Media Asuransi, JAKARTA – Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengungkapkan terjadinya rentetan banjir dan bencana hidrometeorologi beberapa waktu lalu, termasuk dampak cyclone Sumatra di tiga provinsi, diperkirakan mendorong kenaikan klaim asuransi properti pada kuartal I/2026.
Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik dan Riset Trinita Situmeang mengungkapkan proses pelaporan klaim akibat bencana tersebut masih berlangsung di sejumlah wilayah terdampak. Ia menambahkan besaran kenaikan klaim asuransi properti akibat banjir masih menunggu proses pelaporan dan asesmen yang sedang berjalan.
“Betul, prosesnya masih sedang berjalan, cyclone Sumatra yang terjadi di tiga provinsi itu juga sebagian besar sudah dilaporkan. Kalau dari sisi klaim untuk bencana hidrologi ini kita kelihatannya dapat mengatakan bahwa akan terjadi kenaikan,” ujar Trinita, akhir pekan lalu.
Meski demikian, Trinita menegaskan, untuk melihat dampaknya terhadap total klaim asuransi properti secara keseluruhan masih membutuhkan waktu. Hal ini karena dalam praktiknya tidak seluruh kerugian akibat bencana otomatis menjadi tanggung jawab perusahaan asuransi.
|Baca juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,11% di 2025, Permintaan Domestik Masih Jadi Jangkar Utama!
|Baca juga: Ekonomi RI di 2026 Dinilai Solid tapi Ruang Kebijakan Fiskal dan Moneter Terbatas
|Baca juga: Transformasi Digital Sistem Pembayaran Indonesia Jadi Rujukan Lembaga Keuangan Dunia
“Tentunya secara keseluruhan apakah berdampak kepada total klaim untuk asuransi properti butuh waktu. Karena seperti kita ketahui memang di negara kita karakter bisnisnya untuk dia menjadi bagian dari liability atau tanggung jawab asuransi itu tergantung dari posisinya. Apakah posisinya memang di asuransikan,” ucapnya.
Ia menjelaskan selalu terdapat perbedaan antara kerugian ekonomi dan kerugian asuransi. Kerugian ekonomi umumnya jauh lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang benar-benar dijamin oleh polis asuransi.
“Jadi selalu ada dua hal yaitu kerugian ekonomi dan kerugian asuransi. Biasanya kerugian asuransi itu jauh lebih kecil atau kerugian ekonomi itu jauh lebih besar daripada kerugian asuransi,” kata Trinita.
Menurutnya kondisi tersebut mencerminkan masih rendahnya penetrasi asuransi properti di Indonesia. Porsi aset properti yang telah diasuransikan dinilai masih relatif kecil dibandingkan dengan total eksposur risiko yang ada.
Trinita menilai tantangan ke depan semakin kompleks seiring meningkatnya risiko bencana. Selain potensi munculnya sesar atau patahan baru yang meningkatkan risiko gempa, perubahan iklim dan pembangunan yang pesat turut memperbesar eksposur terhadap bencana meteorologi seperti banjir dan siklon.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
