Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah menguat didukung respons kebijakan stabilisasi bank sentral. Nilai tukar rupiah pada 18 Agustus 2026 tercatat Rp17.855 per dolar AS atau menguat 0,78 persen (ptp) dibandingkan dengan level akhir Juli 2026.
Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti mengungkapkan perkembangan ini didukung strategi Bank Indonesia dalam mengoptimalkan seluruh instrumen moneter dan memperluas kebijakan insentif untuk meningkatkan aliran masuk investasi portofolio asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
“Sekaligus mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar valas atau PUVA,” kata Destry, dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulan Agustus 2026, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia menambahkan insentif bagi swap jual lindung nilai dinaikkan menjadi sebesar 12,5 persen dan insentif bagi DNDF jual lindung nilai diberikan sebesar 15 persen. Insentif juga diberikan untuk meningkatkan Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra berupa premi swap beli lindung nilai sebesar 10 persen.
Kemudian, insentif diberikan untuk pengurangan premi DNDF jual lindung nilai sebesar 10 persen. Dirinya menyatakan Bank Indonesia akan terus menempuh berbagai strategi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
|Baca juga: Sequis Life Dorong Perempuan Wirausaha Perluas Relasi yang Bermakna
|Baca juga: BI-Rate Tetap 5,75% Demi Perkuat Stabilitas Rupiah dan Jaga Sasaran Inflasi
“Ke depan, nilai tukar rupiah diperkirakan tetap stabil didukung penguatan respons kebijakan stabilisasi Bank Indonesia,” tegasnya.
Di sisi lain, volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,50 miliar transaksi atau tumbuh 28,69 persen (yoy) pada Juli 2026 didukung oleh perluasan akseptasi pembayaran digital. Volume transaksi melalui internet dan aplikasi mobile masing-masing tumbuh 9,39 persen (yoy) dan 24,25 persen (yoy).
“(Hal itu) termasuk transaksi QRIS yang terus tumbuh tinggi mencapai 82,42 persen (yoy), didukung peningkatan jumlah pengguna dan merchant,” tuturnya.
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel melalui BI-FAST mencapai 546 juta transaksi atau tumbuh 31,62 persen (yoy) dengan nilai transaksi mencapai Rp1.355 triliun. Sementara itu, volume transaksi nilai besar melalui BI-RTGS tercatat sebanyak 0,99 juta transaksi atau tumbuh 3,12 persen (yoy).
“Dengan nominal transaksi BI-RTGS tumbuh 1,54 persen (yoy) mencapai Rp20.097 triliun,” jelasnya.
Dari sisi pengelolaan uang rupiah, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 15,10 persen (yoy) menjadi Rp1.314 triliun. Selain itu, Bank Indonesia juga terus menjaga ketersediaan uang rupiah dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang layak edar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

