1
1

Risiko Gagal Bayar Meningkat, Konflik Timur Tengah Tekan Industri Asuransi Kredit

Ilustrasi. | Foto: Kindel Media via Pexels

Media Asuransi, GLOBAL – Konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai berdampak pada meningkatnya risiko gagal bayar dan tekanan terhadap industri asuransi kredit perdagangan (trade credit insurance). Kondisi ini terjadi di tengah ekspektasi mayoritas perusahaan yang masih optimistis terhadap pertumbuhan ekspor pada 2026.

Berdasarkan survei global yang dirilis Allianz Trade terhadap 6.000 perusahaan di 13 negara, sebanyak 75 persen eksportir masih memperkirakan pertumbuhan ekspor tetap positif tahun ini. Namun, dinamika risiko mengalami pergeseran signifikan, dengan faktor geopolitik dan politik kini menjadi kekhawatiran utama.

“Risiko geopolitik dan politik kini menjadi kekhawatiran utama bagi 65 persen perusahaan,” demikian hasil survei tersebut, yang dilansir dari Insurance Asia, Kamis, 16 April 2026.

|Baca juga: OCBC (NISP) Kantongi Restu Akuisisi OCBC Sekuritas dan Great Eastern Life Indonesia

|Baca juga: OJK Sebut Unitlink Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Dari sisi industri asuransi, tekanan utama tercermin pada memburuknya perilaku pembayaran dan meningkatnya risiko gagal bayar. Hal ini terlihat dari perubahan siklus pembayaran yang semakin panjang sejak konflik berlangsung.

“Siklus pembayaran telah memanjang sejak awal konflik, dengan proporsi perusahaan yang menerima pembayaran dalam waktu 30 hari turun dari 10 persen menjadi tujuh persen,” tulis laporan tersebut.

Sebaliknya, proporsi perusahaan yang harus menunggu pembayaran lebih dari 70 hari meningkat tajam dari 15 persen menjadi 24 persen. Ke depan, sebanyak 43 persen responden memperkirakan ketentuan pembayaran akan semakin memburuk, naik lima poin persentase dibandingkan dengan sebelum konflik.

|Baca juga: Begini Jurus OJK Tekan Fraud terkait Klaim Asuransi Kesehatan

|Baca juga: Rupiah Melemah, OJK Sebut Biaya Retrosesi Reasuransi Berpotensi Tertekan

Selain itu, porsi perusahaan yang memperkirakan peningkatan risiko gagal bayar juga naik menjadi 40 persen atau meningkat enam poin persentase. Kondisi ini memperbesar tekanan klaim bagi perusahaan asuransi kredit sekaligus menuntut pemantauan yang lebih ketat terhadap kelayakan kredit korporasi.

Adapun sejumlah sektor yang dinilai paling terdampak antara lain farmasi, konstruksi, serta komputer dan telekomunikasi. Sementara itu, perusahaan berskala besar dilaporkan mengalami penundaan pembayaran yang lebih signifikan dibandingkan pelaku usaha lainnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Allianz Hadirkan Proteksi Kesehatan Terbaru: Allianz Preferred Medical & AlliSya Preferred Medical
Next Post Presiden Direktur Great Eastern Life Indonesia Soroti Pentingnya Perlindungan Pemegang Polis dalam Penguatan Industri Asuransi

Member Login

or