1
1

Pelajaran dari Korea untuk Industri Asuransi Indonesia yang Lebih Maju

Oleh: Mhd. Taufik Arifin

 

Ketika mengikuti Indonesia Insurance Summit 2026 di Yogyakarta pada tanggal 11-13 Juni 2026, sebagian besar diskusi fokus pada tantangan yang sedang dihadapi industri asuransi Indonesia. Mulai dari rendahnya penetrasi asuransi, meningkatnya biaya kesehatan, perubahan perilaku konsumen, digitalisasi, hingga ketidakpastian ekonomi global.

Namun, di antara berbagai pembicara yang hadir, terdapat satu sesi yang memberikan perspektif yang berbeda. Bukan tentang masalah yang sedang kita hadapi hari ini, melainkan tentang bagaimana industri asuransi Indonesia dapat berkembang di masa depan.

Sesi tersebut disampaikan oleh Lee Young Jick, Senior Fellow dari Korea Insurance Research Institute (KIRI), salah satu lembaga riset asuransi paling berpengaruh di Korea Selatan.

Presentasinya memberikan kesempatan bagi peserta untuk melihat industri asuransi dari perspektif negara yang telah berhasil membangun pasar asuransi yang matang, modern, dan menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi nasional.

Bagi penulis, sesi ini bukan sekadar perbandingan antara Indonesia dan Korea Selatan. Lebih dari itu, sesi ini mengajak kita bertanya: “Jika Korea bisa mencapai tingkat kematangan industri seperti sekarang, pelajaran apa yang dapat diambil Indonesia?”

 

Korea Selatan Tidak Selalu Seperti Hari Ini

Ketika melihat Korea Selatan saat ini, banyak orang melihat negara maju dengan teknologi tinggi, industri yang kuat, dan sistem keuangan yang modern.

Namun, Korea Selatan tidak selalu berada pada posisi tersebut. Beberapa dekade lalu, Korea menghadapi tantangan pembangunan yang tidak jauh berbeda dengan banyak negara berkembang saat ini.

Pendapatan masyarakat masih terbatas. Infrastruktur belum berkembang secara optimal. Literasi keuangan masih rendah. Penetrasi produk keuangan juga belum merata.

Melalui kebijakan yang konsisten, pembangunan ekonomi yang terarah, dan peningkatan literasi masyarakat, Korea berhasil membangun salah satu industri asuransi paling maju di Asia.

Menurut Lee Young Jick, keberhasilan tersebut tidak terjadi dalam semalam. Keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan regulator, perusahaan asuransi, asosiasi industri, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

 

Ketika Asuransi Menjadi Bagian dari Kehidupan

Salah satu hal yang menarik dari pemaparan Lee Young Jick adalah bagaimana masyarakat Korea memandang asuransi. Di Korea Selatan, asuransi bukan lagi dianggap sebagai pengeluaran tambahan.

Asuransi telah menjadi bagian dari perencanaan keuangan keluarga dan perusahaan. Masyarakat membeli asuransi bukan karena takut. Mereka membeli asuransi karena memahami manfaatnya.

Perusahaan membeli asuransi bukan karena diwajibkan. Mereka membeli asuransi karena memahami bahwa pelindungan risiko merupakan bagian dari strategi bisnis.

Perbedaan pola pikir ini sangat penting. Karena pada akhirnya pertumbuhan industri asuransi tidak hanya ditentukan oleh jumlah produk yang dijual. Pertumbuhan ditentukan oleh tingkat kesadaran masyarakat terhadap risiko. Kesadaran tersebut dibangun melalui edukasi yang konsisten selama bertahun-tahun.

 

Tantangan Indonesia Masih Sama

Ketika mendengarkan presentasi tersebut, penulis teringat pada berbagai diskusi yang berlangsung selama Indonesia Insurance Summit 2026.

Banyak tantangan yang dibahas sebenarnya memiliki akar masalah yang sama.

– Rendahnya penetrasi
– Rendahnya literasi
– Masih terbatasnya pemahaman terhadap manajemen risiko
– Masih banyak masyarakat yang melihat asuransi sebagai biaya, bukan investasi perlindungan

Padahal risiko yang dihadapi masyarakat Indonesia terus meningkat. Bencana alam, risiko kesehatan, risiko siber, risiko usaha, risiko rantai pasok, dan risiko perubahan iklim.

Semuanya semakin kompleks. Ironisnya, ketika risiko meningkat, tingkat perlindungan belum tumbuh dengan kecepatan yang sama.

 

Teknologi Bukan Jawaban Tunggal

Salah satu poin yang menurut penulis sangat menarik dari presentasi Lee Young Jick adalah pandangannya mengenai teknologi. Banyak negara saat ini berlomba-lomba melakukan digitalisasi. Indonesia juga demikian. Perusahaan asuransi berinvestasi dalam teknologi. Broker mulai memanfaatkan digital platform. Artificial Intelligence (AI) menjadi topik yang sangat populer.

Namun Lee Young Jick mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Teknologi tidak otomatis menciptakan kepercayaan. Teknologi tidak otomatis meningkatkan literasi. Teknologi tidak otomatis membuat masyarakat membeli asuransi. Keberhasilan tetap ditentukan oleh kualitas produk, pelayanan, edukasi, dan kemampuan industri memahami kebutuhan pelanggan.

Pesan ini sangat relevan bagi Indonesia. Dalam banyak kasus, industri sering terlalu fokus pada teknologi dan melupakan aspek fundamental.

 

Broker Memegang Peran yang Sangat Penting

Sebagai Ketua DPKRI APPARINDO, penulis melihat satu kesamaan yang menarik antara perkembangan industri asuransi Korea dan kebutuhan Indonesia saat ini. Keduanya membutuhkan peran broker yang kuat.

Dalam pasar yang semakin kompleks, perusahaan dan masyarakat membutuhkan pihak yang mampu membantu mereka memahami risiko. Mereka membutuhkan penasihat yang independen. Mereka membutuhkan pihak yang dapat menjelaskan berbagai pilihan perlindungan secara objektif.

Di sinilah peran broker menjadi sangat penting. Broker bukan hanya penghubung antara tertanggung dan perusahaan asuransi. Broker adalah penerjemah risiko. Broker membantu dunia usaha memahami risiko yang mereka hadapi. Broker membantu perusahaan memilih perlindungan yang sesuai. Broker membantu memastikan bahwa ketika kerugian terjadi, proses klaim berjalan dengan baik. Peran ini akan semakin penting di masa depan.

 

APPARINDO dan Tantangan Masa Depan

Salah satu refleksi yang muncul setelah mengikuti sesi ini adalah pentingnya peran asosiasi profesi. Di berbagai negara maju, asosiasi tidak hanya berfungsi sebagai organisasi keanggotaan. Asosiasi menjadi pusat pengembangan kompetensi, pusat riset, pusat edukasi, dan pusat advokasi industri.

APPARINDO memiliki peluang yang sama. Bahkan kebutuhan terhadap peran tersebut semakin besar. Karena industri broker Indonesia sedang berkembang, regulasi semakin kompleks, ekspektasi masyarakat semakin tinggi, dan teknologi berkembang sangat cepat.

Oleh karena itu, APPARINDO perlu terus memperkuat kapasitasnya sebagai organisasi yang tidak hanya mewakili anggota, tetapi juga membantu membentuk masa depan industri.

Apa yang dapatisa kita pelajari? Dari seluruh presentasi Lee Young Jick, terdapat beberapa pelajaran yang menurut penulis sangat relevan bagi Indonesia.

Pertama, pembangunan industri asuransi membutuhkan visi jangka panjang. Kedua, literasi dan edukasi harus menjadi prioritas utama. Ketiga, kepercayaan masyarakat tidak dapat dibangun secara instan. Keempat, teknologi harus digunakan untuk mendukung pelayanan, bukan menggantikannya. Kelima, kompetensi sumber daya manusia tetap menjadi faktor terpenting.

Serta yang paling penting, seluruh pemangku kepentingan harus bergerak ke arah yang sama. Regulator, asosiasi, perusahaan asuransi, broker, akademisi, dan masyarakat.

 

Indonesia Memiliki Peluang yang Sangat Besar

Meskipun tingkat penetrasi asuransi Indonesia masih relatif rendah, penulis justru melihat kondisi ini sebagai peluang. Indonesia memiliki populasi yang besar, ekonomi yang terus berkembang, kelas menengah yang meningkat, infrastruktur yang terus dibangun, dan transformasi digital yang berlangsung cepat.

Semua faktor tersebut merupakan fondasi yang sangat baik bagi pertumbuhan industri asuransi. Tantangannya bukan pada potensi pasar. Tantangannya adalah bagaimana industri dapat membangun kepercayaan dan memberikan nilai tambah yang nyata bagi masyarakat.

Jika hal tersebut berhasil dilakukan, pertumbuhan industri asuransi Indonesia dalam satu dekade ke depan dapat menjadi salah satu yang terbesar di kawasan Asia.

 

Penutup

Salah satu manfaat terbesar mengikuti Indonesia Insurance Summit 2026 adalah kesempatan untuk belajar dari pengalaman negara lain. Presentasi Lee Young Jick dari Korea Insurance Research Institute memberikan pengingat bahwa industri asuransi yang kuat tidak dibangun dalam semalam. Namun dibangun melalui visi yang jelas, regulasi yang konsisten, peeningkatan kompetensi, literasi yang berkelanjutan, dan kepercayaan yang terus dijaga.

Indonesia mungkin masih memiliki berbagai tantangan. Namun, Indonesia juga memiliki peluang yang sangat besar. Bagi industri broker asuransi, pesan yang paling penting adalah bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjual polis.

Masa depan ditentukan oleh kemampuan menciptakan nilai, membangun kepercayaan, dan membantu masyarakat memahami risiko yang semakin kompleks. Karena pada akhirnya, keberhasilan industri asuransi bukan diukur dari berapa banyak premi yang berhasil dikumpulkan.

Keberhasilan industri asuransi diukur dari seberapa besar kontribusinya dalam menciptakan masyarakat dan dunia usaha yang lebih tangguh menghadapi masa depan.

 

Catatan: Artikel ini merupakan seri ke-9 dari 12 artikel yang akan ditulis.

*Penulis adalah Ketua Departemen Pusat Kajian Riset Industri (DPKRI) APPARINDO serta CEO PT. Liberty and General Insurance Broker (L&G) – Ingrisk.co.id

PT L&G Insurance Broker (Ingrisk.co.id) menyediakan solusi manajemen risiko dan asuransi untuk sektor energi, pertambangan, konstruksi, manufaktur, logistik, infrastruktur, dan berbagai industri strategis lainnya di Indonesia.

Managing Risk, Protecting Future

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Afirmasi S&P Diklaim Jadi Modal Kuat Indonesia Tingkatkan Kepercayaan Pasar
Next Post Tarif Baru Trump Tekan IHSG Sesi I

Member Login

or