Media Asuransi, GLOBAL – Sebanyak 86 persen wisatawan asal Singapura tercatat memiliki asuransi perjalanan. Angka tersebut menjadi tingkat kepemilikan asuransi perjalanan tertinggi di dunia berdasarkan survei Redion dan Ipsos.
Survei yang melibatkan 1.000 konsumen di Singapura pada 27 Februari hingga 7 April 2026 itu juga menunjukkan 51 persen responden berencana kembali menggunakan asuransi perjalanan pada masa mendatang.
Tingginya kepemilikan asuransi perjalanan tersebut sejalan dengan besarnya anggaran liburan warga Singapura. Rata-rata anggaran yang disiapkan untuk perjalanan wisata mencapai US$2.818.
Dari wisatawan yang memiliki asuransi perjalanan, sebanyak 86 persen menggunakan perlindungan yang berlaku sementara dan hanya untuk satu kali perjalanan. Sedangkan 46 persen memiliki perlindungan tahunan dan dua persen memperoleh perlindungan yang terhubung dengan kartu kredit.
Kehilangan barang pribadi menjadi risiko yang paling banyak diasuransikan. Sebanyak 93 persen warga Singapura memiliki perlindungan terhadap risiko tersebut, diikuti kecelakaan transportasi sebesar 92 persen.
Selain itu, 90 persen responden memiliki perlindungan terhadap risiko kesehatan, 87 persen terhadap serangan atau tindak kekerasan terhadap diri, serta 83 persen terhadap bencana alam.
|Baca juga: AAJI Dukung Aturan Baru Asuransi Kesehatan untuk Tekan Kenaikan Biaya Medis
|Baca juga: Ketua Komisi XI DPR Minta Regulasi Keuangan Digital Tak Hambat Inovasi
CEO Redion Asia Pasifik Hassen Bennour mengatakan wisatawan Singapura kini menginginkan perlindungan yang lebih luas, termasuk berbagai risiko sekaligus, layanan bantuan selama perjalanan, serta kepastian perlindungan di setiap perjalanan.
“Warga Singapura menginginkan perlindungan yang lebih luas terhadap berbagai risiko, bantuan yang terintegrasi, serta rasa aman yang tetap menyertai mereka dalam setiap perjalanan,” kata Bennour dikutip dari Insurance Asia, Senin, 31 Agustus 2026.
Di tengah tingginya kebutuhan tersebut, penggunaan AI juga mulai ikut mengubah cara wisatawan merencanakan perjalanan dan memilih produk asuransi. Sebanyak 45 persen warga Singapura mengaku telah menggunakan kecerdasan buatan untuk merencanakan atau memesan liburan.
Sebanyak 48 persen responden bahkan mempertimbangkan untuk memberikan kewenangan kepada kecerdasan buatan melakukan pemesanan perjalanan atas nama mereka. Sementara itu, 47 persen memperkirakan akan lebih sering menggunakan kecerdasan buatan untuk membandingkan produk asuransi perjalanan pada masa mendatang.
Menurut Bennour, kecerdasan buatan memang dapat mempercepat proses perencanaan perjalanan. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan pertimbangan manusia.
“Bagi perusahaan asuransi dan mitra industri, di sinilah peluang berikutnya berada, yakni memadukan kecepatan digital dengan panduan manusia yang tepercaya untuk memenuhi kebutuhan salah satu pasar perjalanan paling menuntut di dunia,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

