1
1

Harga Minyak Dunia Bervariasi, Emas Global Stagnan

Ilustrasi. | Foto: Freepick

Media Asuransi, GLOBAL – Harga minyak berjangka ditutup sedikit berubah pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB). Hal itu karena kekhawatiran mengenai suku bunga dan permintaan global menyebabkan pasar mengambil jeda setelah harga melonjak sekitar enam persen pada minggu lalu.

Mengutip Channel News Asia, Selasa, 13 Februari 2024, harga minyak Brent berjangka turun 19 sen atau 0,2 persen menjadi di US$82,00 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 8 sen atau 0,1 persen menjadi menetap di US$76,92.

Itu merupakan penutupan tertinggi bagi WTI sejak 30 Januari di hari ketiga berturut-turut dan menempatkan kontrak tersebut pada hari keenam berturut-turut untuk pertama kalinya sejak September.

Sedangkan The Fed di New York mengatakan Survei Ekspektasi Konsumen di Januari menunjukkan prospek inflasi satu tahun dan lima tahun dari sekarang tidak berubah, dan keduanya tetap berada di atas tingkat target The Fed sebesar dua persen.

Jika kekhawatiran inflasi menunda penurunan suku bunga The Fed, hal ini dapat mengurangi permintaan minyak dan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Sedangkan data inflasi AS diperkirakan dirilis pada Selasa, sementara data inflasi Inggris dan Produk Domestik Bruto (PDB) zona euro akan dirilis pada Rabu.

Harga emas dunia stabil

Di sisi lain, mengutip The Business Times, harga emas dunia stabil dalam kisaran ketat pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa pagi WIB), saat perdagangan sepi. Kondisi itu karena investor menunggu pernyataan dari sejumlah pejabat Federal Reserve AS dalam minggu yang penuh data.

Harga emas di pasar spot datar di level US$2,022.39 per ons, berosilasi dalam kisaran US$5, pada pukul 03.40 GMT. Sedangkan emas berjangka AS juga stabil di level US$2.036,20 per ons. “Emas sangat tangguh, mengingat kita telah melihat penurunan hampir 60 basis poin (untuk 2024) sejak level tertinggi di bulan Januari,” kata Analis Pasar Keuangan Capital.com Kyle Rodda.

“Posisinya netral, dan jika data memburuk sehingga melemahkan dolar dan memperdalam spekulasi penurunan suku bunga AS maka emas akan bersinar lagi. Risiko besar minggu ini adalah indeks harga konsumen (CPI) -jika hal tersebut terjadi, pengujian lagi pada level US$2.000 per ons mungkin akan terjadi,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post 4 Saham Pilihan Menu Trading Hari Ini 13 Februari 2024
Next Post Emiten Terafiliasi dengan Benny Tjokro RIMO Terancam Delisting

Member Login

or