1
1

Indonesia Insurance Summit(IIS) 2026 Sukses Digelar di Yogyakarta

Pembukaan Indonesia Insurance Summit(IIS) 2026 di Yogyakarta. | Foto: AAUI

Selama tiga hari peserta Indonesia Insurance Summit (IIS) 2026 berkumpul untuk saling bertukar pikiran dan berdiskusi untuk kemajuan industri perasuransian di tengah tantangan ekonomi global, geopolitik dan perubahan iklim.

Indonesia Insurance Summit di Yogyakarta selama tiga hari, 11-13 Juni 2026. Acara yang diselenggarakan Dewan Asuransi Indonesia (IIS) 2026 sukses digelar (DAI) bersama seluruh asosiasi industri perasuransian dan didukung oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun ini, merupakan ketiga kalinya dan diikuti oleh 694 orang yang terdiri dari 624 orang peserta dan 70 tamu.

Acara dibuka di Pelataran Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis malam, 11 Juni 2026. Sejumlah pejabat Otoritas Jasa Keuangan (OJK), eksekutif asuransi umum, asuransi jiwa, asuransi syariah, perusahaan pialang asuransi, dan perusahaan penilai kerugian asuransi hadir di acara dengan konsep dinner di alam terbuka ini.

Hadir dari OJK, antara lain Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang, Sumarjono, Direktur Pengawas Asuransi Jiwa, Nurhasan, dan Direktur Pemeriksaan Khusus, Riyanto.

Sementara dari asosiasi perasuransian antara lain Ketua DAI sekaligus merupakan Ketua Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi dan Reasuransi Indonesia (APPARINDO), Yulius Bhayangkara, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Fauzi Arfan, dan Ketua Umum Asosiasi Penilai Kerugian Asuransi Indonesia (APKAI), Rio Darante.

Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Panitia IIS 2026, Muhammad Iqbal, dilanjutkan dengan atraksi tarian dan ditutup dengan penampilan dari Band Letto yang digawangi Sabrang Mowo Damar Panuluh, atau lebih dikenal dengan nama panggung Noe.

Muhammad Iqbal saat memberikan sambutan mengatakan bahwa industri perasuransian memegang peran strategis di perekonomian nasional. Asuransi tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme pengalihan risiko tapi juga sebagai fondasi yang mendukung stabilitas ekonomi nasional.

Dia sampaikan, tantangan saat ini tidak hanya berasal dari volatilitas ekonomi geopolitik tapi juga perubahan iklim, risiko siber serta perubahan perilaku dan ekspekstasi masyarakat selaku nasabah. Menurutnya, industri asuransi berperan mendorong pertumbuhan usaha, melindungi masyarakat dan memperkuat ketahann bangsa dalam menghadapi berbagai ketidakpastian. “Atas dasar itu kami panitia mengangkat tema Insurance in Volatile World Strengthening Risilience, Trust and Innovation,” imbuhnya.

Sebelum acara dinner berakhir, Ketua DAI sekaligus Ketua Umum APPARINDO Yulius Bhayangkara, Ketua AAUI Budi Herawan, Ketua Dewan Pengurus AAJI Albertus Wiroyo, Ketua Umum AASI Fauzi Arfan, dan Ketua Umum APKAI Rio Darante, melakukan toast bersama di panggung.

Pada hari kedua diadakan diskusi panel dengan menghadirkan sejumlah pembicara dari industri keuangan dan parlemen, seperti Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun, Kepala Eksekutif Pengawas Asuransi, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono, Wakil Komisioner Pengawas Asuransi, Lembaga Penjamin, dan Dana Pensiun OJK Iwan Pasila.  Juga Pakar Hukum Internasional Hikmahanto Juwana, Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Indonesia yang juga mantan Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad, Anggota Dewan Komisioner LPS untuk Program Jaminan Polis Asuransi Ferdinan D. Purba, Chief Economist Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat, Financial Service Commision (FSC) Korea Mr Lee Young Jick dan Financial Japanese Speaker Tatsuro Toda.

Selain itu hadir sebagai panelis, Chief Executive Officer PT Fresnel Perdana Mandiri Boyke Lukman, Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Edhi Tjahja Negara, CEO Prudential Syariah Indonesia Iskandar Ezzahuddin, Direktur Utama PT Japenansi Nusantara Adjuster Rio Darante, dan Direktur Legal & Compliance Allianz Indonesia Hasinah Jusuf.

Sebelum mulai diskusi panel, Ketua DAI, Yulius Bhayangkara, menyampaikan terima kasih atas kehadiran para stakeholder industri perasuransian. Yulius menegaskan di acara ini kita saling memberi masukan dan gotong-royong karena DAI menginginkan industri perasuransian tumbuh lebih besar dalam melayani masyarakat Indonesia

Ketua AAUI sekaligus Steering Committee IIS 2026, Budi Herawan, menyampaikan sambutan pembuka yang menegaskan pentingnya sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat ketahanan industri asuransi.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyampaikan sambutan melalui video conference. “Forum ini telah menjadi wadah penting untuk membuat kolaborasi dan mendukung kemajuan sektor perasurasian Indonesia. Dunia saat ini sedang menghadapi ketidakpastian yang semakin tinggi. Dinamika geopolitik, perubahan iklim, perkembangan teknologi, serta berbagai perubahan struktural lainnya telah mengubah lanskap risiko secara fundamental,” jelasnya dalam sambutan.

Friderica menambahkan bahwa dalam kondisi ini, sektor asuransi memegang peranan yang semakin strategis untuk membuktikan asuransi bukan semata instrumen pengelolaan risiko. Tetapi bagian dari struktur ekonomi nasional yang mendukung ketahanan masyarakat, keberlangsungan dunia usaha, dan stabilitas perekonomian.

Sementara itu, Misbakhun mengatakan bahwa industri asuransi dalam kurun waktu lima tahun belakangan mengalami tekanan luar biasa mulai dari kepercayaan, kredibilitas, pandemi Covid-19, hingga permodalan. “Kami mencari cara agar asuransi kembali bangkit, karena pertumbuhan ekonomi Indonesia jika tidak ditopang industri asuransi maka menjadi kemajuan yang tidak saling melengkapi,” terangnya.

Saat ini kondisi Indonesia sangat rumit. Dalam hal ekonomi, fundamental kita menghadapi situasi sentimen negatif walau realitasnya bagus. Persepsi ini harus diluruskan karena kerap di media sosial beredar hoax dan pernyataan yang dipelintir. “Kita berhadapan dengan sentimen yang mengelabuhi pikiran kita. Fundamental ekonomi kita sangat bagus, ekspansi KUR luar biasa,” jelas Misbakhun.

Sementara itu, Muliaman Hadad mengatakan sejumlah kendala di industri asuransi. Antara lain, penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah dengan saat ini baru 2,8 persen dari total GDP (gross domestic product) nasional. Sementara negara-negara ASEAN ratarata telah mencapai 4,5 persen dari GDP.

Selain itu ada kejadian-kejadian yang sedikit mengganggu industri asuransi kita, seperti volatilitas bunga acuan, pelemahan rupiah, skandal tata kelola, dan implementasi IFRS17. Faktor lainnya adalah pengaruh global, seperti Perang Timur Tengah, perubahan iklim, fragmentasi ekonomi, dan akselerasi digital.

Selain itu, asuransi masih belum menjadi kebutuhan utama masyarakat walaupun merupakan industri yang mendukung ketahanan ekonomi, terutama saat terjadi bencana bukan lagi sebuah opsional namun sudah menjadi kebutuhan ekonomi nasional.

Muliaman menyampaikan lima hal yang dapat mengatasi kendala di asuransi. Pertama, manajemen risiko/modal kuat, dengan mendesain ulang produk dan membangun aset berdurasi panjang. Kedua, melakukan transformasi digital untuk menjangkau pemasaran lebih luas. Ketiga, inovasi inklusif dengan menciptakan asuransi mikro, mengembangkan kurikulum literasi dan pengembangan produk syariah. Keempat, kepemimpinan berkelanjutan dan berorientasi iklim. Kelima, membangun kepercayaan, tata Kelola dan pengembangan SDM berkualitas.

Pembicara lainnya, Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional UI, mengingatkan bahwa risiko geopolitik kini telah menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi ekonomi global, perdagangan internasional, investasi, dan pada akhirnya industri asuransi. “Kita memasuki dunia yang sangat volatil. Dulu kita bersandar perdamaian tapi sekarang ini banyak perang terjadi,” ungkapnya.

Dia sampaikan, pada perang Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran, saling tuding dan serang di media dan perang konvensional berlangsung berlarut-larut sehingga menggangu perekonomian global. Hal ini juga terjadi di perang Ukraina melawan Rusia yang belum juga selesai.

Persaingan dagang AS dan China masih akan terjadi hingga beberapa tahun ke depan. Pasalnya, AS, secara kebijakan nasional telah menggarisbawahi bahwa negaranya harus selalu menjadi negara dengan perekonomian terbesar.

Menurut Hikmahanto, aeandainya hukum internasional digunakan dengan komitmen seluruh negara di dunia, maka ketertiban dunia terjadi. Namun saat ini, jelasnya, hukum internasional malah jadi alat legitimasi untuk menyerang negara lain sehingga yang berlaku adalah hukum rimba.

Hari ketiga IIS 2026 diisi dengan kegiatan Golf Networking di Merapi Golf Yogyakarta dan City Tour di seputar Kota Yogyakarta.

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BI-Rate Tetap 5,75% Demi Perkuat Stabilitas Rupiah dan Jaga Sasaran Inflasi

Member Login

or