1
1

Industri Asuransi Wajib Waspada, Dampak Gempa dan Tsunami Bisa Bikin Biaya Recovery Membengkak!

Adjunct Lecturer, SCI sekaligus CEO Alpha Millenia Technology Raymond Cheung. | Foto: Media Asuransi/Muh Fajrul Falah

Media Asuransi, JAKARTA – Gempa dan tsunami tidak hanya menimbulkan kerusakan pada aset, tetapi juga dapat membuat biaya pemulihan atau recovery membengkak. Kondisi ini menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan industri asuransi ketika menghadapi bencana alam berskala besar.

Adjunct Lecturer, SCI sekaligus CEO Alpha Millenia Technology Raymond Cheung mencontohkan gempa dan tsunami Tohoku, Jepang, pada 2011. Selain menghancurkan berbagai aset, bencana tersebut memicu kebocoran radiasi yang membuat masyarakat meninggalkan wilayah terdampak.

Akibatnya, proses pemulihan menghadapi tantangan tambahan. Pemerintah tidak hanya perlu memperbaiki bangunan dan infrastruktur, tetapi juga harus menyediakan tenaga kerja dan bahan baku untuk membangun kembali kawasan tersebut.

“Kalau ingin menarik tenaga kerja kembali ke wilayah yang masih memiliki risiko radiasi, pemerintah harus memberikan kompensasi yang lebih tinggi. Risiko yang mereka hadapi membuat biaya tenaga kerja ikut meningkat,” ujar Raymond dalam acara APARI dan CI Certification Programme di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.

Kenaikan biaya tersebut menjadi bagian dari dampak ekonomi tidak langsung yang muncul setelah bencana. Semakin lama proses pemulihan berlangsung, semakin besar pula kebutuhan biaya untuk mengembalikan aktivitas masyarakat dan bisnis.

|Baca juga: Sequis Life Dorong Perempuan Wirausaha Perluas Relasi yang Bermakna

|Baca juga: BI-Rate Tetap 5,75% Demi Perkuat Stabilitas Rupiah dan Jaga Sasaran Inflasi

Dari perspektif asuransi, kondisi ini menunjukkan bahwa kerugian akibat natural catasophe (NatCat) tidak berhenti pada kerusakan fisik yang terlihat. Gangguan operasional dan biaya tambahan selama proses pemulihan juga dapat menjadi bagian dari eksposur risiko yang perlu dikelola.

Raymond menilai perusahaan asuransi perlu memahami potensi kerugian secara lebih menyeluruh ketika melakukan penilaian risiko bencana. Perhitungan tidak cukup hanya melihat nilai bangunan, mesin, atau aset lain yang berpotensi rusak.

“Ketika terjadi bencana, pertanyaannya bukan hanya berapa nilai aset yang hancur, tetapi berapa biaya yang dibutuhkan untuk membuat bisnis dan masyarakat kembali beraktivitas,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, pengelolaan risiko NatCat perlu mempertimbangkan potensi biaya recovery dan dampak lanjutan setelah bencana. Bagi industri asuransi dan reasuransi, pemahaman tersebut penting untuk menentukan kecukupan perlindungan, kapasitas risiko, hingga potensi besaran klaim.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post BI Dorong Ekonomi Digital Makin Ngebut Lewat KKI dan QRIS
Next Post Bank Mega Syariah Sebut Pembiayaan Emas Kian Diminati Masyarakat

Member Login

or