Media Asuransi, JAKARTA — Riset terbaru Sun Life Asia mengungkap bahwa ancaman terbesar dalam menjaga kekayaan agar dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi bukan hanya perubahan kondisi pasar atau konflik keluarga, tetapi juga kesiapan penerima warisan dalam mengelola aset yang mereka terima.
Di tengah semakin banyaknya masyarakat Asia yang mulai merencanakan warisan, hanya satu dari lima responden yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan peninggalan mereka saat ini.
Laporan terbaru Sun Life Asia, Passing the Torch: When Legacy Means More Than Money, menemukan adanya perubahan signifikan dalam cara masyarakat Asia memandang warisan yang ingin mereka tinggalkan. Hampir tiga perempat (74 persen) responden ingin mewariskan tidak hanya aset finansial, tetapi juga nilai-nilai, pengetahuan, dan pelajaran hidup sebagai bagian dari rencana warisan mereka.
|Baca juga: Kajian Sun Life :Hanya 14% Orang Indonesia Merasa Sangat Aman Secara Finansial
Di sisi lain, 70 persen responden khawatir kekayaan mereka tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya, dan hanya 20 persen yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan peninggalan mereka saat ini.
Temuan ini menunjukkan semakin kuatnya kesadaran bahwa warisan yang dapat bertahan lintas generasi tidak hanya bergantung pada apa yang diwariskan, tetapi juga pada kesiapan generasi berikutnya untuk mengelolanya.
Studi ini juga menemukan bahwa perencanaan warisan semakin banyak dilakukan di Asia. Jumlah responden yang telah memiliki rencana warisan secara lengkap dan mengomunikasikannya kepada keluarga meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 10 persen pada 2025 menjadi 22 persen pada 2026. Sementara itu, responden yang sama sekali belum memiliki rencana warisan turun dari 31 persen menjadi 15 persen.
Di Indonesia sendiri, hanya 9 persen responden yang belum memiliki rencana warisan, turun dari 20 persen pada 2025. Sementara itu, 30 persen telah memiliki rencana warisan tertulis meski belum mengomunikasikannya kepada ahli waris.
|Baca juga: Bos Sun Life Bilang Overtreatment Jadi Pemicu Lonjakan Premi Asuransi Kesehatan
Presiden Direktur Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo, mengatakan, perencanaan warisan tidak cukup hanya dengan dituangkan secara tertulis. Keluarga perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai tujuan dari kekayaan yang diwariskan, prinsip yang menjadi panduan dalam mengelolanya.
‘’Serta bagaimana generasi berikutnya dapat meneruskan tanggung jawab tersebut. Dengan begitu, rencana yang tertulis dapat benar-benar diterapkan dan bertahan dari generasi ke generasi,” ujar Albertus Wiroyo dalam keterangannya, Senin, 28 September 2026.
Bagi bagian besar keluarga, warisan memiliki arti lebih dari sekadar kekayaan. Keterampilan dan pendidikan (33 persen), nilai-nilai keluarga (32 persen), serta pelajaran hidup (31 persen) termasuk hal yang paling ingin diwariskan kepada generasi berikutnya, selain uang dan properti. Pendidikan juga menjadi salah satu prioritas utama dalam merencanakan warisan, dengan 48 persen responden ingin memberikan kesempatan melalui pendidikan. Bahkan di antara mereka yang berencana mewariskan aset finansial, 45 persen ingin mengalokasikannya untuk pendidikan, setelah memenuhi kebutuhan utama keluarga (52 persen) dan memberikan dukungan finansial kepada anggota keluarga semasa hidup (50 persen).
Di Indonesia, pendidikan memiliki peran yang lebih kuat, dengan 65 persen responden menempatkan kesempatan pendidikan sebagai salah satu dari tiga prioritas utama yang ingin diwariskan. Dari responden yang berencana mewariskan aset finansial atau kekayaan, 61 persen ingin menggunakannya untuk membiayai pendidikan.
Hal serupa juga terlihat dari tujuan keluarga dalam memanfaatkan kekayaan mereka. 6 dari 10 responden (61 persen) ingin kekayaan tersebut dapat membuka peluang jangka panjang bagi orang-orang yang mereka cintai, sementara 52 persen ingin memastikan kebutuhan utama, seperti tempat tinggal dan layanan kesehatan, dapat terpenuhi.
Perencanaan Berkembang
Perencanaan warisan semakin matang, tetapi tingkat kesiapan belum meningkat dengan kecepatan yang sama. Jumlah responden yang telah memiliki rencana warisan lengkap secara tertulis dan mengomunikasikannya kepada keluarga meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 10 persen pada 2025 menjadi 22 persen pada 2026.
|Baca juga: Survei Sun Life: Lebih dari Setengah Perempuan Indonesia Pilih Prioritaskan Keluarga
Sementara itu, responden yang sama sekali belum memiliki rencana warisan turun dari 31 persen persen menjadi 15 persen. Namun, peningkatan dalam perencanaan ini belum diikuti dengan tingkat kesiapan yang sama. Hanya 20 persen responden yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan warisan mereka saat ini, hampir tidak berubah dari 19 persen pada tahun sebelumnya.
Pendampingan profesional juga berkaitan erat dengan tingkat kesiapan. Hampir separuh responden (46 persen) telah mencari nasihat profesional untuk merencanakan warisan, meningkat dari 37 persen pada 2025. Di antara mereka, 79 persen merasa siap secara finansial untuk mewariskan warisan mereka, dibandingkan dengan 44 persen responden yang belum mencari nasihat profesional tetapi ingin melakukannya.
Kekhawatiran justru paling tinggi di kalangan generasi yang masih memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan perencanaan. Sebanyak 76 persen Gen Z dan Milenial khawatir kekayaan mereka tidak dapat bertahan hingga generasi berikutnya, dibandingkan dengan 66 persen Gen X dan 59 persen Baby Boomers.
Namun, generasi muda juga lebih optimistis terhadap dampak jangka panjang dari kekayaan yang mereka wariskan. Sebanyak 65 persen gen Z dan 67 persen milenial percaya bahwa kekayaan mereka dapat memberikan manfaat hingga beberapa generasi, dibandingkan dengan 51 persen Baby Boomers.
Editor : Wahyu Widiastuti
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
