1
1

Data Allianz Indonesia Ungkap Penyakit yang Terbanyak Perlu Klaim Obat

Ilustrasi. | Foto: Allianz Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – Tren kenaikan biaya obat sebenarnya telah terlihat dalam data klaim Allianz Indonesia. Sejak 2022, harga obat terus meningkat dari tahun ke tahun, dengan kenaikan tertinggi tercatat pada 2023 sebesar 11 persen  dibandingkan tahun sebelumnya.

Temuan ini menunjukkan bahwa kenaikan biaya obat bukan merupakan fenomena yang terjadi tiba-tiba, melainkan bagian dari tren peningkatan biaya kesehatan yang telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

Data Allianz Indonesia sepanjang 2025 mencatat, tagihan obat untuk layanan rawat jalan (outpatient) terbanyak justru berasal dari penyakit yang sering dianggap ringan dan umum terjadi. Tiga penyakit dengan tagihan obat untuk layanan rawat jalan (outpatient) terbanyak adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut Atas (ISPA) sebanyak 32.519 kasus, radang tenggorokan sebanyak 8.581 kasus, serta demam dan pilek sebanyak 7.728 kasus.

|Baca juga: Allianz Indonesia: Lonjakan Biaya Medis, Ujian Besar Keberlanjutan Ekosistem Kesehatan

Kenaikan biaya obat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk fluktuasi nilai rupiah terhadap mata uang asing yang berdampak pada harga bahan baku dan obat impor. Di sisi lain, inflasi medis di Indonesia secara konsisten berada di atas inflasi umum dan diproyeksikan mencapai 17,6 persen  pada 2026.

Secara global, inflasi medis juga dipengaruhi oleh meningkatnya biaya layanan kesehatan, perkembangan teknologi medis, serta tingginya kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan.

|Baca juga: Allianz Beberkan Manfaat MCU bagi Kesehatan Jangka Panjang

“Harga obat memang bukan komponen tertinggi dalam inflasi medis. Namun berdasarkan data kami, harga obat terus meningkat sekitar 6-15% setiap tahunnya. Karena itu, kami mengapresiasi upaya Kementerian Kesehatan dalam menetapkan batas maksimal penyesuaian harga obat, karena penetapan ini turut membantu mengendalikan tekanan inflasi medis,” ujar Brandon Heng, Chief Technical Officer Allianz Life Indonesia Brandong Heng dalam keterangannya, Senin, 13 Juli 2026.

Masyarakat yang membutuhkan pengobatan jangka panjang, seperti penderita diabetes, penyakit jantung, hipertensi, atau penyakit kronis lainnya, merupakan kelompok yang paling rentan terhadap kenaikan harga obat karena membutuhkan konsumsi obat secara rutin. Berdasarkan data Allianz Indonesia, pada 2025, harga obat untuk pengobatan diabetes meningkat 10 persen, sementara kenaikan harga obat untuk hipertensi bahkan mencapai 15 persen.

|Baca juga: Allianz Sebut Fragmentasi Berpotensi Jadi Cuan Baru bagi Industri Asuransi

Kondisi ini membuat masyarakat yang bergantung pada pengobatan rutin lebih berisiko menghadapi peningkatan pengeluaran kesehatan yang dapat membebani kondisi finansial mereka. Meski demikian, bukan berarti dampak tersebut hanya dirasakan oleh kelompok ini.

“Masyarakat sering kali hanya mengantisipasi biaya ketika menghadapi penyakit berat. Padahal, penyakit yang umum terjadi seperti ISPA, radang tenggorokan, maupun demam dan pilek juga tetap membutuhkan pengobatan. Ketika penyakit tersebut terjadi berulang, terutama dalam satu keluarga, akumulasi biayanya dapat menjadi cukup signifikan.” ujar Head of Health Analytics Allianz Life Indonesia dr. Tubagus Argie.

“Hal ini menjadi pengingat bahwa ketika seseorang jatuh sakit, biaya yang dikeluarkan bukan hanya berasal dari tindakan medis atau biaya konsultasi dokter, tetapi juga dari kebutuhan obat yang sering kali luput dari perhitungan. Di tengah tren kenaikan biaya kesehatan, masyarakat perlu mempersiapkan perlindungan kesehatan sebagai langkah antisipasi terhadap risiko kesehatan sekaligus beban finansial akibat kebutuhan pengobatan yang tidak terduga,” tutup dr. Argie.

Editor  Wahyu Widiastuti

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BCA Life Catat Laba Melesat 53% di Semester I/2026
Next Post MSIG Life dan Bank Sinarmas Luncurkan Smile Critical Prime

Member Login

or