1
1

Meneropong Masa Depan Insurtech

Industri Insurtech Global. | Foto: Ist

Insurance technology namaan untuk suatu kegiatan yang menggunakan teknologi digital dalam rangka memasarkan produk asuransi. Namun demikian, ti (insurtech) pada hakikatnya adalah label pedak sedikit yang menganggap bahwa insurtech itu sebagai sebuah entitas perusahaan rintisan alias startup yang memasarkan produk-produk asuransi.

Berpijak pada pendapat bahwa insurtech adalah perusahaan startup maka perjalanan bisnis insurtech pun menganut madzhab valuasi dalam rangka mendapatkan pendanaan. Berbicara valuasi, acapkali pricing bukan menjadi tujuan utama insurtech sehingga harga produk yang ditawarkan oleh insurtech bisa jauh lebih murah dari harga pasar.

Awalnya, keberadaan insurtech di Indonesia dianggap sebagai kompetitor bagi perusahaan pialang asuransi karena posisinya sama sebagai perantara pemasar produk asuransi. Insurtech dianggap punya segudang keleluasan dibanding perusahaan pialang asuransi yang highly regulated. Namun kini, keberadaan insurtech sudah menjadi bagian dari Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi Indonesia (APPARINDO) sejalan dengan sejumlah insurtech yang telah mengantongi izin usaha pialang asuransi baik melalui cara-cara organik maupun anorganik. Di sisi lain, tak sedikit juga insurtech yang telah bertransformasi menjadi perusahaan yang memiliki izin penyelenggaraan asuransi alias full stack.

Menyikapi dinamika insurtech ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebenarnya memiliki regulatory sandbox yang merupakan mekanisme pengujian untuk menilai insurtech dari sisi keandalan proses bisnis, model bisnis, instrumen keuangan, dan tata kelola penyelenggara inovasi keuangan digital (IKD). Dalam proses ini, OJK akan menentukan ‘jenis kelamin’ dari IKD terdaftar apakah sebagai insurtech atau bukan yang pada proses berikutnya diikuti dengan pengurusan izin usaha sesuai jenis usahanya apakah perusahaan asuransi atau pialang asuransi.

Terbaru, OJK mengeluarkan POJK No. 28/2022 yang secara lebih detail mengatur aturan main para pelaku insurtech. Pada Pasal 51B
disebutkan bahwa setiap penyelenggaraan pialang asuransi digital baik oleh perusahaan pialang asuransi maupun pihak yang belum memiliki izin usaha perusahaan pialang asuransi, harus mengantongi restu dari OJK.

Melihat dinamika perkembangan insurtech tersebut, kami dalam Rapat Redaksi di Media Asuransi memutuskan untuk mengangkatnya menjadi Cover Story atau Laporan Utama edisi April 2023 bertajuk “Meneropong Masa Depan Insurtech di Indonesia”.

Cover Story ini terdiri dari 5 tulisan yang merupakan satu kesatuan. Pertama, Dinamika Perkembangan Insurtech secara Global. Kedua,
Jenis-Jenis
Insurtech di Indonesia dan Perkembangan Regulasinya. Ketiga, Outlook Insurtech ke Depan. Keempat, Pandangan Pialang Asuransi/Pialang Asuransi Digital dengan Lahirnya POJK 28/2022. Kelima, Pendapat Eksekutif Perasuransian dan Eksekutif Insurtech tentang Bagaimana Kondisi, Peluang, dan Tantangan Insurtech.

Harapannya laporan yang kami sajikan pada edisi April 2023 ini dapat memberikan gambaran tentang kondisi dan peta bisnis insurtech di Tanah Air. Semoga, disrupsi yang dibawa oleh insurtech bisa turut berkontribusi positif terhadap kemajuan industri asuransi nasional.

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Asuransi itu Maling atau Penolong?
Next Post Peringkat Summarecon Agung (SMRA) Ditegaskan idA+ Outlook Stabil

Member Login

or