1
1

HSBC Ramal Rupiah Bakal Stabil hingga 2027

Ilustrasi. | Foto: OCBC

Media Asuransi, JAKARTA – HSBC memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak relatif stabil hingga 2027 seiring berakhirnya siklus kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI). Stabilitas rupiah juga dinilai mulai terlihat dari kembali masuknya arus modal ke pasar domestik.

Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann mengatakan BI kemungkinan masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada tahun ini. Setelah itu, siklus pengetatan kebijakan moneter diperkirakan berakhir.

“Menurut kami, akan ada satu kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun ini, tetapi setelah itu siklus pengetatan akan berakhir,” ujar Frederic, dalam Media Briefing HSBC Indonesia Summit, Selasa, 29 September 2026.

Menurut dia, kebijakan BI sebelumnya sudah cukup agresif untuk membantu menjaga stabilitas rupiah. Kondisi tersebut mulai terlihat dari nilai tukar yang lebih stabil serta arus modal yang kembali masuk ke Indonesia.

|Baca juga: Allianz Life Indonesia: Fokus Diversifikasi Global untuk Bangun Portofolio yang Tangguh

|Baca juga: Dana Pensiun Makin Agresif Masuk SRBI, Penempatan Tembus Rp18,52 Triliun

Frederic menilai ruang pergerakan rupiah pada tahun depan akan relatif sempit. Sementara itu, BI masih dapat menggunakan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menyerap sebagian likuiditas apabila diperlukan.

“BI mungkin sesekali menggunakan SRBI untuk menyerap sebagian likuiditas dan menyesuaikan kondisi moneter. Namun, ini hanya penyesuaian kecil,” katanya.

Di sisi lain, Frederic menilai, kebijakan moneter yang relatif ketat belum menjadi hambatan bagi pertumbuhan ekonomi. Hal itu tercermin dari pertumbuhan kredit perbankan, terutama kredit investasi dan kredit modal kerja, yang justru mengalami percepatan.

Dia mengatakan suku bunga yang lebih tinggi tidak selalu berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Stabilitas rupiah dan ekspektasi ekonomi yang lebih terjaga justru dapat memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi.

“Kami melihat sedikit pengetatan moneter, rupiah yang stabil, dan pertumbuhan kredit perbankan yang meningkat menunjukkan bahwa BI belum melakukan pengetatan secara berlebihan,” tutup Frederic.

Editor: Angga Bratadharma

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post ETF Emas Mulai Masuk Radar Industri Dana Pensiun, Begini Kata Bos OJK!
Next Post HSBC Ramal Rupiah Bergerak di Kisaran Rp18.000/US$ hingga Akhir 2026

Member Login

or