Media Asuransi, JAKARTA – Saat krisis keuangan atau pandemi, pasar saham dan obligasi mengalami guncangan. Harga saham-saham rontok dan investor menghindari aset berisiko, mengalihkannya ke aset safe haven, seperti dolar, yen Jepang atau emas.
|Baca juga: Eastspring Indonesia dan Webull Indonesia Jalin Kemitraan Strategis untuk Perluas Akses Investasi Reksa Dana
Bagaimana dengan reksa dana? Di reksa dana, jenis reksa dana yang aman saat krisis adalah reksa dana pasar uang karena sifatnya yang konservatif, tidak mengincar return tinggi, yang penting nilai aset tidak berkurang.
Dikutip dari blog Samuel Aset Manajemen, disebutkan saat krisis keuangan global 2008, disertai harga komoditas andalan Indonesia anjlok, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari 50 persen sepanjang tahun itu, dari sekitar 2.745 menjadi di bawah 1.355. Dalam hitungan bulan, nilai investasi jutaan orang menyusut drastis. Rasa cemas berubah menjadi panik, dan tidak sedikit investor yang keluar dari pasar secara tergesa-gesa justru mengunci kerugian di titik terburuk.
|Baca juga: Dasar-Dasar Investasi Reksa Dana Ala AllianzGI
Di tengah kekacauan itu, ada satu instrumen investasi yang tetap relatif stabil, yakni Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Sesuai ketentuan OJK, RDPU hanya menempatkan dana pada instrumen pasar uang dan efek utang jangka pendek dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun. Karena sifatnya yang sangat dekat dengan “uang tunai”, pergerakannya jauh lebih stabil dibandingkan dengan instrumen berbasis saham.
View this post on Instagram
Saat Pandemi Covid-19 pada 2020-2023, pasar saham juga anjlok parah. IHSG turun 37 persen hanya dalam dua bulan pertama pandemi. RDPU saat kepanikan global memuncak di Maret 2020, sebenarnya juga mencatat imbal hasil negatif tipis sekitar -0,09 persen.
Namun, jika dibandingkan dengan reksa dana saham, tentu penurunan nilai ini masih bisa ditolerir. Penurunan return juga disebabkan banyak investor menarik dananya serentak, menekan likuiditas pasar secara masif.
|Baca juga: APRDI Ajak Banyak Pihak Gotong-Royong Ciptakan Budaya Investasi di Reksa Dana
Jika dibandingkan dengan kondisi pasar modal saat ini yang juga tergerus dalam sejak awal tahun, RDPU juga mencatatkan kinerja positif. Kinerja reksa dana RDPU secara year-to-date (YtD) Mei 2026 mencatatkan pertumbuhan positif sekitar 1,33 persen, di saat return rata-rata reksa dana saham minus 8,30 persen sejak awal tahun.
Pasar saham tertekan depresiasi rupiah di mana per 26 Mei 2026 nilainya telah menyentuh 17.800 per dolar AS karena tekanan krisis harga minyak akibat perang AS-Israel melawan iran. Kenaikan dolar juga memicu inflasi yang naik ke 4,76 persen pada Februari 2026, tertinggi sejak Maret 2023.
Di sinilah RDPU tetap relevan; bukan sebagai alat untuk cepat kaya, melainkan sebagai strategi bertahan yang cerdas di tengah ketidakpastian yang terus berubah bentuk.
Editor: Irdiya Setiawan
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

