1
1

Modal Reasuransi Global Diproyeksikan Capai US$705 Miliar

Ilustrasi. | Foto: Bank Indonesia

Media Asuransi, GLOBAL – Modal reasuransi global diproyeksikan mencapai rekor US$705 miliar pada 2026. Melimpahnya kapasitas tersebut mendorong persaingan semakin ketat dan memberikan tekanan terhadap harga reasuransi di sejumlah pasar domestik, termasuk kawasan Asia-Pasifik.

|Baca juga: UKM Singapura Hadapi Tekanan Laba dan Risiko Siber di Tengah Gejolak Geopolitik

Kondisi tersebut membuat sejumlah perusahaan reasuransi di Asia-Pasifik mulai memperluas portofolio bisnis ke pasar luar negeri. Meski demikian, ekspansi dilakukan secara selektif dengan tetap mengutamakan kualitas risiko dan profitabilitas underwriting.

Director of Analytics A.M. Best Chris Lim mengatakan perusahaan reasuransi Asia akan terus mencari peluang diversifikasi di luar negeri. Namun, peluang yang dibidik bukan semata-mata untuk mengejar pertumbuhan premi.

|Baca juga: Perusahaan Asuransi Diminta Utamakan Data Nasabah untuk Bangun Kepercayaan terhadap AI

“Perusahaan reasuransi Asia akan terus mencari diversifikasi di luar negeri. Mereka akan mengincar peluang yang selektif ketika peluang itu muncul,” ujar Chris Lim, dikutip dari Insurance Asia, Rabu, 7 Oktober 2026.

Menurutnya, perusahaan reasuransi Asia-Pasifik masih memiliki posisi yang kuat di pasar domestik masing-masing, didukung hubungan bisnis jangka panjang. Namun, persaingan di industri asuransi primer telah memberikan tekanan terhadap pertumbuhan premi dan permintaan reasuransi.

Senior Director and Head of Analytics A.M. Best Christie Lee menambahkan, modal reasuransi global yang dialokasikan untuk bisnis reasuransi diproyeksikan mencapai US$705 miliar pada tahun ini. Peningkatan tersebut ditopang oleh modal reasuransi tradisional maupun modal dari pihak ketiga.

“Artinya, secara global, masalahnya bukan kekurangan kapasitas. Yang lebih penting adalah ke mana perusahaan reasuransi menempatkan modalnya,” kata Christie Lee.

Sementara itu, Gallagher Re memperkirakan modal reasuransi global telah mencapai US$688 miliar pada semester pertama 2026, meningkat 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada saat yang sama, perusahaan reasuransi besar membukukan tingkat pengembalian ekuitas (return on equity/ROE) sebesar 19,9 persen. Dalam tinjauan perpanjangan kontrak Juli, Gallagher Re juga mencatat adanya penurunan harga di sejumlah lini bisnis dan wilayah.

Kondisi tersebut menunjukkan perusahaan reasuransi semakin bersedia menyediakan kapasitas perlindungan di tengah kondisi pasar yang semakin kompetitif.

A.M. Best menilai ekspansi internasional akan tetap menjadi salah satu sumber pertumbuhan premi dan laba bagi perusahaan reasuransi Asia-Pasifik.

Christie Lee mengatakan banyak reasuradur Asia masih memiliki posisi dominan di pasar domestik. Sebagian besar bisnis tersebut berasal dari perjanjian reasuransi yang mewajibkan reasuradur menerima bagian tertentu dari premi dan klaim perusahaan asuransi.

“Kami memperkirakan pertumbuhan premi akan sejalan dengan pertumbuhan premi industri untuk portofolio domestik. Portofolio luar negeri adalah mesin pertumbuhan mereka,” ujarnya.

Diversifikasi geografis juga dinilai memberikan manfaat dari sisi manajemen risiko. Ekspansi ke pasar luar negeri dapat membantu perusahaan reasuransi mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik yang memiliki eksposur tinggi terhadap bencana alam seperti topan, banjir, dan gempa bumi.

Selain diversifikasi risiko, pasar internasional juga dapat memberikan akses terhadap lini bisnis dengan potensi margin yang lebih menarik. Meski demikian, ekspansi tidak berarti perusahaan reasuransi akan mengambil seluruh risiko yang tersedia di pasar.

Editor: Irdiya Setiawan

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post PT Asuransi Tri Pakarta Raih Penghargaan Keempat
Next Post PT Asuransi Raksa Pratikara Tempati Urutan ke-3

Member Login

or