1
1

Soroti Kesenjangan Pensiun di Asia, Manulife Dorong Reformasi Sistem untuk Hadapi Masa Pensiun hingga 40 Tahun

Ilustrasi. | Foto: Manulife

Media Asuransi, JAKARTA – Konsep pensiun di berbagai negara, termasuk Indonesia, tengah mengalami perubahan mendasar. Jika sebelumnya pensiun dipandang sebagai fase singkat setelah masa kerja berakhir, kini masa pensiun dapat berlangsung selama 30 hingga 40 tahun.

Perubahan ini dipicu oleh meningkatnya harapan hidup, perubahan pola karier, serta ketidakpastian ekonomi yang semakin tinggi. Dalam konteks ini, Manulife menilai sistem pensiun tidak lagi cukup hanya berfokus pada akumulasi aset, tetapi harus mampu memastikan keberlanjutan pendapatan, ketahanan finansial, dan rasa percaya diri jangka panjang bagi masyarakat.

Dalam laporan terbarunya bertajuk Securing Retirement: What Builds a Strong Pension System, Manulife menekankan bahwa ekosistem pensiun di Asia sedang berada pada titik infleksi yang krusial. Salah satu sorotan utamanya adalah rendahnya tingkat retirement replacement rate atau rasio penggantian pendapatan pensiun terhadap pendapatan sebelum pensiun.

|Baca juga: Lebih dari 200 Relawan Manulife Indonesia Beraksi dalam Global Impact Week Perdana

Di Indonesia, angka ini disebut baru berada di kisaran 10-15 persen, jauh di bawah ambang kecukupan internasional sekitar 40 persen yang kerap dijadikan acuan, termasuk oleh ILO (International Labour Organization). Kesenjangan ini menunjukkan adanya jurang yang nyata antara kebutuhan pendapatan di masa pensiun dan kapasitas sistem saat ini untuk memenuhinya.

Head of Emerging Markets Asia Retirement, Manulife, Elvin Tharm, mengatakan bahwa tantangan tersebut menuntut perubahan pendekatan secara menyeluruh. Menurut dia, arah pembangunan sistem pensiun ke depan perlu bergeser dari sekadar memupuk dana ke fokus pada keberlanjutan penghasilan di masa pensiun.

“Pembangunan ekosistem pensiun yang tangguh memerlukan pergeseran mendasar, dari sekadar fokus pada ‘akumulasi’ aset menuju ‘keberlanjutan pendapatan’. Pensiun modern tidak lagi bisa diperlakukan dengan kerangka lama yang dirancang untuk karier linear dan usia harapan hidup yang lebih pendek,” ujar Elvin dalam keterangan resmi.

|Baca juga: DPLK Manulife Indonesia Gelar “DPLK Manulife Goes to Campus”

Menurut dia, ada tiga prioritas utama yang perlu didorong untuk membangun sistem pensiun yang lebih kuat. Pertama, desain sistem harus mampu mengantisipasi umur panjang, termasuk melalui strategi investasi through-retirement yang tetap mempertahankan eksposur pertumbuhan aset bahkan setelah seseorang memasuki masa pensiun.

Kedua, akses terhadap nasihat investasi harus menjadi bagian inti dari infrastruktur pensiun, baik melalui platform digital, penasihat manusia, maupun kombinasi keduanya, agar masyarakat dapat mengambil keputusan keuangan yang lebih tepat. Ketiga, reformasi struktural perlu dipercepat, termasuk penguatan kontribusi sukarela, perluasan cakupan wajib, dan harmonisasi sistem pensiun.

|Baca juga: OECD Apresiasi Reformasi OJK di Sektor Asuransi dan Dana Pensiun

Menurut laporan Manulife, sistem pensiun yang kuat setidaknya memiliki lima karakteristik utama, yakni kecukupan, akses, fleksibilitas, nasihat, serta transparansi dan akuntabilitas. Kelima elemen tersebut dipandang penting untuk membangun sistem yang tidak hanya mampu menghasilkan pendapatan pensiun yang memadai, tetapi juga inklusif, mudah diakses oleh berbagai kelompok pekerja, didukung perlindungan perilaku yang tepat, serta dibangun di atas tata kelola dan pelaporan yang berorientasi pada hasil nyata.

Elvin menegaskan bahwa dekade mendatang akan menjadi periode penting dalam mendefinisikan ulang makna pensiun, bukan hanya bagi individu, tetapi juga bagi keluarga dan ekonomi secara keseluruhan. “Kita memiliki peluang sekaligus tanggung jawab untuk membangun sistem yang tidak hanya memberikan pendapatan, tetapi juga menghadirkan ketahanan, keadilan, dan rasa percaya diri bagi generasi mendatang,” tuturnya.

Editor: S. Edi Santosa

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post ABB Insurance Brokers Rayakan HUT ke-12, Siap Buka Babak Baru Pertumbuhan Bisnis
Next Post IHSG Kembali Melejit Ditopang Rupiah

Member Login

or