Media Asuransi, JAKARTA – Mayoritas pasar saham di kawasan Asia, termasuk Indonesia, mengalami tekanan pada perdagangan pada hari Kamis, 24 September 2026. Sentimen risk-off Kembali menguat seiring imbal hasil US Treasury (UST) yang bertahan di level tinggi, dengan yield UST 10 tahun naik ke sekitar 5,14 persen, mendekati level tertinggi dalam dua dekade.
Pada saat yang sama, harga minyak kembali meningkat, dengan Brent diperdagangkan di kisaran US$105 per barel, sehingga menambah kekhawatiran terhadap prospek inflasi dan arah kebijakan moneter global.
|Baca juga: Eastsprings Investments: MSCI Overhang Masih Menekan Pergerakan Pasar Saham
Dikutip dari Spring Flash oleh tim PT Eastspring Investments Indonesia, penguatan dolar AS turut memberikan tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah yang Kembali diperdagangkan di atas Rp17.900 per dolar AS. Kombinasi tingginya imbal hasil obligasi AS, kenaikan harga minyak, serta penguatan dolar AS mendorong investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, sehingga membebani sentimen terhadap aset emerging markets, termasuk Indonesia.
Di pasar saham domestik, tekanan jual terjadi cukup luas sejalan dengan pelemahan rupiah dan meningkatnya kehati-hatian investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun -1,20 persen atau -76,31 poin ke posisi 6.298,61, terutama terbebani oleh saham BMRI (-2,86 persen), BBRI (-1,57 persen), BBCA (-1,19 persen), AMMN (-2,87 persen), dan BRPT (-3,70 persen).
|Baca juga: Bukan Sekadar Tren, Mengapa Diversifikasi Global Makin Relevan bagi Investor Indonesia?
Sementara itu, pasar obligasi pemerintah juga bergerak melemah di hampir seluruh tenor. Imbal hasil SBN tenor 5 tahun naik sekitar 9 basis points (bps) menjadi 6,95 persen, sedangkan imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik sekitar 8 bps menjadi 7,08 persen terkoreksi dengan pelemahan yang terjadi di berbagai sektor.
Dalam jangka pendek, ruang penguatan pasar finansial tampaknya masih relatif terbatas di tengah minimnya katalis baru dan ketidakpastian global yang masih tinggi. Meski demikian, pasar saham Indonesia sejauh ini masih menunjukkan daya tahan yang relatif baik. Posisi investor, khususnya investor asing, yang cenderung lebih ringan dapat membantu membatasi risiko tekanan jual yang berlebihan apabila volatilitas kembali meningkat.
Dalam kondisi seperti ini, investor domestik sebaiknya tidak terlalu berfokus pada pergerakan pasar jangka pendek. Menjaga disiplin terhadap tujuan investasi dan profil risiko, serta melakukan rebalancing secara selektif ketika terjadi perubahan valuasi maupun kondisi pasar, menjadi semakin penting untuk menjaga portofolio tetap optimal dalam menghadapi volatilitas.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
