Media Asuransi, JAKARTA – Ketidakpastian ekonomi global yang dipengaruhi oleh perubahan geopolitik, arah kebijakan suku bunga, serta volatilitas pasar keuangan menuntut investor untuk mengambil keputusan yang semakin terukur.
Berangkat dari hal itu, Bank DBS Indonesia menyelenggarakan DBS Insights Forum 2026: A New Lens on a Multipolar World, forum diskusi lintas disiplin yang menghadirkan Founder and Chairman Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal dan Executive Director Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya.
Kemudian menghadirkan sejumlah pakar terkini, mitra manajer investasi, serta jajaran ahli Bank DBS Indonesia. Rangkaian acara ini membahas perspektif strategis yang membantu pelaku usaha dan investor dalam memahami berbagai perubahan kebijakan dan rantai pasok serta implikasinya pada prospek ekonomi Indonesia.
“DBS Insights Forum 2026 dirancang khusus untuk nasabah private dan priority banking dalam menavigasi pengelolaan kekayaan di tengah perubahan geopolitik dan ekonomi,” kata Presiden Direktur Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong, dikutip dari keterangan resminya, Kamis, 16 Juli 2026.
Dengan menyajikan beragam perspektif, tambahnya, forum ini diharapkan memberikan panduan dan praktik terbaik dalam mengembangan kekayaan dan usaha, hingga perencanaan suksesi keluarga yang berkelanjutan.
“Kami terus berkomitmen untuk mendukung nasabah agar lebih optimistis dalam mengambil keputusan melalui arahan profesional dan pandangan strategis jangka panjang,” ucapnya.
Dalam DBS Insights Forum 2026, para panelis membahas strategi menghadapi dinamika pasar global dan perencanaan kekayaan secara end-to-end, mencakup geopolitik AS-Asia, ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia, hingga pengelolaan warisan lintas generasi.
Melengkapi berbagai insight tersebut, DBS Chief Investment Office (CIO) pada 3Q26 merekomendasikan investor meningkatkan alokasi pada saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi negara maju, emas, serta aset swasta dan dana lindung nilai (hedge funds).
Kondisi itu dengan posisi netral pada saham global, Amerika Serikat, Jepang, dan obligasi pemerintah negara maju, serta mengurangi eksposur pada saham Eropa, obligasi pasar berkembang, dan kas.
Di antara berbagai kelas aset tersebut, emas dinilai tetap menarik sebagai instrumen diversifikasi dan lindung nilai yang didukung prospek jangka panjang di tengah risiko geopolitik, tekanan inflasi, dan tren dedolarisasi global.
Memasuki semester II/2026, peluang investasi diperkirakan tetap terbuka meski volatilitas global masih menjadi bagian dari lanskap pasar. Oleh karena itu, investor perlu menjaga disiplin dalam melakukan diversifikasi dan membangun portofolio yang tangguh agar mampu menangkap peluang di berbagai siklus pasar.
|Baca juga: BI Klaim Utang Luar Negeri Indonesia Tetap Terjaga di Mei 2026
Insights tajam, solusi personal dari pakar dan keistimewaan sesuai preferensi, kunci layanan DBS Treasures Private Client yang dirancang khusus untuk nasabah yang selalu terdepan.
Perubahan lanskap ekonomi dan investasi mendorong meningkatnya kebutuhan investor, khususnya bagi High Net Worth Individuals (HNWI), akan layanan wealth management yang dipersonalisasi dengan insights tepercaya, pendampingan ahli, dan solusi yang disesuaikan dengan tujuan finansial nasabah dalam jangka panjang.
Menjawab kebutuhan tersebut, Bank DBS Indonesia memperkenalkan evolusi DBS Treasures Private Client dalam DBS Insights Forum 2026 sebagai wujud komitmen memberikan pengalaman wealth management yang semakin personal.
Dalam layanannya, DBS Treasures Private Client mengusung tiga pilar utama, yaitu kejernihan pandangan melalui insights tepercaya, kepastian melangkah didampingi tim pakar, dan keistimewaan yang menyertai nasabah.
Ketiganya dirancang untuk membantu nasabah memperoleh arahan strategis dari CIO Terbaik di Asia, pendampingan tim investasi yang profesional, serta beragam keistimewaan eksklusif yang disesuaikan untuk setiap lifestage nasabah.
Komitmen kinerja layanan wealth management Bank DBS Indonesia sepanjang semester I/2026 juga menunjukkan hasil positif. Khusus untuk DBS Treasures Private Client mencatat pertumbuhan total Assets Under Management (AUM) sebesar 13 persen secara tahunan (yoy).
Kondisi itu dengan rata-rata AUM per nasabah meningkat 15 persen, total income tumbuh 34 persen, didorong oleh investment fee income yang meningkat 65 persen, serta Net Profit After Tax (NPAT) yang bertumbuh 24 persen.
Consumer Banking Director Bank DBS Indonesia Melfrida Gultom mengatakan selain memanfaatkan peluang global untuk pertumbuhan kekayaan yang optimal, pengelolaan kekayaan saat ini menjadi multi-faceted, yaitu mencakup solusi yang sangat dipersonalisasi seperti yang dilakukan dengan produk KPD.
|Baca juga: Pindai Resmi Meluncur, AAUI Siapkan Pusat Data Berbasis AI untuk Perkuat Industri Asuransi
“DBS Treasures Private Client menghadirkan wealth management yang sangat personal namun holistik untuk mendukung berbagai keputusan finansial dalam setiap fase kehidupan,” ucapnya.
Layanan sangat personal membutuhkan pemahaman mendalam mengenai nasabah. Selain menyeleksi ketat Relationship Manager (RM) sangat berpengalaman bagi nasabah DBS Treasures Private Client, diperlukan pelatihan RM secara berkelanjutan untuk memastikan keahlian yang selalu relevan dan holistik dengan perkembangan.
Untuk itu, DBS berinisiatif mendirikan Wealth Management Institute yang mencakup topik yang cukup luas, mulai dari menavigasi volatilitas dan peluang global, solusi bisnis dan tren industri, perencanaan pensiun dan succession planning serta berbagai soft skills yang dapat mendukung peningkatan kualitas RM dalam beberapa tahun mendatang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

