibangun melalui kampanye pemasaran.
Kepercayaan dibangun melalui tata kelola yang baik. Melalui kemampuan membayar klaim, melalui transparansi, melalui profesionalisme, dan melalui konsistensi dalam menjaga kepentingan pemegang polis.
Peran Strategis Broker Asuransi
Dari perspektif DPKRI APPARINDO, terdapat satu pertanyaan yang sangat menarik. Apa posisi broker asuransi dalam upaya membangun ketahanan nasional tersebut?
Menurut penulis, broker memiliki posisi yang sangat unik.
– Broker berada di antara perusahaan asuransi dan tertanggung.
– Broker memahami risiko yang dihadapi dunia usaha.
– Broker memahami kebutuhan pelanggan.
– Broker memahami kapasitas pasar asuransi.
– Broker memahami proses klaim.
Posisi tersebut menjadikan broker sebagai salah satu pilar penting dalam ekosistem ketahanan risiko nasional. Semakin profesional broker, semakin baik kualitas pelindungan yang diterima masyarakat dan dunia usaha. Semakin baik kualitas pelindungan, semakin tinggi ketahanan ekonomi nasional. Hubungan tersebut sangat sederhana tetapi sangat penting.
Ketahanan Tak dapat Dibangun Sendiri
Salah satu pelajaran yang paling terasa selama Indonesia Insurance Summit 2026 adalah bahwa tantangan masa depan terlalu besar untuk dihadapi secara sendiri-sendiri.
Perusahaan asuransi tidak bisa bekerja sendiri. Broker tidak bisa bekerja sendiri. Regulator tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri.
Diperlukan kolaborasi yang lebih erat. Kolaborasi antara regulator, asosiasi, perusahaan asuransi, broker, reasuransi, akademisi, dan pelaku usaha.
Pendekatan inilah yang menurut penulis menjadi salah satu pesan paling penting dari pemikiran Muliaman D. Hadad.
Catatan untuk APPARINDO
Sebagai Ketua DPKRI APPARINDO, penulis melihat bahwa pemikiran yang disampaikan Muliaman memiliki relevansi yang sangat besar bagi masa depan profesi broker.
APPARINDO tidak boleh hanya dilihat sebagai asosiasi profesi. APPARINDO harus berkembang menjadi salah satu pusat pemikiran industri. Menjadi salah satu pusat pengembangan kompetensi. Salah satu mitra strategis regulator dan salah satu motor peningkatan literasi risiko nasional.
Broker tidak lagi cukup hanya memahami polis. Broker harus memahami ekonomi, teknologi, keberlanjutan, geopolitik, dan berbagai risiko yang akan dihadapi dunia usaha di masa depan.
Karena semakin kompleks risiko yang dihadapi masyarakat, semakin besar pula kebutuhan terhadap broker yang profesional dan terpercaya.
Penutup
Indonesia Insurance Summit 2026 memberikan banyak pelajaran berharga. Namun, salah satu pelajaran yang paling penting adalah bahwa industri asuransi tidak boleh hanya melihat dirinya sebagai industri yang menjual produk pelindungan.
Industri asuransi adalah bagian dari sistem ketahanan nasional. Ketika masyarakat terlindungi, ekonomi menjadi lebih kuat. Ketika dunia usaha terlindungi, investasi menjadi lebih berani.
Ketika risiko dapat dikelola dengan baik, pembangunan dapat berjalan lebih cepat. Ketika industri asuransi berkembang secara sehat, negara menjadi lebih tangguh menghadapi berbagai ketidakpastian global.
Pesan yang disampaikan Muliaman D. Hadad di Yogyakarta pada akhirnya mengingatkan kita bahwa masa depan industri asuransi bukan hanya tentang premi dan klaim. Masa depan industri asuransi adalah tentang bagaimana membantu Indonesia menjadi bangsa yang lebih tangguh, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi dunia yang semakin tidak pasti.
Catatan: Artikel ini merupakan seri ke-7 dari 12 artikel yang akan ditulis.
*Penulis adalah Ketua Departemen Pusat Kajian Riset Industri (DPKRI) APPARINDO serta CEO PT. Liberty and General Insurance Broker (L&G) – Ingrisk.co.id
PT L&G Insurance Broker (Ingrisk.co.id) menyediakan solusi manajemen risiko dan asuransi untuk sektor energi, pertambangan, konstruksi, manufaktur, logistik, infrastruktur, dan berbagai industri strategis lainnya di Indonesia.
“Managing Risk, Protecting Future”
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

