Media Asuransi, JAKARTA – PT Asuransi Tri Pakarta (TRIPA) membukukan pendapatan jasa asuransi sebesar Rp1,57 triliun sepanjang tahun buku 2025, meningkat 9,52 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Realisasi tersebut mencapai 131,70 persen dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2025.
Selain pendapatan yang tumbuh, perusahaan juga mencatat hasil jasa asuransi bersih sebesar Rp149,44 miliar atau 277,74 persen dari target RKAP. Adapun laba setelah pajak mencapai Rp78,33 miliar atau 112,10 persen dari target.
Pendapatan investasi perseroan juga meningkat menjadi Rp71,75 miliar atau tumbuh 13,85 persen secara tahunan. Sementara total aset perusahaan tercatat sebesar Rp4,37 triliun hingga akhir 2025.
|Baca juga: Asuransi Tri Pakarta Bidik Premi Rp2 Triliun di 2026, Begini Siasatnya!
Direktur Utama PT Asuransi Tri Pakarta, G.C. Koen Yulianto, mengatakan bahwa pencapaian tersebut menunjukkan perusahaan mampu menjaga pertumbuhan bisnis meski industri asuransi menghadapi tantangan sepanjang 2025. Menurutnya, hasil itu didorong oleh penguatan tata kelola, efisiensi operasional, serta strategi bisnis yang adaptif.
“TRIPA tetap mampu menjaga fundamental bisnis dan mencatat kinerja yang melampaui target RKAP pada sejumlah indikator utama,” ujar Koen dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2025 yang digelar di Jakarta, Selasa, 30 Juni 2025.
Lebih lanjut, Koen mengatakan bahwa pemegang saham meminta TRIPA tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian pada 2026, mengingat kondisi ekonomi global masih belum stabil dan berpotensi memengaruhi industri asuransi.
|Baca juga: Tri Pakarta Syariah Resmi Meluncur, Bidik Jadi Pemain Utama!
Koen menjelaskan, salah satu tantangan yang perlu diantisipasi adalah pergerakan nilai tukar yang dapat berdampak pada nilai pertanggungan asuransi. Di sisi lain, perusahaan juga memiliki target memenuhi ketentuan ekuitas minimum sebesar Rp1 triliun pada 2028 sesuai aturan OJK.
“Pemegang saham tetap berharap TRIP bisa terus tumbuh memenuhi fundamental keuangannya karena ada tugas berat di tahun 2028 kita harus mencapai ekuitas Rp1 triliun sesuai ketentuan POJK,” ujarnya.
Dari sisi portofolio bisnis, lini asuransi properti masih menjadi penyumbang terbesar terhadap kinerja perusahaan. Selanjutnya disusul asuransi kredit yang ditopang captive market dari BNI.
“Yang masih dominan di sisi properti nomor satu, kemudian nomor dua adalah asuransi kredit karena captive market kita ‘kan BNI ya,” pungkasnya.
Editor: S. Edi Santosas
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

