Media Asuransi, JAKARTA – Allianz Life Indonesia menyebutkan prospek Zona Euro bergerak sesuai jalur dengan laju pertumbuhan yang tetap moderat di tengah hambatan struktural. Produk Domestik Bruto (PDB) diperkirakan tumbuh 1,1 persen pada 2026 setelah tumbuh 1,4 persen pada 2025.
“Pasar berkembang atau Emerging Markets (EM) tidak sekadar berada di posisi pasif dalam dinamika ekonomi global,” kata Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia Alexander Grenz dikutip dari pernyataannya, Kamis, 28 Mei 2026.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Mirae Asset Sekuritas Sebut Saham Sektor Perbankan Berpotensi Cuan saat IHSG Terjungkal
Secara keseluruhan, lanjutnya, EM tetap menunjukkan ketahanan yang solid, didukung oleh siklus ekonomi yang relatif lebih positif dibandingkan dengan negara maju serta posisi eksternal yang umumnya kuat.
“Kondisi ini memungkinkan banyak negara berkembang menghadapi ketidakpastian global dengan fondasi makroekonomi yang lebih baik,” tuturnya.
View this post on Instagram
Di sisi lain, Allianz Life Indonesia mencatat sektor informasi dan komunikasi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tampil sebagai mesin pertumbuhan baru. Bahkan, sektor ini mendorong lebih dari setengah pertumbuhan PDB Amerika Serikat (AS) pada 2025 dengan kontribusi sekitar 1,1 persen.
Alexander mengungkapkan dampak AI diperkirakan berlanjut pada 2026, sehingga proyeksi pertumbuhan AS untuk 2026 direvisi naik menjadi 2,5 persen. Penopang utama revisi ini adalah konsumen yang lebih tangguh, dorongan kredit atau credit impulse yang meningkat, serta kontribusi produktivitas dan investasi terkait AI yang makin terasa.
|Baca juga: OJK Ungkap 3 Lini Usaha yang Jadi Mesin Utama Pertumbuhan Industri Asuransi Umum di Maret 2026
|Baca juga: RUPST&LB BFI Finance (BFIN): Tebar Dividen hingga Tunjuk Komisaris dan Direksi Baru
Dari China, lanjutnya, ekspor tetap unggul di tengah perang dagang, namun permintaan domestik masih lemah. Di tengah tensi perdagangan, ekspor China masih menjadi yang paling menonjol.
“Pertumbuhan melampaui ekspektasi, terutama karena permintaan eksternal yang lebih kuat dari perkiraan dengan impor yang cenderung lunak,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

