1
1

UKM Singapura Hadapi Tekanan Laba dan Risiko Siber di Tengah Gejolak Geopolitik

Pengunjung melihat kerajinan UMKM binaan Bank BNI, di Jakarta beberapa waktu lalu. | Foto: Media Asuransi/Arief Wahyudi

Media Asuransi, GLOBAL – Usaha kecil dan menengah (UKM) di Singapura menghadapi potensi tekanan terhadap profitabilitas apabila gangguan geopolitik di Timur Tengah terus mendorong kenaikan biaya operasional dan menekan arus kas.

Dikutip dari Insurance Asia, Senin, 5 Oktober 2026, United Overseas Insurance Ltd. (UOI) menilai sebagian pelaku UKM masih meremehkan berbagai risiko finansial yang dapat muncul di tengah ketidakpastian ekonomi dan gangguan rantai pasok global.

|Baca juga: Jadi yang Tertinggi di Dunia, 86% Warga Singapura Punya Asuransi Perjalanan!

“Dengan ketidakpastian geopolitik dan gangguan yang terus-menerus dalam lingkungan bisnis, banyak UKM akan merasakan dampaknya lewat kenaikan biaya logistik, melemahnya permintaan pelanggan, dan tekanan yang kian membesar pada arus kas,” ujar Lim.

Peringatan tersebut sejalan dengan temuan SME Index milik Oversea-Chinese Banking Corporation Ltd. (OCBC) yang dirilis 21 April.

Indeks menunjukkan aktivitas bisnis UKM masih mengalami ekspansi, meskipun tingkat kepercayaan pelaku usaha melemah di tengah kenaikan harga minyak, energi, dan biaya pengangkutan akibat konflik di Iran serta gangguan rantai pasok.

SME Index OCBC tercatat naik menjadi 51,6 pada kuartal I, dari 50,8 pada kuartal sebelumnya. Berdasarkan data transaksi dari lebih dari 100.000 nasabah UKM OCBC, pengalihan rute pelayaran telah memperpanjang waktu pengiriman dan meningkatkan kebutuhan modal kerja.

|Baca juga: Investor Insurtech Asia Pasifik Alihkan Modal ke Infrastruktur  

Kondisi tersebut berpotensi berdampak terhadap belanja konsumen apabila kenaikan biaya terus berlangsung. OCBC memperkirakan sentimen bisnis dapat kembali melemah apabila tekanan biaya tidak segera mereda. Sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar juga dinilai menjadi kelompok yang paling rentan.

OCBC menyebut bisnis yang mengoperasikan armada kendaraan dan kapal, termasuk perusahaan pengiriman last-mile, operator bus swasta, serta perusahaan pelayaran, menghadapi eksposur yang lebih besar terhadap kenaikan harga bahan bakar.

Selain tekanan biaya, ekspansi bisnis ke pasar baru juga dapat meningkatkan eksposur risiko UKM. Menurut Lim, ekspansi ke negara lain membuat pelaku usaha harus menghadapi regulasi, karakteristik pasar, serta risiko operasional yang belum tentu mereka pahami sebelumnya.

Kondisi tersebut semakin penting diperhatikan karena sebagian pemilik UKM masih memiliki pemahaman yang terbatas mengenai cakupan perlindungan asuransi.

Lim mengatakan banyak pemilik UKM cenderung melebihkan manfaat yang diberikan oleh polis asuransi dasar. Akibatnya, terdapat potensi kerugian yang tidak tercakup dalam perlindungan ketika risiko benar-benar terjadi.

Salah satu kesalahpahaman yang masih ditemukan adalah anggapan bahwa polis kebakaran dasar secara otomatis memberikan perlindungan terhadap seluruh risiko bisnis.

Padahal, cakupan polis sangat bergantung pada manfaat, pengecualian, serta ketentuan yang tercantum dalam kontrak asuransi. Karena itu, evaluasi terhadap kebutuhan perlindungan perlu dilakukan secara berkala seiring perubahan skala dan model bisnis.

Menurut Lim, pelaku UKM juga perlu mengubah pendekatan dalam mengelola risiko. Risiko bisnis tidak seharusnya ditangani secara terpisah karena sejumlah ancaman dapat terjadi secara bersamaan.

Gangguan geopolitik, volatilitas pasar, gangguan rantai pasok, hingga serangan siber dapat muncul dalam periode yang sama dan saling memperbesar dampaknya terhadap operasional perusahaan.

“Tantangan terbesar menurut saya adalah ketahanan siber (cyber resiliency),” ujar Lim.

Ia menilai banyak pemilik UKM masih meremehkan eksposur terhadap risiko siber. Padahal, ancaman siber semakin kompleks dan saling terhubung dengan aktivitas operasional perusahaan.

Bagi UKM, serangan siber tidak hanya berpotensi menimbulkan kerugian finansial secara langsung, tetapi juga dapat mengganggu operasional, menimbulkan kehilangan data, serta berdampak terhadap kepercayaan pelanggan.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendekatan manajemen risiko yang lebih menyeluruh bagi UKM.

Evaluasi terhadap polis asuransi, kesiapan menghadapi gangguan operasional, pengelolaan arus kas, hingga penguatan ketahanan siber menjadi semakin penting di tengah lingkungan bisnis yang penuh ketidakpastian.

Bagi industri asuransi, perkembangan tersebut sekaligus membuka ruang untuk meningkatkan edukasi kepada pelaku UKM mengenai kesesuaian antara profil risiko bisnis dan perlindungan yang dimiliki, sehingga kesenjangan perlindungan dapat diminimalkan.

Editor: Irdiya Setiawan 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Regulasi Makin Ketat, Asuransi untuk Nasabah Ultra-Kaya Asia Hadapi Tantangan Kepatuhan
Next Post Asuransi Perketat Pengawasan Risiko Pelayaran di Selat Hormuz

Member Login

or