Media Asuransi, JAKARTA – Pasar finansial Indonesia bergerak melemah di tengah meningkatnya tekanan eksternal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi lebih dari satu persen dan ditutup turun -1,51 persen atau -94,03 poin ke level 6.147,86. Beberapa saham yang menjadi penekan terbesar adalah GOTO (-14,00 persen), AMMN (-4,03 persen), BRMS (-6,06 persen), BMRI (-1,47 persen), dan MORA (-5,01 persen) pada perdagangan Senin, 28 September 2026.
Sementara itu rupiah melemah 0,42 persen ke level Rp17,978 per dolar AS, terendah dalam tujuh minggu terakhir. Pasar obligasi domestik turut tertekan di berbagai tenor, dengan yield SBN 5 tahun naik 4,29 basis points (bps) menjadi 7,00 persen dan yield SBN 10 tahun meningkat 3,85 bps menjadi 7,13 persen.
Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, tekanan tersebut terjadi seiring pelemahan sebagian besar pasar saham Asia dan futures pasar saham AS, setelah harapan terhadap terobosan diplomatik dalam konflik AS–Iran mereda dan belum tercapainya kesepakatan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.
|Baca juga: Eastspring Investments Indonesia: Pasar Kembali Berhati-hati di Tengah Tekanan Global
Perkembangan ini kembali mendorong harga minyak Brent naik lebih dari dua persen ke sekitar US4107 per barel, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun pun bergerak di atas 5,2 persen, dengan kombinasi tingginya harga minyak dan yield global kembali membebani sentimen terhadap aset berisiko.
Di sisi domestik, Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin resmi menurunkan batas harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1, disertai penyesuaian batas auto rejection. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi pembentukan harga yang lebih mencerminkan mekanisme pasar sekaligus berpotensi meningkatkan aktivitas perdagangan.
Bagi sejumlah saham yang sebelumnya tertahan di batas harga Rp50, termasuk GOTO, perubahan ini dapat memicu penyesuaian harga dalam beberapa hari perdagangan ke depan, seiring berlangsungnya proses price discovery menuju level keseimbangan baru.
|Baca juga: Morgan Stanley Jual 450 Juta Saham GOTO, Kepemilikan Turun Jadi 6,98%
Bagi Indonesia, kombinasi harga minyak yang tinggi, penguatan dolar AS, dan kenaikan yield global, turut memberikan tekanan terhadap rupiah serta pasar saham dan obligasi domestik. Kenaikan harga energi juga menjadi perhatian karena berpotensi menambah tekanan terhadap fiskal, inflasi, dan neraca eksternal Indonesia apabila berlangsung lebih lama.
Partisipasi pasar juga masih relatif rendah, dengan nilai transaksi harian dalam beberapa minggu terakhir mencatatkan tren penurunan. Nilai transaksi harian pada Senin, hanya mencapai Rp8,73 triliun, mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar.
Di tengah volatilitas yang masih tinggi, investor perlu tetap disiplin dan menghindari keputusan yang terlalu reaktif terhadap pergerakan pasar jangka pendek. Ketidakpastian geopolitik, harga minyak, dan arah suku bunga global, masih berpotensi memicu fluktuasi. Oleh karena itu, fokus pada tujuan investasi, profil risiko, dan diversifikasi portofolio tetap menjadi penting.
Volatilitas pasar juga dapat dimanfaatkan untuk melakukan rebalancing secara bertahap pada kelas aset yang mulai menawarkan valuasi atau tingkat imbal hasil yang lebih menarik, dengan tetap menjaga likuiditas yang memadai.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
