Media Asuransi, JAKARTA – HSBC memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil hingga akhir 2026, meski masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Dengan sisa waktu sekitar tiga bulan hingga akhir tahun, rupiah diproyeksikan hanya mengalami pelemahan terbatas dengan level sekitar Rp18.000 per dolar AS.
Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak berasal dari penguatan dolar AS daripada persoalan fundamental rupiah itu sendiri. Menurutnya, dolar masih mendapatkan dukungan karena kebijakan The Federal Reserve yang masih berada dalam siklus kenaikan suku bunga.
“Kalau Anda bertanya mengenai target rupiah, sekitar Rp18.000 merupakan target yang masuk akal. Itu lebih mencerminkan penguatan dolar daripada pelemahan rupiah,” ujar Frederic, di Jakarta, Selasa, 29 Februari 2026.
Dia menjelaskan penguatan dolar saat ini terjadi terhadap berbagai mata uang dunia. Yen Jepang dan euro, misalnya, juga mengalami tekanan ketika dolar menguat. Dengan kondisi tersebut, Frederic memperkirakan rupiah akan berada dalam kisaran yang relatif stabil hingga penghujung tahun, meski berpotensi sedikit melemah.
Namun, kondisi tersebut dinilai dapat berubah pada tahun depan. Frederic memperkirakan apabila penguatan dolar mulai berbalik atau melemah, rupiah justru berpeluang mendapatkan dorongan positif.
Frederic menekankan tekanan terhadap rupiah yang terjadi pada awal tahun sudah berhasil diredam. Menurut dia, kondisi rupiah saat ini tidak lagi menunjukkan pelemahan yang spesifik sebagaimana yang terjadi sebelumnya.
Salah satu faktor yang membantu meredakan tekanan tersebut adalah respons Bank Indonesia (BI). BI dinilai mengambil langkah cukup tegas dengan menaikkan suku bunga dalam waktu relatif cepat. Kebijakan tersebut kemudian memberikan keyakinan kepada investor bahwa bank sentral memiliki komitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
“Tidak ada lagi pelemahan rupiah yang spesifik seperti yang kita lihat pada awal tahun. Tekanan tersebut sudah berhasil diredam, salah satunya karena BI sempat merespons dengan sangat tegas dengan menaikkan suku bunga secara cepat,” ujar Frederic.
Selain kebijakan BI, perkembangan kebijakan pemerintah juga menjadi perhatian HSBC. Frederic menilai berbagai perubahan dalam kepemimpinan ekonomi Indonesia memberikan sinyal bahwa pemerintah tetap berupaya menjaga stabilitas ekonomi makro.
|Baca juga: ETF Emas Mulai Masuk Radar Industri Dana Pensiun, Begini Kata Bos OJK!
|Baca juga: HSBC Ramal Rupiah Bakal Stabil hingga 2027
Perubahan tersebut, menurut dia, justru dapat memberikan sinyal kepada investor bahwa pemerintah terus melanjutkan agenda untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kondisi tersebut turut mendukung stabilitas rupiah.
Dari sisi fundamental, Frederic melihat, sejumlah indikator ekonomi Indonesia masih cukup terjaga. Suku bunga riil berada pada level tinggi, nilai tukar relatif stabil, sementara kondisi fiskal dinilai masih terkendali.
“Yang kami lihat saat ini adalah suku bunga riil yang tinggi, mata uang yang relatif stabil, dan kondisi fiskal yang terkendali,” katanya.
Meski demikian, Frederic memandang, tantangan Indonesia berikutnya tidak lagi terutama berada pada persoalan makroekonomi. Setelah stabilitas makro relatif terjaga, perhatian pemerintah perlu bergeser pada pembenahan fundamental ekonomi di tingkat struktural.
Dia menyebut sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diperkuat, mulai dari mengatasi kekurangan infrastruktur, meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki regulasi, hingga memastikan ketersediaan energi.
Menurutnya, berbagai aspek tersebut akan menjadi penentu pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahap berikutnya. Dengan kata lain, setelah tantangan makroekonomi seperti stabilitas nilai tukar dan kondisi fiskal relatif terkendali, pemerintah perlu mendorong reformasi yang lebih menyentuh aktivitas ekonomi secara langsung.
“Sekarang lebih banyak mengenai reformasi struktural, seperti seberapa besar kita mengatasi kekurangan infrastruktur, seberapa besar kita menekankan pendidikan, regulasi, dan penyediaan energi,” ujarnya.
Frederic menilai tantangan makroekonomi Indonesia pada dasarnya sudah banyak ditangani. Karena itu, penguatan reformasi di tingkat mikro menjadi langkah berikutnya untuk menciptakan fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat.
“Jadi, tantangan makroekonomi sebenarnya sudah ditangani. Sekarang lebih kepada fundamental mikro, dan itu akan menjadi tingkat berikutnya bagi pertumbuhan Indonesia, yaitu menangani sejumlah reformasi mikro tersebut,” tutup Frederic.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
