1
1

Risiko Global Mereda, Mirae Asset Sekuritas: Investor Tetap Perlu Cermati Tantangan Domestik

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto. | Foto: Mirae Asset Sekuritas Indonesia

Media Asuransi, JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan global mulai menunjukkan perbaikan seiring meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Namun demikian, investor masih perlu mencermati berbagai tantangan yang berasal dari kebijakan moneter global maupun kondisi domestik Indonesia yang diperkirakan masih memengaruhi arah pergerakan pasar dalam beberapa waktu ke depan.

Pandangan tersebut disampaikan dalam Media Day Mirae Asset Sekuritas bertajuk ‘Fear vs Fundamentals: Where Is Indonesia Really Headed?’ yang membahas perkembangan pasar terkini, peluang investasi sektoral, hingga strategi diversifikasi portofolio.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan meski ketegangan geopolitik mulai mereda, pasar masih dibayangi ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama di Amerika Serikat (AS).

“Saat ini, Federal Funds Rate (FFR) berada di level 3,75 persen dan diperkirakan berpotensi naik masing-masing 25 basis poin pada September dan Desember hingga mencapai 4,25 persen pada akhir tahun,” ujarnya, dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu, 1 Juli 2026.

|Baca juga: Tumbuh 29,8%, BEI Cetak Pendapatan Konsolidasi Rp3,66 Triliun di 2025

|Baca juga: BEI Sebut IHSG Cetak 24 Kali All Time High di 2025

Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 direvisi menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen, sementara pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran 5,0 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya sebesar 5,1 persen.

“Meredanya risiko geopolitik memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed hingga akhir tahun membuat kondisi moneter global masih cenderung ketat sehingga volatilitas pasar diperkirakan tetap tinggi,” ujar Rully.

Menurut Rully, investor juga masih mencermati sejumlah faktor domestik, mulai dari stabilitas nilai tukar rupiah, kondisi fiskal, hingga meningkatnya perhatian terhadap potensi twin deficit setelah neraca transaksi berjalan dan neraca finansial sama-sama melemah pada kuartal I/2026.

“Ke depan, pemulihan pasar Indonesia akan sangat ditentukan oleh kepercayaan investor terhadap kebijakan domestik. Karena itu, investor perlu tetap berfokus pada fundamental dan lebih selektif dalam menentukan strategi investasinya,” ujar Rully.

Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andreas Kristo Saragih menambahkan sektor poultry menjadi salah satu sektor yang menarik untuk dicermati di tengah kondisi pasar saat ini.

Menurutnya, konsumsi daging ayam di Indonesia yang baru mencapai sekitar 8,6 kilogram per kapita, jauh di bawah Malaysia (32,9 kilogram) dan Vietnam (16,7 kilogram), menunjukkan ruang pertumbuhan yang masih besar.

|Baca juga: Pendapatan Asuransi Tri Pakarta (TRIPA) Naik 9,52% Jadi Rp1,57 Triliun pada 2025

Didukung peningkatan konsumsi, termasuk melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pasokan yang diperkirakan lebih terkendali akibat penurunan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) dan implementasi program culling, industri poultry berpotensi mencatatkan peningkatan profitabilitas.

“Kami melihat sektor poultry memasuki fase yang lebih menarik dibandingkan dengan beberapa tahun terakhir. Dengan pasokan yang lebih terkendali dan permintaan yang terus bertumbuh, profitabilitas industri berpotensi meningkat sehingga membuka peluang investasi yang menarik bagi investor,” kata Andreas.

Di tengah volatilitas pasar, Head of Fund Services Mirae Asset Sekuritas Indonesia Francisca Gerungan mengatakan diversifikasi menjadi kunci dalam membangun portofolio investasi. Investor perlu menyesuaikan alokasi investasi dengan tujuan keuangan, profil risiko, dan kebutuhan likuiditas.

Hal itu, lanjutnya, karena setiap instrumen memiliki karakteristik risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda. Ia menambahkan diversifikasi membantu investor mengelola risiko sekaligus tetap menangkap peluang investasi di berbagai kondisi pasar.

“Dengan memilih kombinasi instrumen yang tepat sesuai profil risiko, investor dapat membangun portofolio yang lebih seimbang untuk mencapai tujuan keuangan jangka panjang,” pungkas Francisca.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Saat Konflik Global Menguji Ketahanan Reasuransi Indonesia
Next Post Bangun Relasi dan Gaya Hidup Sehat Lewat Padel

Member Login

or