Media Asuransi, JAKARTA – Bencana alam berskala besar tak hanya memicu lonjakan klaim perusahaan asuransi, tetapi juga bisa menekan kondisi keuangan perusahaan reasuransi. Salah satu contohnya terlihat dari banjir besar Thailand pada 2011.
Adjunct Lecturer, SCI sekaligus CEO Alpha Millenia Technology Raymond Cheung mengatakan besarnya eksposur terhadap risiko bencana dan gangguan rantai pasok dapat membuat tekanan klaim merambat hingga ke reasuransi.
“Thai Re, perusahaan reasuransi di Thailand, hampir kolaps akibat kejadian tersebut karena memiliki eksposur besar terhadap risiko rantai pasok,” ujar Raymond dalam acara APARI dan CI Certification Programme di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Menurutnya, dampak banjir Thailand tidak berhenti pada perusahaan yang asetnya terdampak langsung saja, tetapi banyak pabrik yang menjadi bagian dari rantai pasok global terpaksa menghentikan produksi, sehingga perusahaan di negara lain ikut mengalami gangguan bisnis.
|Baca juga: NIM Industri Perbankan Turun, OJK Ungkap Biang Keroknya!
|Baca juga: APARI Dorong Ahli Pialang Asuransi Kuasai Risiko Iklim dan ESG Lewat Sertifikasi
Kondisi tersebut kemudian memunculkan klaim Contingent Business Interruption (CBI), yakni klaim akibat terganggunya bisnis karena pemasok atau pihak lain dalam rantai pasok mengalami kerusakan.
“Ketika satu bagian dari rantai pasok berhenti, dampaknya bisa terasa sampai ke Jepang, Eropa, Amerika Serikat, dan negara lainnya,” kata Raymond.
Ia menilai peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi industri asuransi dan reasuransi bahwa risiko bencana tidak bisa dihitung hanya berdasarkan lokasi kejadian. Keterhubungan rantai pasok global membuat satu bencana lokal berpotensi berubah menjadi risiko lintas negara.
Banjir Thailand 2011 pun mengubah pandangan industri terhadap risiko NatCat di negara tersebut. Thailand yang sebelumnya relatif dianggap sebagai kawasan dengan risiko bencana rendah kemudian mulai memperkuat mekanisme pengelolaan risiko bencana, termasuk melalui pengembangan National Catastrophe Pool.
Menurut Raymond, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan akumulasi risiko bagi perusahaan asuransi dan reasuransi, terutama di tengah meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan iklim.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

