Media Asuransi, GLOBAL – Citi Foundation resmi meluncurkan Global Innovation Challenge keempatnya dengan mengeluarkan Permintaan Proposal atau Request for Proposals (RFP) senilai US$25 juta (sekitar Rp443,7 miliar).
Peluncuran tersebut berfokus untuk membekali generasi muda di seluruh dunia dengan keterampilan, pengalaman, dan peluang yang mereka butuhkan untuk berhasil dalam ekonomi yang semakin dipengaruhi oleh kecerdasan buatan (AI).
Head of Community Investing and Development Citi dan Head of the Citi Foundation Brandee McHale menyatakan seiring teknologi dengan cepat mengubah masa depan dunia kerja, generasi muda terutama yang berasal dari kelompok rentan ekonomi menghadapi tantangan besar sekaligus peluang baru.
“Kecakapan dalam bidang AI adalah kunci untuk membuka peluang-peluang ini,” ucap Brandee McHale, dikutip dari keterangannya, Senin, 14 September 2026.
Melalui Global Innovation Challenge ini, lanjutnya, Citi ingin memastikan generasi muda dapat mengembangkan kecakapan ini, memperoleh keterampilan yang mereka butuhkan untuk berhasil dalam pekerjaan di masa depan, dan menjadi inovator dan pemimpin bagi generasi selanjutnya.
“Saat ini, lebih dari 80 persen populasi Indonesia telah terhubung ke internet, dan lebih dari 93 persen di antaranya telah menggunakan tools AI setiap bulan. Hal ini menunjukkan generasi muda kita memiliki potensi digital yang sangat besar,” ujarnya.
|Baca juga: BTN (BBTN) Bidik Porsi Kredit Non-Perumahan Capai 30% di 2030
|Baca juga: Adhi Karya (ADHI) Beberkan Kinerja dan Strategi Bisnis di Public Expose Live 2026
Ia menambahkan Global Innovation Challenge keempat ini mencerminkan komitmen Citi untuk memberdayakan generasi muda. “(Hal itu) agar dapat memimpin masa depan AI secara bertanggung jawab, sehingga mereka dapat berinovasi dan ikut menumbuhkan ekonomi digital Indonesia,” kata CEO Citi Indonesia Batara Sianturi.
Menurut World Economic Forum, sekitar 66 persen perusahaan diperkirakan merekrut talenta dengan keahlian khusus di bidang AI —menjadikan literasi AI dan digital menjadi lebih relevan dari sebelumnya.
AI menciptakan peluang-peluang baru, tetapi di sisi lain juga menciptakan kesenjangan digital baru bagi generasi muda yang mungkin tidak memiliki akses dan keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses di dunia kerja.
Riset ini juga mengidentifikasi kebutuhan berkelanjutan akan keterampilan yang berpusat pada manusia, di mana lebih dari 60 persen perusahaan menyebutkan adanya peningkatan permintaan untuk kemampuan berpikir kritis, ketahanan, dan fleksibilitas.
Global Innovation Challenge terbaru ini merupakan kelanjutan dari komitmen jangka panjang Citi Foundation terhadap kaum muda, termasuk melalui inisiatif Pathways to Progress yang telah berjalan selama satu dekade, dan Global Innovation Challenge 2025 yang berfokus pada percepatan penyerapan tenaga kerja muda.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
