Media Asuransi, JAKARTA – Allianz Life Indonesia mencatat sektor informasi dan komunikasi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) tampil sebagai mesin pertumbuhan baru. Bahkan, sektor ini mendorong lebih dari setengah pertumbuhan PDB Amerika Serikat (AS) AS pada 2025 dengan kontribusi sekitar 1,1 persen.
Country Manager & President Director Allianz Life Indonesia Alexander Grenz mengungkapkan dampak AI diperkirakan berlanjut pada 2026, sehingga proyeksi pertumbuhan AS untuk 2026 direvisi naik menjadi 2,5 persen.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: Rupiah Tembus Rp17.500, Bos BI Sebut Ini Biang Keroknya!
“Penopang utama revisi ini adalah konsumen yang lebih tangguh, dorongan kredit atau credit impulse yang meningkat, serta kontribusi produktivitas dan investasi terkait AI yang makin terasa,” kata Alexander Grenz, dikutip dari pernyataannya, Minggu, 17 Mei 2026.
Dari China, lanjutnya, ekspor tetap unggul di tengah perang dagang, namun permintaan domestik masih lemah. Di tengah tensi perdagangan, ekspor China masih menjadi yang paling menonjol. Pertumbuhan melampaui ekspektasi, terutama karena permintaan eksternal yang lebih kuat dari perkiraan dengan impor yang cenderung lunak.
|Baca juga: Bos Allianz Indonesia: Inovasi Produk dan Penguatan Kolaborasi Pemicu Premi Tetap Tumbuh di Kuartal I/2026
|Baca juga: Bos Orion Reasuransi Pede New RBC Jadi Angin Segar bagi Industri Asuransi
Ia menambahkan lonjakan ekspor tersebut didorong beberapa mekanisme yang berlangsung bersamaan percepatan pengiriman ke AS pada paruh pertama tahun, pengalihan rute perdagangan untuk mengurangi dampak tarif, peningkatan pangsa pasar di luar AS, dukungan dari pelemahan mata uang, serta daya saing harga
Lebih lanjut, Alexander Grenz menyatakan, imbal hasil obligasi pemerintah diperkirakan tetap stabil selama dua tahun ke depan, dengan pasar yang sudah memperkirakan pelonggaran kebijakan bank sentral yang signifikan.
|Baca juga: Naik 13,4%, Allianz Indonesia Catat Premi Rp4,5 Triliun di Kuartal I/2026
|Baca juga: KUPASI Beberkan Peluang dan Tantangan New RBC bagi Industri Asuransi
“Dampak defisit fiskal Amerika Serikat yang besar dan pengetatan kuantitatif yang dipercepat di Eropa akan mengimbangi tekanan dari kebijakan penurunan suku bunga,” pungkasnya.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

