1
1

Bitcoin Menguat di Atas US$85.000, Ini Level Harga yang Perlu Dipantau

Ilustrasi. | Foto: ChatGPT

Media Asuransi, JAKARTA – Bitcoin (BTC) melanjutkan tren penguatannya pada perdagangan Rabu, 23 September 2026. Harga BTC tercatat di level US$86.606,42, naik 1,58 persen dalam 24 jam terakhir.

Kenaikan ini beriringan dengan bertambahnya kapitalisasi pasar kripto global sebesar 1,67 persen, yang mencerminkan sentimen positif di pasar aset digital secara keseluruhan. Pola ini mengindikasikan bahwa penguatan Bitcoin saat ini lebih didorong oleh momentum pasar yang luas, bukan oleh katalis baru yang khusus berkaitan dengan Bitcoin.

CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai kenaikan Bitcoin perlu dibaca dalam konteks pergerakan pasar yang lebih besar. “Kenaikan Bitcoin saat ini tidak berdiri sendiri. Pergerakannya relatif sejalan dengan penguatan pasar kripto secara keseluruhan dan aset teknologi, sehingga sentimen risk-on serta kondisi makro masih menjadi faktor penting. Investor perlu melihat apakah momentum ini dapat bertahan ketika tidak ada katalis baru yang secara spesifik mendorong Bitcoin,” katanya dalam keterangan resmi.

|Baca juga: Volume Transaksi Bitcoin di FLOQ Naik Lebih dari 15 Persen

Di luar sentimen pasar secara umum, Bitcoin juga ditopang oleh aliran dana ke ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat, serta efek lanjutan dari short squeeze yang terjadi pada 21-22 September 2026.

Minat terhadap ETF Bitcoin spot AS melonjak tajam. Berdasarkan data SoSoValue, produk ini membukukan inflow bersih sebesar US$998,95 juta pada 21 September 2026, angka harian tertinggi dalam kurun sekitar 11 bulan. Di saat bersamaan, CoinGlass mencatat likuidasi posisi kripto senilai sekitar US$1,06 miliar dalam 24 jam, dengan sekitar US$844 juta di antaranya berasal dari posisi short.

Perpaduan arus dana ETF dan likuidasi posisi short ini memberi tenaga tambahan bagi kenaikan harga Bitcoin. Meski begitu, Yudho mengingatkan investor untuk memisahkan antara permintaan baru yang berkelanjutan dan dampak sementara dari likuidasi posisi leverage.

|Baca juga: Bitcoin Makin Diminati di Indonesia, Investor Kripto Kembali Ramai Bertransaksi

“Arus masuk ETF memberikan indikasi adanya permintaan terhadap Bitcoin melalui instrumen pasar spot, sementara short squeeze dapat mempercepat kenaikan harga dalam waktu singkat karena posisi yang berlawanan arah harus ditutup. Karena itu, yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah arus masuk ETF tetap berlanjut setelah efek short squeeze mereda,” jelasnya.

Dari sisi teknikal, area US$85.000 menjadi salah satu level support penting bagi pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek. Selama BTC mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk kembali menguji level tertinggi sebelumnya, di kisaran US87363 masih terbuka.

Jika Bitcoin berhasil menembus US87363 harga berpotensi melanjutkan penguatan menuju resistance berikutnya di sekitar US$90.741, berdasarkan proyeksi Fibonacci. Sebaliknya apabila support US$85.000, gagal dipertahankan tekanan jual berpotensi membawa harga turun menuju kisaran US$82.600.

Yudho menilai pergerakan tersebut perlu dicermati karena Bitcoin telah mengalami kenaikan cukup cepat dan kini mulai memasuki fase konsolidasi. Menurutnya level US$85.000 menjadi acuan penting untuk melihat apakah momentum penguatan masih terjaga.

|Baca juga: Industri Soroti Arah Kebijakan Pajak Kripto dari Menkeu yang Baru

“Jika Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut pasar akan melihat peluang pengujian kembali area US$87.000. Namun, jika support tersebut gagal dipertahankan investor perlu mengantisipasi kemungkinan terjadinya koreksi menuju level yang lebih rendah,” ujarnya.

Ditambahkan bahwa pasar juga akan mencermati laporan arus dana ETF Bitcoin spot AS pada sesi perdagangan selanjutnya. Arus masuk yang konsisten dapat menjadi petunjuk bahwa minat institusional masih kuat setelah reli harga dalam beberapa hari terakhir.

Sebaliknya, jika arus keluar kembali muncul, hal itu bisa menjadi tanda melemahnya momentum permintaan. Sinyal ini sebaiknya dibaca bersamaan dengan pergerakan harga Bitcoin terhadap level support dan resistance utamanya.

Menurut Yudho, investor sebaiknya tidak menjadikan kenaikan harga sebagai satu-satunya acuan dalam membaca kondisi pasar. “Pasar kripto bergerak sangat dinamis. Selain harga, investor perlu memperhatikan arus dana ETF, volume perdagangan, posisi leverage, serta perkembangan kondisi makro. Dengan melihat beberapa indikator secara bersamaan, investor dapat memperoleh gambaran yang lebih utuh mengenai apakah sebuah kenaikan didukung oleh permintaan yang berkelanjutan atau lebih banyak dipicu oleh faktor jangka pendek,” tuturnya.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Anti Jebol, Berikut 5 Cara Hemat Mengatur Belanja Bulanan!

Member Login

or