Media Asuransi, JAKARTA – PT AIA Financial melihat kebutuhan nasabah affluent atau High Net Worth (HNW) terhadap produk asuransi berdenominasi dolar AS semakin terkait dengan kebutuhan perencanaan keuangan lintas negara.
Hal ini sejalan dengan semakin kompleksnya kebutuhan nasabah kelas atas, mulai dari pendidikan anak di luar negeri hingga pembagian warisan bagi keluarga yang tinggal di luar negeri.
Direktur Distribusi Kemitraan AIA Financial Ivy Widjaja mengatakan kehadiran produk Wealth Prestige Protection atau Prestige Pro tidak semata-mata didorong pergerakan nilai tukar rupiah. Produk tersebut disiapkan untuk melengkapi kebutuhan perencanaan keuangan nasabah, khususnya yang memiliki eksposur dalam mata uang asing.
“Kehadiran Prestige Pro berangkat dari kebutuhan nasabah akan perencanaan warisan dan perlindungan jangka panjang. Denominasi USD melengkapi solusi perencanaan berbasis rupiah yang telah tersedia di jalur distribusi BCA,” kata Ivy kepada Media Asuransi, Rabu, 7 Oktober 2026.
|Baca juga: Siapkan Sistem Anggaran Baru, Begini Penjelasan Bos LPS!
|Baca juga: LPS Minta Bisa Rekrut Talenta Khusus untuk Hadapi Krisis
Menurut dia, kebutuhan tersebut semakin relevan bagi nasabah dengan kondisi keuangan yang lebih kompleks. Sebab, sebagian nasabah memiliki kebutuhan finansial yang tidak hanya berada di dalam negeri.
“Ini juga menjawab kebutuhan nasabah High Net Worth yang semakin complex, seperti rencana pendidikan anak di luar negeri ataupun pembagian warisan bagi keluarga yang tinggal di luar negeri,” ujarnya.
Kehadiran produk berdenominasi dolar AS ini juga berlangsung ketika rupiah masih berada di level yang relatif lemah terhadap dolar AS. Pada 7 Oktober 2026, rupiah berada di kisaran Rp17.800-an per dolar AS dalam perdagangan pasar spot.
Namun, kebutuhan terhadap asuransi berdenominasi valuta asing tidak serta-merta hanya berkaitan dengan pelemahan rupiah.
Sebelumnya, AIA dan BCA menjelaskan, nasabah premium membutuhkan diversifikasi aset, termasuk diversifikasi dalam mata uang. Prestige Pro kemudian hadir dalam denominasi dolar AS untuk melengkapi produk berbasis rupiah yang sudah tersedia.
Kebutuhan tersebut juga terlihat dari perkembangan bisnis wealth management BCA. Dana kelolaan BCA disebut meningkat dari sekitar Rp139 triliun pada 2022 menjadi Rp339 triliun per Juni 2026. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya kebutuhan nasabah terhadap beragam instrumen pengelolaan kekayaan dan proteksi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
