1
1

HSBC Ramal Defisit Anggaran RI Capai 2,9% di 2027

Gedung HSBC. | Foto: HSBC

Media Asuransi, JAKARTA – HSBC memperkirakan defisit anggaran Indonesia akan tetap berada di bawah batas tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2027. Tepatnya defisit tahun depan diproyeksikan berada di sekitar 2,9 persen, sedikit lebih tinggi dari target pemerintah sebesar 2,4 persen.

Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann mengatakan perbedaan tersebut terutama berasal dari perkiraan penerimaan negara. Jika ekonomi tumbuh lebih kuat, penerimaan pajak juga berpotensi meningkat sehingga defisit bisa semakin mendekati target pemerintah.

“Bahkan dengan perkiraan pertumbuhan kami sebesar 5,2 persen, defisit 2,9 persen masih sangat mungkin dicapai,” ujar Frederic dalam media briefing di Jakarta, Selasa, 29 September 2026.

Menurut dia, kekhawatiran mengenai kondisi anggaran Indonesia sebenarnya sudah mulai mereda. Pada tahun ini, penerimaan negara tercatat cukup kuat meskipun sebelumnya ada kekhawatiran defisit bisa melebar.

Frederic mengakui sebagian kenaikan penerimaan tersebut mungkin berasal dari faktor yang hanya terjadi sekali sehingga belum tentu terulang pada tahun berikutnya. Namun, dia melihat, pemerintah cukup serius menjaga defisit agar tetap di bawah tiga persen.

|Baca juga: Rupiah Melemah hingga IHSG Ambruk, Airlangga: Ya Ini Namanya Market!

Kondisi anggaran juga berpotensi mendapat bantuan dari turunnya harga minyak pada tahun depan. Harga energi yang lebih rendah dapat mengurangi beban pemerintah. Tekanan harga pangan juga diperkirakan mulai mereda setelah dampak El Nino berakhir.

“Kami cukup yakin batas defisit tiga persen akan tetap terjaga,” katanya.

Meski begitu, Frederic mengatakan, pemerintah tidak cukup hanya menjaga defisit tetap rendah. Pemerintah juga perlu memastikan anggaran tetap digunakan untuk membiayai investasi yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.

|Baca juga: Influenza A Meningkat, Allianz Bagikan Gejala yang Perlu Diwaspadai

|Baca juga: HSBC Ramal Rupiah Bergerak di Kisaran Rp18.000/US$ hingga Akhir 2026

Menurut dia, defisit yang semakin kecil tidak selalu berarti kondisi yang semakin baik. Pemerintah tetap membutuhkan defisit pada tingkat yang wajar agar memiliki ruang untuk membangun infrastruktur dan melakukan investasi lainnya.

“Kami ingin melihat investasi. Defisit tidak boleh terlalu tinggi, tetapi juga tidak boleh terlalu rendah,” ujar Frederic.

Dia melihat perkembangan investasi pemerintah cukup positif karena porsinya terhadap ekonomi terus meningkat pada tahun ini. Menurut Frederic, peningkatan investasi tersebut penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

Dengan kondisi penerimaan yang cukup kuat, potensi turunnya harga energi, serta meningkatnya investasi pemerintah, HSBC menilai arah anggaran Indonesia masih cukup terjaga. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan antara disiplin anggaran dan kebutuhan untuk terus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Rupiah Melemah hingga IHSG Ambruk, Airlangga: Ya Ini Namanya Market!
Next Post Hingga September 2026, Allianz Life Indonesia Bayar Klaim untuk 1.857 Kasus terkait Influenza

Member Login

or