Erdikha Sekuritas: IHSG Masih Akan Konsolidasi

Media Asuransi – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini diperkirakan masih akan bergerak kondolidasi dengan kecenderungan menguat pada range pergerakan 5.970-6060.

Equity Research Analyst PT Erdikha Elit Sekuritas Hendri Widiantoro menjelaskan, secara teknikal IHSG pada perdagangan kemarin ditutup menguat ke level 6.036. Ditransaksikan dengan volume yang cukup ramai jika dibandingkan dengan rata-rata volume 5 hari pedagangan. 

Dia menerangkan, indikator stochastic juga tampak terjadi golden cross yang mengindikasikan adanya potensi penguatan. Indikator bollinger band pun menunjukkan adanya potensi teknikal rebound menjauhi level lower band

Baca juga: Reliance Sekuritas: IHSG Berpotensi Kembali Menguat

Kemarin, IHSG ditopang oleh sektor Trade (1,312%), Infrastructure (0,901%), Finance (0,732%), Mining (0,421%), Consumer (0,265%), Basic Industry (0,205%), Manufacture (0,125%), kendati dibebani oleh sektor Agriculture (-0,009%), Property (-0,18%), Miscellaneous Industry (-0,516%) yang mengalami pelemahan walaupun tidak begitu signifikan.

“IHSG pada hari ini diperkirakan masih akan bergerak konsolidasi dengan kecenderungan menguat pada range pergerakan 5.970-6.060. Saham-saham yang dapat dicermati pada perdagangan hari ini meliputi: BBCA, JPFA, IMAS, MAIN, SCMA,” katanya melalui riset harian yang dikutip Media Asuransi, Kamis (8/4/2021).

Lebih lanjut, dia menjelaskan investor perlu mencermati data ekonomi yang akan rilis hari ini (8 April 2021) dimana dari domestik akan rilis data penjualan retail selama bulan Februari dan dari eksternal yakni AS akan rilis data untuk angka pengangguran selama bulan Maret yang diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 680.000 dari sebelumnya 719.000. 

Baca juga: Erdikha Sekuritas: IHSG Berpotensi Menguat Terbatas

“Sentimen untuk pergerakan pasar saham Asia terutama Indonesia datang dari kenaikan angka PMI sektor jasa China dari 51,5 pada bulan Februari menjadi 54,3.” 

Dari beberapa sentimen positif data ekonomi tersebut membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan, mengingat bahwa korelasi antara saham dan minyak mentah adalah positif atau searah. Kenaikan harga minyak tersebut juga diakibatkan oleh adanya penurunan cadangan minyak berdasarkan survei API Crude Oil Stock Change yang mencatat cadangan minyak selama seminggu kemarin tercatat -2,62 miliar barel dari sebelumnya 3,91 miliar barel. 

“Dimana kenaikan harga minyak mentah menandakan adanya perbaikan aktivitas ekonomi yang tentu nantinya akan berdampak positif juga terhadap harga saham dan aset-aset berisiko lainnya. Mengapa? karena adanya perbaikan ekonomi yang ditandai dengan naiknya harga minyak mentah menandakan bahwa risiko investasi berdasarkan kondisi ekonomi semakin berkurang, sehingga investor lebih berani untuk menaruh dananya diaset-aset berisiko seperti saham, dan nantinya akan berperngaruh negatif ke aset-aset minim risiko seperti obligasi dan emas,” terangnya. 

Baca juga: Laba Bersih Adhi Karya Anjlok 96,38 persen

Pada hari Rabu dari domestik telah rilis data cadangan devisa pada bulan Maret yang rilis dibawah ekspetasi pasar yakni sebesar US$137,1 miliar dari sebelumnya bulan Februari sempat tumbuh sebesar US$138,8 milyar. Penurunan tersebut terjadi karena adanya kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah sesuai pola jatuh tempo pembayarannya. 

“Namun, meskipun ada penurunan cadangan devisa pada bulan Maret, Bank Indonesia mengatakan bahwa cadangan devisa yang ada masih memadai dan ke depannya diperkirakan akan lebih baik seiring berjalannya kebijakan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi karena Covid-19.” Aca

Leave a Reply