Media Asuransi, JAKARTA – Adopsi Bitcoin di Indonesia terus menunjukkan perkembangan seiring dengan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap aset digital. Momentum tersebut kembali terlihat ketika harga Bitcoin (BTC) mencatat kenaikan sekitar 13 persen dalam sepekan, yang turut mendorong peningkatan aktivitas transaksi investor kripto di dalam negeri.
Berdasar data internal FLOQ per 23 September 2026, harga Bitcoin (BTC) berada di kisaran US$86.000. Dalam sepekan terakhir, BTC tercatat menguat sekitar 13 persen dan sempat menyentuh level US$87.363 pada 21 September 2026. Penguatan tersebut turut mendorong peningkatan aktivitas perdagangan di pasar kripto, termasuk di kalangan investor domestik.
Sejumlah laporan pasar mencatat penguatan Bitcoin dalam beberapa sesi perdagangan terakhir, seiring meningkatnya arus modal dan aktivitas pasar. Penguatan tersebut turut didukung oleh arus masuk ke ETF Bitcoin spot serta aksi short squeeze, ketika posisi short yang tertekan memicu likuidasi dan mendorong tekanan beli di pasar.
|Baca juga: Bitcoin Tembus Support Penting, Siap Turun ke US$50.000?
Tren tersebut sejalan dengan temuan Cornell Bitcoin Adoption Index, sebuah riset global yang dikembangkan oleh Cornell Brooks Tech Policy Institute. Studi tersebut menghimpun lebih dari 25.000 respons dari 25 negara untuk melihat bagaimana Bitcoin diadopsi dan digunakan di berbagai kelompok masyarakat.
Dalam data yang dirujuk, sekitar 18 persen populasi dewasa di Indonesia pernah atau sedang memiliki Bitcoin. Angka tersebut berada di atas Amerika Serikat sebesar 14 persen dan Jepang sebesar 10 persen.
Riset Cornell dirancang untuk melihat adopsi Bitcoin tidak hanya dari sisi kepemilikan, tetapi juga kaitannya dengan kondisi ekonomi, inklusi keuangan, persepsi masyarakat, serta penggunaan aset digital. Cornell menyebut penelitian tersebut mencakup lebih dari 25.000 responden dan 250 wawancara di 25 negara.
Profil kepemilikan Bitcoin di Indonesia juga menunjukkan keterlibatan kelompok masyarakat berpenghasilan dan berpendidikan tinggi. Berdasarkan data riset yang dirujuk, tingkat kepemilikan pada kelompok berpenghasilan tinggi mencapai 20 persen, sementara kelompok dengan pendidikan sarjana atau lebih tinggi juga berada di angka 20 persen.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan Bitcoin di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan aktivitas spekulasi harga. Dalam konteks negara berkembang, riset Cornell juga menemukan bahwa Bitcoin dapat dipandang sebagai salah satu alternatif dalam menghadapi persoalan ekonomi seperti pelemahan mata uang dan keterbatasan akses terhadap sistem keuangan tertentu.
|Baca juga: Analis Nilai Pelemahan Bitcoin di Awal Tahun Bukan Sekadar Koreksi
Namun, peningkatan adopsi masih menghadapi tantangan dari sisi literasi. Riset tersebut mencatat sekitar 58 persen responden secara global belum mengetahui bahwa Bitcoin memiliki batas suplai maksimum sebanyak 21 juta koin.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengatakan tingginya tingkat kepemilikan Bitcoin di Indonesia menunjukkan bahwa aset digital semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat dari berbagai kelompok.
“Data adopsi Bitcoin di Indonesia menunjukkan bahwa aset digital semakin dikenal dan digunakan oleh masyarakat dari berbagai kelompok. Ketika tingkat kepemilikan Indonesia tercatat lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara maju, ini menjadi sinyal bahwa minat terhadap Bitcoin di dalam negeri memiliki basis yang cukup luas. Tantangannya sekarang adalah memastikan pertumbuhan adopsi tersebut berjalan seiring dengan peningkatan literasi dan pemahaman terhadap risiko,” kata Yudho dalam keterangan resmi.
Menurut Yudho, kenaikan harga Bitcoin dapat menjadi salah satu faktor yang meningkatkan perhatian masyarakat terhadap aset digital. Namun, pertumbuhan adopsi perlu diikuti pemahaman yang memadai mengenai karakteristik dan risiko aset kripto.
“Kenaikan harga tentu dapat meningkatkan awareness dan mendorong lebih banyak orang untuk melihat Bitcoin sebagai bagian dari aset digital. Namun, pertumbuhan adopsi yang sehat bukan hanya diukur dari berapa banyak orang yang membeli Bitcoin, melainkan juga dari seberapa baik investor memahami apa yang mereka miliki, bagaimana volatilitasnya, dan risiko yang menyertainya,” ujarnya.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
