Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank BCA Syariah mencatatkan pertumbuhan pembiayaan konsumer sebesar 34,69 persen secara tahunan (yoy) menjadi Rp2,46 triliun hingga Agustus 2026. Pertumbuhan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp1,83 triliun.
Kepala Satuan Kerja Bisnis Ritel dan Konsumer BCA Syariah Bukit Mas Siahaan mengatakan pertumbuhan pembiayaan konsumer perseroan masih berada di atas pertumbuhan industri.
“Kalau kita lihat sekarang ini, tadi year on year kalau kita lihat di industrinya itu pangsa pasarnya paling sembilan persen sekian. Tapi alhamdulillah BCA Syariah itu sudah bisa lebih tinggi di atas industri. Consumer kita itu year on year tumbuh sekitar 30-an persen,” kata Bukit dalam Kick of BCA Syariah di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.
Pertumbuhan pembiayaan konsumer BCA Syariah ditopang oleh sejumlah segmen, dengan pembiayaan emas mencatat kenaikan paling tinggi. Pembiayaan emas tumbuh 81 persen yoy menjadi Rp598 miliar pada Agustus 2026, dari Rp329 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) tumbuh 24,17 persen yoy menjadi Rp1,78 triliun. Adapun pembiayaan kendaraan bermotor (KKB) meningkat 32,59 persen yoy menjadi Rp78 miliar.
“Yang menarik itu dia ada di emas. Emas itu kita bisa 81 persen pertumbuhannya,” ujar Bukit.
Menurut Bukit, tingginya pertumbuhan pembiayaan emas tidak terlepas dari minat masyarakat terhadap emas sebagai salah satu pilihan investasi jangka panjang. Pergerakan harga komoditas juga turut menjadi faktor yang mendorong minat terhadap produk tersebut.
“Kenapa sih kok emas itu menarik? Jadi ini menurut kami ada sesuatu yang menarik buat masyarakat Indonesia untuk memilih investasi jangka panjangnya. Di samping itu juga bahwa memang ada yang dipengaruhi oleh komoditas, harga-harga komoditas,” jelasnya.
Pertumbuhan tersebut menjadi salah satu penopang pembiayaan konsumer BCA Syariah di tengah pertumbuhan kredit konsumsi dan pembiayaan KPR serta KKB industri yang cenderung melambat.
Untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan konsumer, BCA Syariah pada 2026 mengubah fokus bisnis KPR dan KKB. Dengan sebelumnya memperbanyak jaringan rekanan, perseroan kini lebih menekankan penetrasi dan pengelolaan mitra yang telah dimiliki.
|Baca juga: Komisi XI DPR RI Dorong Edukasi Pajak untuk Agen Asuransi
|Baca juga: Permata Bank Lepas Seluruh Saham di Honest Financial Technologies, Segini Nilainya!
|Baca juga: BCA Syariah Siapkan Pembiayaan Emas di MyBCA Mulai 2027
Bukit mengatakan perseroan sebelumnya memperluas kerja sama dengan developer untuk pembiayaan KPR dan dealer untuk pembiayaan KKB. Setelah jaringan tersebut semakin besar, BCA Syariah kini berupaya memperkuat hubungan dan penetrasi di masing-masing jaringan.
“Masuk 2026, kita lebih kepada penetrasi, handling-nya. Jadi kita perkuat penetrasi kita di marketplace, karena kita enggak mungkin kerja samanya sudah banyak, tapi enggak kuat megangnya,” katanya.
Penguatan penetrasi dilakukan melalui peningkatan hubungan dengan mitra, kunjungan, serta pengelolaan setiap aplikasi pembiayaan yang masuk. Perseroan juga menjaga kecepatan proses pembiayaan melalui pemenuhan Service Level Agreement (SLA).
“Kita jagain SLA-nya, kemudian juga layanan dan servis. Karena kunci itu menurut saya tiga hal itu adalah penting di dalam bisnis kita menjalankan bisnis,” ujar Bukit.
Selain KPR, KKB, dan pembiayaan emas, BCA Syariah juga menyiapkan pengembangan kanal pembiayaan emas melalui MyBCA. Kanal tersebut ditargetkan mulai diimplementasikan pada 2027 sebagai bagian dari sinergi perseroan dengan induk usaha, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Bukit mengatakan BCA Syariah saat ini tengah mempersiapkan implementasi tersebut dan telah mulai melakukan pilot project dengan sejumlah KCU BCA. Perseroan menyasar nasabah BCA, termasuk segmen prioritas yang memiliki kebutuhan pembelian emas dengan gramasi besar.
“Kita pilot dulu beberapa KCU yang kelas A, kemudian nasabah-nasabah BCA kelas A itu kita tawarkan produk emas kita,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
