Laba Bersih Adhi Karya Anjlok 96,38 persen

Media Asuransi – PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp23,98 miliar atau anjlok 96,38 persen dibanding perolehan tahun 2019 yang sebesar Rp663,80 miliar. Anjloknya laba bersih perseroan merupakan imbas dari penundaan sementara waktu pada beberapa proyek akibat pandemi Covid-19.

Manajemen Adhi Karya mengatakan bahwa pandemi Covid-19 memberi pengaruh besar terhadap kinerja perseroan dan mempengaruhi mulai dari penundaan pengerjaan beberapa proyek, naiknya nilai tukar mata uang asing, menurunnya kegiatan sektor ekonomi, perolehan proyek baru, hingga penjualan.  

 “Secara langsung maupun tidak langsung, pandemi Covid-19 memengaruhi kegiatan operasional grup perseroan dan berakibat pada penundaan sejumlah proyek hingga penjualan baru, sehingga berakibat pada penurunan pendapatan dan laba bersih perseroan di sepanjang tahun 2020,” kata manajemen dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa, 6 April 2021.

Baca Juga:

Menurut manajemen, seiring dengan menurunnya laba bersih tahun 2020, perseroan juga mencatatkan penurunan pendapatan sebesar 29,27 persen menjadi Rp10,82 triliun dibanding tahun 2019 mencapai Rp15,30 triliun. Sepanjang tahun 2020, perseroan juga mencatatkan penurunan beban pokok penjualan menjadi Rp9,09 triliun dari Rp12,97 triliun.

Sedangkan di liabilitas, terjadi kenaikan 9,56 persen menjadi Rp32,51 triliun dari posisi 2019 sebesar Rp29,68 triliun. Aset Adhi Karya tumbuh 4,32 persen menjadi Rp38,09 triliun pada 2020, dibanding posisi 2019 senilai Rp36,51 triliun. Aset lancar tercatat Rp30,09 triliun, turun dari Rp30,31 triliun. Sedangkan aset tidak lancar naik 29,07 persen menjadi Rp8 triliun dari sebelumnya Rp6,2 triliun.  Adapun ekuitas pada akhir 2020 mencapai Rp5,57 triliun, menyusut 18,43 persen dari Rp6,83 triliun pada tahun 2019.

Kontrak baru 2021

Adhi Karya berhasil memperoleh kontrak baru senilai Rp1,1 triliun di Januari 2021. Perolehan kontrak tersebut melonjak 175 persen dibanding periode sama tahun 2020 yang mencapai Rp400 miliar. Perolehan kontrak baru tersebut menambah pundi target kontrak baru perseroan di tahun 2021 yang dipatok Rp19,7 triliun.

Perseroan masih mengandalkan kontrak baru dari pemerintah dengan porsi 70 persen. Sedangkan sisanya diperoleh dari kontrak dari dari sektor swasta sebesar 30 persen. Penetapan target kontrak baru sejalan dengan perkembangan proyek infrastruktur pada 2021.

“Kontrak baru pada 2021 akan didominasi oleh proyek pemerintah sebesar 70 persen. Dari sisi bisnis, kontrak tersebut masih akan didominasi oleh kontrak jasa konstruksi sebesar 80 persen dan sisanya dari bisnis energi EPC, beton pracetak, dan properti. Dari sisi kepemilikan proyek baru kami targetkan kontrak baru dari pemerintah sebesar 77 persen, BUMN sebesar 6 persen, dan swasta sebesar 18 persen,” pungkasnya. One

 

Leave a Reply