Media Asuransi, JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) atau BTN memastikan akuisisi portofolio kredit pensiun PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) bukan menjadi langkah terakhir dalam strategi pertumbuhan anorganik perseroan.
Setelah transaksi senilai Rp12,6 triliun tersebut rampung, BTN mengaku sudah mulai menjajaki pembicaraan dengan bank lain untuk peluang akuisisi berikutnya, meski tetap akan fokus di segmen konsumer.
Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan komunikasi dengan sejumlah bank memang sudah dilakukan. Namun hingga saat ini pembicaraan tersebut masih bersifat awal dan belum mengarah pada transaksi.
“Kita ada bicara dengan bank lain tapi belum ada arah transaksi tapi baru ngobrol-ngobrol,” ujar Nixon, usai paparan kinerja Semester I/2026 di Jakarta, Kamis, 16 Juli 2026.
|Baca juga: MSIG Asia Tunjuk Ronak Shah sebagai CEO Regional Mulai Oktober 2026
|Baca juga: QBE Asia Tunjuk Tay Siang Leng sebagai CEO Interim Wholesale Markets Asia
Jika pembicaraan terus berlanjut, Nixon memperkirakan transaksi baru baru akan terjadi pada tahun depan, dengan ekspansi BTN yang tetap difokuskan pada portofolio konsumer
Nixon mengatakan akuisisi terhadap SMBC dinilai dapat memperkuat komposisi portofolio kredit nonperumahan BTN sekaligus menghadirkan sumber pertumbuhan baru dengan profil imbal hasil yang lebih tinggi, tanpa mengorbankan kualitas aset karena seluruh portofolio yang diambil merupakan kredit berkualitas.
“Strategi beyond mortgage tidak berarti meninggalkan bisnis inti pembiayaan perumahan, tetapi melengkapinya sehingga nasabah BTN bisa mengakses kredit dari masa produktif hingga masa pensiun. Langkah ini juga akan meningkatkan daya tahan bisnis BTN dalam jangka panjang,” jelasnya.
BTN juga akan melanjutkan akuisisi tahap kedua pada kuartal III/2026 senilai sekitar Rp7,34 triliun. Setelah seluruh proses selesai, perseroan diproyeksikan mengelola sekitar 344,6 ribu rekening kredit pensiun.
Melalui strategi pertumbuhan anorganik tersebut, BTN menargetkan porsi kredit nonperumahan meningkat secara bertahap hingga sekitar 30 persen dari total portofolio kredit dalam lima tahun ke depan, sehingga struktur bisnis perseroan menjadi lebih seimbang, tangguh, dan berkelanjutan.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

