1
1

Ketika Geopolitik Menjadi Risiko: Pelajaran dari Konflik Global bagi Industri Asuransi Indonesia

Oleh: Mhd. Taufik Arifin

 

Pengantar

Selama bertahun-tahun, banyak pelaku usaha di Indonesia menganggap geopolitik sebagai sesuatu yang jauh dari aktivitas bisnis sehari-hari. Konflik di Timur Tengah, ketegangan di Eropa Timur, atau persaingan diantara negara-negara besar sering dianggap sebagai isu politik internasional yang hanya menarik perhatian diplomat dan pengamat hubungan internasional.

Namun, dunia saat ini telah berubah.

Dalam Indonesia Insurance Summit 2026 di Yogyakarta, Prof. Dr. Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia dan salah satu pakar geopolitik terkemuka di Indonesia, mengingatkan bahwa risiko geopolitik kini telah menjadi salah satu faktor yang paling memengaruhi ekonomi global, perdagangan internasional, investasi, dan pada akhirnya industri asuransi.

Apa yang terjadi di Laut Merah, Selat Hormuz, Ukraina, atau Laut China Selatan tidak lagi sekadar berita luar negeri. Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh perusahaan pelayaran, eksportir, importir, perusahaan energi, sektor manufaktur, hingga konsumen di Indonesia.

Bagi industri asuransi, perubahan ini menghadirkan tantangan baru yang tidak dapat diabaikan.

 

Dunia Sedang Memasuki Era Geopolitical Risk

Dalam paparannya, Prof. Hikmahanto menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang mengalami pergeseran besar dalam tatanan geopolitik global.

Perang Rusia-Ukraina yang telah berlangsung selama beberapa tahun menunjukkan bagaimana konflik regional dapat memengaruhi pasokan energi dunia, harga pangan, serta kestabilan ekonomi berbagai negara.

Di Timur Tengah, konflik yang melibatkan Israel, Iran, dan berbagai kelompok bersenjata telah meningkatkan kekhawatiran akan keamanan jalur pelayaran internasional.

Sementara itu, persaingan strategis antara Amerika Serikat dan China terus menciptakan ketidakpastian dalam perdagangan global, investasi, teknologi, dan rantai pasok internasional.

Menurut Prof. Hikmahanto, kondisi ini menciptakan apa yang disebut sebagai geopolitical uncertainty, yaitu situasi ketika dunia usaha semakin sulit memprediksi arah perkembangan ekonomi dan keamanan global.

Ketidakpastian tersebut pada akhirnya akan diterjemahkan menjadi risiko bisnis. Dan setiap risiko bisnis pada akhirnya akan berhubungan dengan industri asuransi.

 

Ketika Laut Merah Mengubah Biaya Logistik Dunia

Salah satu contoh yang disampaikan dalam forum adalah gangguan pelayaran di Laut Merah.

Secara geografis, Laut Merah berada ribuan kilometer dari Indonesia.

Namun, ketika sejumlah kapal memilih menghindari jalur tersebut karena alasan keamanan, dampaknya langsung terasa pada biaya pengiriman global.

–        Rute pelayaran menjadi lebih panjang.
–        Konsumsi bahan bakar meningkat.
–        Waktu pengiriman bertambah.
–        Biaya logistik naik.

Pada akhirnya, harga barang dan bahan baku ikut terdampak. Bagi perusahaan yang bergantung pada impor maupun ekspor, kondisi ini meningkatkan risiko operasional dan risiko keuangan.

Bagi industri asuransi, kondisi tersebut dapat mempengaruhi:

–        Marine Cargo Insurance.
–        Hull & Machinery Insurance.
–        Protection & Indemnity (P&I).
–        Trade Credit Insurance.
–        Political Risk Insurance.

Artinya, risiko geopolitik tidak lagi menjadi isu yang berdiri sendiri. Geopolitik telah menjadi bagian dari ekosistem risiko yang harus dipahami oleh seluruh pelaku industri.

 

Risiko yang Tidak Lagi Dapat Dikendalikan Perusahaan

Salah satu karakteristik risiko geopolitik adalah bahwa risiko tersebut berada di luar kendali perusahaan. Manajemen dapat mengendalikan kualitas produksi. Manajemen dapat mengendalikan biaya operasional. Manajemen dapat mengendalikan sumber daya manusia. Namun tidak ada perusahaan yang dapat mengendalikan perang, konflik internasional, embargo perdagangan, atau sanksi ekonomi. Karena itulah risiko geopolitik menjadi semakin menantang.

Ketika sebuah perusahaan tambang di Indonesia mengalami keterlambatan pengiriman alat berat akibat gangguan pelayaran internasional, masalah tersebut mungkin tidak berasal dari kesalahan perusahaan.

Ketika harga energi melonjak akibat konflik di Timur Tengah, perusahaan manufaktur di Indonesia tidak memiliki kemampuan untuk mengubah situasi tersebut.

Inilah yang membuat manajemen risiko menjadi semakin penting.

 

Pelajaran Penting bagi Broker Asuransi

Dari perspektif DPKRI APPARINDO, presentasi Prof. Hikmahanto memberikan pesan yang sangat penting bagi industri broker asuransi. Selama bertahun-tahun, banyak broker lebih fokus pada risiko tradisional seperti kebakaran, kecelakaan, kerusakan mesin, atau tanggung jawab hukum.

Risiko-risiko tersebut tetap penting. Namun, masa depan membutuhkan cakupan pemahaman yang lebih luas. Broker harus mulai memahami bagaimana geopolitik dapat memengaruhi bisnis klien.

Misalnya: Sebuah perusahaan EPC yang mengimpor peralatan dari luar negeri mungkin menghadapi risiko keterlambatan proyek akibat gangguan rantai pasok global. Perusahaan pelayaran mungkin menghadapi peningkatan biaya operasi akibat perubahan rute pelayaran. Perusahaan energi mungkin menghadapi volatilitas harga yang memengaruhi kelangsungan proyek.

Dalam kondisi seperti ini, broker tidak cukup hanya menawarkan polis. Broker harus membantu klien memahami risiko yang mungkin bahkan belum mereka sadari.

 

Apakah Polis Tradisional Masih Cukup?

Pertanyaan yang mulai muncul adalah apakah produk asuransi yang selama ini digunakan masih cukup untuk menghadapi dunia yang berubah.

Banyak polis tradisional dirancang untuk menghadapi risiko fisik.

Namun bagaimana dengan:

–        Political Violence.
–        Terrorism.
–        Trade Disruption.
–        Supply Chain Interruption.
–        Cyber Warfare.
–        Sanction Risk.

Risiko-risiko tersebut semakin relevan bagi perusahaan modern. Oleh karena itu, industri asuransi perlu terus mengembangkan produk dan pendekatan underwriting yang sesuai dengan perkembangan zaman.

 

Apa yang harus dilakukan industri asuransi?

Menurut penulis, terdapat tiga agenda besar yang perlu menjadi perhatian industri. Pertama, meningkatkan kemampuan memahami risiko geopolitik dan dampaknya terhadap portofolio bisnis. Kedua, mengembangkan produk yang lebih relevan terhadap risiko-risiko baru yang muncul akibat perubahan global.

Ketiga, meningkatkan kolaborasi antara perusahaan asuransi, broker, akademisi, dan regulator untuk membangun pemahaman yang lebih baik mengenai risiko masa depan. Tidak ada satu pihak pun yang mampu menghadapi perubahan ini sendirian.

 

Pesan untuk OJK dan APPARINDO

Indonesia merupakan negara dengan perekonomian yang semakin terintegrasi dengan pasar global. Karena itu, risiko global akan semakin memengaruhi dunia usaha nasional.

OJK dapat mendorong peningkatan literasi risiko geopolitik dalam industri jasa keuangan. Sementara APPARINDO dapat berperan sebagai pusat edukasi dan kajian mengenai emerging risks yang akan dihadapi anggota di masa depan.

Broker Indonesia perlu mulai membangun kompetensi baru yang tidak hanya berfokus pada asuransi, tetapi juga pada pemahaman terhadap perubahan ekonomi, teknologi, lingkungan, dan geopolitik.

 

Penutup

Presentasi Prof. Dr. Hikmahanto Juwana dalam Indonesia Insurance Summit 2026 memberikan pengingat yang sangat penting bahwa dunia usaha saat ini hidup dalam lingkungan yang jauh lebih kompleks dibandingkan satu dekade lalu.

Perang, konflik, sanksi ekonomi, gangguan rantai pasok, dan ketidakpastian geopolitik bukan lagi isu yang jauh dari Indonesia. Semua itu telah menjadi bagian dari risiko bisnis yang harus dikelola secara serius.

Bagi industri asuransi, perubahan ini merupakan tantangan sekaligus peluang. Tantangan karena risiko menjadi semakin kompleks. Peluang karena kebutuhan terhadap pelindungan, konsultasi risiko, dan solusi manajemen risiko akan semakin meningkat.

Dan bagi broker asuransi, inilah saatnya untuk bertransformasi dari sekadar penyedia akses pasar menjadi penasihat risiko strategis yang mampu membantu klien menghadapi dunia yang semakin tidak pasti. Karena pada akhirnya, di era geopolitik yang penuh volatilitas, memahami risiko sama pentingnya dengan mengalihkan risiko.

 

Catatan: Artikel ini merupakan seri kedua dari 10 artikel yang akan ditulis.

 

*Penulis adalah Head of Industry Research and Study APPARINDO serta CEO PT. Liberty and General Insurance Broker (L&G) – Ingrisk.co.id

 

| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Related Posts
Prev Post Inovasi PGE Hadirkan Secangkir Kopi Dari Perut Bumi
Next Post Tumbuh 29,8%, BEI Cetak Pendapatan Konsolidasi Rp3,66 Triliun di 2025

Member Login

or