Media Asuransi, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) tidak menampik tekanan terhadap nilai tukar rupiah terus melonjak dari waktu ke waktu sekarang ini. Hal itu diakibatkan oleh konflik di Timur Tengah yang masih berlangsung dengan intensitas meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global.
“Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar AS secara musiman seperti untuk pembayaran Utang Luar Negeri (ULN) dan pembayaran dividen serta kebutuhan ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar AS di pasar domestik,” kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, dalam pernyataan resminya, dikutip Rabu, 13 Mei 2026.
|Baca juga: BFI Finance (BFIN) Klarifikasi soal Berita Penarikan Paksa Mobil di Tangerang Selatan
|Baca juga: AAJI Pede Revisi Aturan Unitlink Dorong Keseimbangan Produk Asuransi
Ia menambahkan BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention baik di pasar spot, DNDF, maupun NDF, dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah.
“BI juga melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik, yang tercermin dari inflows, khususnya ke pasar SBN dan SRBI selama April sebesar Rp61,6 triliun,” ungkap Destry.
Lebih lanjut, Destry menyatakan, ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga cukup tinggi dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) valas di akhir Maret mencapai 10,9 persen ytd.
|Baca juga: Prudential Syariah Cetak Kinerja Ciamik di 2025
|Baca juga: Ekonom Permata Bank: Konsumsi Domestik Masih Jadi Penopang Ekonomi Indonesia
“BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya,” tukasnya.
Sebagai informasi, mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada penutupan perdagangan di hari kemarin terpantau di level Rp17.528 per US$. Mata uang Garuda terus mengalami tekanan dan sejauh ini belum ada sentimen signifikan yang membuat pembalikan arah terjadi.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

