1
1

Hadapi Inflasi Medis, Allianz Indonesia Perkuat Literasi Keuangan dan Kesehatan Bersama Media dan Masyarakat 

Masalah jantung merupakan tantangan serius dalam kesehatan global. Di Indonesia penderita penyakit jantung usia muda terus meningkat setiap tahunnya dan menyumbang sejumlah besar kasus morbiditas dan mortalitas. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Meningkatnya biaya layanan kesehatan dari tahun ke tahun menjadi tantangan yang semakin nyata bagi masyarakat Indonesia. Di tengah laju inflasi medis yang terus meningkat, kesiapan finansial menjadi faktor penting agar masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan tanpa harus mengorbankan kondisi keuangannya.

Menyikapi kondisi tersebut,  Allianz Indonesia terus memperkuat edukasi kepada masyarakat dengan pentingnya memiliki perencanaan keuangan dan perlindungan kesehatan yang berkelanjutan sebagai langkah antisipati menghadapi risiko biaya medis yang semakin tinggi setiap tahunnya.

Head of Product Allianz Life Syariah Indonesia Rina Triana, menjelaskan bahwa meningkatnya biaya medis merupakan tantangan yang tengah dihadapi oleh seluruh ekosistem kesehatan, termasuk asuransi. Selain dipengaruhi inflasi dan perkembangan perawatan medis, tekanan terhadap biaya kesehatan juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi makro. Pelemahan nilai tukar rupiah dapat turut memengaruhi biaya layanan kesehatan, mengingat sebagian komponen obat dan alat kesehatan di Indonesia masih bergantung pada impor.

|Baca juga: Allianz Indonesia Hadirkan Liburan Seru Anak-Anak Lewat Edukasi Siaga Bencana Sejak Dini

“Ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan yang berkualitas saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Rina dalam Media Workshop dengan tema “Menjaga Keberlanjutan Perlindungan Kesehatan di Tengah Kenaikan Biaya Medis”, yang baru-baru ini diadakan oleh Allianz Indonesia.

Dalam hal ini, Allianz Indonesia mengajak media dan masyarakat memahami bahwa kenaikan biaya kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh inflasi secara umum, tetapi juga oleh meningkatnya biaya tindakan medis, penggunaan teknologi kesehatan yang semakin canggih, harga alat kesehatan, biaya obat-obatan, serta faktor ekonomi makro seperti kebutuhan terhadap produk impor.

Laporan MMB Asia Health  Trends  2026 menyebutkan, tingkat inflasi medis di Indonesia diproyeksikan mencapai 17,8 persen pada 2026, menjadikannya yang tertinggi di Asia dan melampaui rata-rata kawasan sebesar 12,5 persen. Kondisi ini membuat masyarakat perlu semakin memahami faktor-faktor yang mendorong kenaikan biaya medis, termasuk tingginya biaya penanganan penyakit kritis, seperti penyakit jantung, agar dapat mempersiapkan perlindungan kesehatan dan keuangan jangka panjang secara lebih baik.

Penyakit Kritis Naik di Usia Produktif

Diskusi tersebut menghadirkan dr. Bayushi Eka Putra, Sp.JP(K), FIHA, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, menjelaskan bahwa penyakit tidak menular masih menjadi salah satu tantangan kesehatan utama di Indonesia. Salah satunya adalah penyakit jantung yang kini semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif. Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi berbagai faktor risiko, seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, obesitas, kurang aktivitas fisik, tingkat stress tinggi, pola makan tidak sehat, hingga kebiasaan merokok.
Lebih lanjut, dr. Bayushi menekankan bahwa penanganan penyakit jantung juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mulai dari pemeriksaan awal, tindakan medis, penggunaan alat kesehatan, hingga terapi obat-obatan lanjutan. Risiko penyakit jantung bukan hanya berdampak pada kondisi kesehatan pasien, tetapi juga dapat memberikan tekanan finansial yang signifikan bagi individu maupun keluarga.

|Baca juga: Data Allianz Indonesia Ungkap Penyakit yang Terbanyak Perlu Klaim Obat

“Banyak faktor risiko penyakit jantung sebenarnya dapat dicegah dan dikendalikan sejak dini. Namun, ketika risiko terjadi, penanganannya sering memerlukan tindakan yang kompleks dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, kesadaran untuk menerapkan gaya hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, mengenali faktor-faktor risiko yang dimiliki, serta mempersiapkan perlindungan kesehatan menjadi sangat penting,” ujar dr. Bayushi.
Ia menambahkan bahwa kemajuan teknologi medis membantu meningkatkan kualitas diagnosis dan pengobatan. Dengan teknologi yang berkembang, dokter dapat melakukan deteksi lebih dini, menentukan tindakan medis yang tepat, dan meningkatkan hasil perawatan pasien. Namun di sisi lain, hal ini juga turut memengaruhi biaya layanan atau perawatan kesehatan.
Menurut dr. Bayushi, penyakit kritis tidak hanya memengaruhi kondisi kesehatan, tetapi juga dapat berdampak produktivitas, kualitas hidup, dan kondisi finansial yang signifikan. Oleh karena itu, upaya pencegahan, penanganan sejak dini, dan kesiapan perlindungan kesehatan sangat perlu diperhatikan.


Periode 2020-2025

Berdasarkan data Allianz Indonesia, rata-rata biaya perawatan berbagai penyakit kritis pada periode 2020–2025 meningkat signifikan, seperti biaya perawatan penyakit jantung meningkat hingga 219 persen, kanker 179 persen, dan stroke 169 persen.

Sepanjang 2025, Allianz Life dan Allianz Syariah telah membayarkan total klaim dan manfaat sebesar Rp6,3 triliun, dengan Rp3,7 triliun di antaranya merupakan klaim kesehatan. “Ketika biaya layanan kesehatan terus meningkat, tantangannya bukan hanya menjaga masyarakat dapat memperoleh akses terhadap layanan yang berkualitas saat ini, tetapi juga memastikan perlindungan kesehatan tetap relevan dan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan dalam jangka panjang,” ujar Rina.

|Baca juga: Visa Jepang Naik per Juli 2026, Allianz Ingatkan Pentingnya Proteksi Perjalanan

Rina menjelaskan bahwa penyesuaian di industri asuransi kesehatan merupakan bagian dari upaya untuk menjaga kecukupan manfaat dan keberlanjutan perlindungan, agar nasabah tetap dapat memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang dibutuhkan di tengah dinamika biaya medis yang terus berubah.

Menurutnya, perlindungan kesehatan perlu dipandang sebagai bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang. Penyakit kritis dapat berdampak tidak hanya pada biaya rawat inap, tetapi juga biaya pemulihan, pengobatan lanjutan, serta tindak lanjut medis dalam jangka panjang.

Ke depan, lanjut Rina, tantangannya bukan hanya menghadirkan perlindungan kesehatan yang relevan dengan kebutuhan saat ini, tetapi juga memastikan manfaatnya tetap berkelanjutan di tengah perubahan lanskap kesehatan.

‘’Saat risiko kesehatan dan biaya perawatan terus meningkat, perlindungan kesehatan menjadi semakin penting sebagai bagian dari perencanaan jangka panjang keluarga. Untuk itu, dibutuhkan pemahaman dan kesiapan yang lebih baik agar masyarakat dapat terus memperoleh akses pada layanan kesehatan yang dibutuhkan tanpa mengorbankan kestabilan finansial di masa depan,” pungkas Rina.

Editor : Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Allianz Indonesia Hadirkan Liburan Seru Anak-Anak Lewat Edukasi Siaga Bencana Sejak Dini

Member Login

or