Media Asuransi, GLOBAL – Memanasnya konflik di sejumlah kawasan di dunia membuat risiko di industri asuransi kapal (marine insurance) ikut meningkat. Kondisi ini mendorong perusahaan asuransi menaikkan premi sekaligus memperketat penilaian risiko terhadap kapal yang berlayar di jalur rawan konflik.
Laporan 2026 Xinhua-Baltic International Shipping Centre Development Index mencatat pasar asuransi kapal global bernilai sekitar US$31,8 miliar pada 2025 dan diproyeksikan melampaui US$42 miliar pada 2035. Di sisi lain, perang dan ketegangan geopolitik membuat biaya perlindungan kapal ikut melonjak.
Laut Merah, Laut Hitam, dan sebagian kawasan Timur Tengah menjadi wilayah dengan risiko tertinggi akibat serangan terhadap kapal dagang. Akibatnya, banyak perusahaan pelayaran memilih mengubah rute agar lebih aman, meski harus menempuh perjalanan lebih lama dan mengeluarkan biaya operasional lebih besar.
Pada Juli 2025, dua kapal curah, yakni Magic Seas dan Eternity C, diserang di Laut Merah hingga akhirnya tenggelam. Insiden tersebut menjadi salah satu pemicu kenaikan premi asuransi perang bagi kapal yang melintasi kawasan itu.
|Baca juga: MSIG Asia Tunjuk Ronak Shah sebagai CEO Regional Mulai Oktober 2026
|Baca juga: QBE Asia Tunjuk Tay Siang Leng sebagai CEO Interim Wholesale Markets Asia
“Premi risiko perang untuk kapal yang melintasi wilayah tersebut naik dari sekitar 0,3 persen menjadi sekitar 0,7 persen dari nilai kapal. Artinya, kapal senilai US$100 juta bisa menanggung tambahan biaya asuransi hingga US$700 ribu hanya untuk satu kali pelayaran,” ujar laporan tersebut, dikutip dari Insurance Asia, Jumat, 17 Juli 2026.
Selain menaikkan premi, perusahaan asuransi juga mulai memperketat proses underwriting, termasuk meminta penilaian risiko tambahan bagi kapal yang akan beroperasi di wilayah konflik.
Sanksi ekonomi juga memicu bertambahnya shadow fleet, yaitu armada kapal dengan kepemilikan yang sulit dilacak. Kondisi ini menyulitkan perusahaan asuransi dalam memverifikasi riwayat kapal dan kepatuhannya terhadap aturan internasional.
Menurut laporan tersebut, penggunaan bahan bakar alternatif seperti amonia dan hidrogen juga menjadi tantangan baru bagi industri asuransi. Perusahaan harus menyesuaikan penilaian risiko seiring berkembangnya teknologi di sektor pelayaran.
Ke depan, konflik geopolitik, sanksi ekonomi, dan perubahan regulasi diperkirakan akan terus memengaruhi penentuan premi dan strategi pengelolaan risiko di industri asuransi kapal.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

