1
1

BEI Sebut IHSG Cetak 24 Kali All Time High di 2025

Gedung Bursa Efek Indonesia. | Foto: rdis.idx.co.id

Media Asuransi, JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat 2025 menjadi periode yang penuh dinamika bagi pasar modal Indonesia. Bahkan, situasi dan kondisi yang terjadi sempat memberi tekanan terhadap industri pasar modal Tanah Air.

Pada paruh pertama 2025, pasar menghadapi tekanan eksternal yang dipicu meningkatnya tensi perang dagang akibat kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS), pelemahan nilai tukar rupiah, serta berlanjutnya ketidakpastian geopolitik global.

“Kondisi tersebut mendorong meningkatnya volatilitas pasar hingga Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi ke level 5.996 pada awal April 2025 dan bursa memberlakukan trading halt,” kata Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik, Senin, 29 Juni 2026.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, BEI bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organization (SRO) melakukan koordinasi intensif serta menerapkan berbagai kebijakan stabilisasi pasar, antara lain penguatan komunikasi dengan pelaku pasar dan penyesuaian kebijakan buyback saham tanpa persetujuan RUPS.

Kemudian dilakukan penyesuaian batas Auto-Rejection Bawah (ARB), serta penyempurnaan ketentuan trading halt guna menjaga stabilitas pasar dan meredam volatilitas yang berlebihan. Memasuki paruh kedua 2025, kondisi pasar berangsur pulih seiring membaiknya sentimen global.

“Serta didukung berbagai kebijakan domestik yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Pemulihan tersebut tercermin dari IHSG yang mencatatkan 24 kali All-Time High sepanjang tahun dengan level tertinggi 8.711, dengan kapitalisasi pasar mencapai rekor tertinggi sebesar Rp16.004 triliun pada 8 Desember 2025,” ucapnya.

|Baca juga: Tumbuh 29,8%, BEI Cetak Pendapatan Konsolidasi Rp3,66 Triliun di 2025

Aktivitas perdagangan juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Sepanjang 2025, rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) saham mencapai Rp18,1 triliun, sedangkan transaksi produk non-saham mencapai Rp7,6 triliun.

Pasar obligasi di BEI, melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA), mencatat total volume transaksi mencapai Rp1.375 triliun, sementara nilai perdagangan karbon di Bursa Karbon (IDXCarbon) tercatat sebesar Rp36,37 miliar.

Di sisi penghimpunan dana, BEI mencatatkan 26 perusahaan yang melakukan pencatatan saham baru (IPO) dengan total kapitalisasi pasar sebesar Rp155,2 triliun pada saat pencatatan. Dana yang berhasil dihimpun melalui IPO mencapai sekitar Rp18,1 triliun, meningkat 26 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Kontribusi terbesar berasal dari sektor basic materials, diikuti sektor financials, dan infrastruktur. Selain melalui IPO saham, penghimpunan dana melalui Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) mencapai Rp217,4 triliun, sedangkan melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dan Waran mencapai Rp43,7 triliun.

“Pencapaian ini semakin memperkuat fungsi pasar modal sebagai sumber pembiayaan yang komprehensif,” ucapnya.

Ia menambahkan BEI juga terus memperkuat ekosistem pasar modal melalui pengembangan produk, layanan, dan infrastruktur, sekaligus memperluas inklusi keuangan melalui edukasi dan digitalisasi.

Hingga akhir 2025, telah diselenggarakan lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi dengan jumlah Galeri Investasi bertambah menjadi 1.015 lokasi di seluruh Indonesia, serta jumlah pengguna IDX Mobile meningkat menjadi 463 ribu.

“Berbagai upaya tersebut mendorong pertumbuhan jumlah investor pasar modal menjadi 20,3 juta, atau meningkat hampir 37 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” pungkasnya.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Zurich Jangkau Puluhan Ribu Pengunjung di Semasa Piknik 2026
Next Post IHSG Terkoreksi ke 5.820

Member Login

or