Media Asuransi, JAKARTA – Besok pagi, sebagian besar umat Islam di seluruh dunia akan merayakan Iduladha, biasa disebut Idul Kurban atau Lebaran Haji oleh masyarakat kita. Ada satu fenomena menarik di jagat maya, yakni bermunculan foto-foto diri dengan latar belakang lapak hewan kurban.
“MasyaAllah, sapinya gede banget”. Kalimat seperti ini hampir selalu muncul setiap Iduladha, terutama di media sosial. Mulai dari video sapi berbobot jumbo, kambing ‘sultan’, hingga unggahan nominal harga hewan kurban yang fantastis semuanya ramai berseliweran di timeline.
Di satu sisi, hal ini dapat menjadi bentuk rasa syukur dan semangat berbagi. Namun di sisi lain, fenomena flexing hewan kurban juga memunculkan pertanyaan baru: apakah makna kurban perlahan mulai bergeser menjadi ajang validasi sosial? Apalagi di era media sosial saat ini, hampir semua hal mudah berubah menjadi konten. Bahkan momen ibadah sekalipun.
|Baca juga: Inilah Cara Menyimpan Daging Kurban di Kulkas Agar Tahan Lama
Ketika Ibadah Mulai Dibandingkan
Tanpa sadar, media sosial membuat banyak orang terbiasa melihat kehidupan orang lain sebagai standar. Melihat unggahan hewan kurban berukuran besar, jumlah kurban yang banyak, atau kolom komentar penuh pujian kadang memicu rasa tidak enak dalam diri sebagian orang. “Aku belum mampu”. “Kurbanku kecil”. “Kayaknya tahun ini belum bisa.”
Padahal sejatinya, ibadah kurban bukan tentang siapa yang paling besar atau paling mahal, tetapi tentang keikhlasan dan kemampuan masing-masing. Karena pada akhirnya, nilai sebuah pengorbanan tidak diukur dari seberapa viral kontennya, tetapi dari niat dan makna di baliknya.
Fenomena Flexing
Menariknya, tren flexing ini bukan hanya terjadi saat Iduladha. Hari ini, banyak orang hidup di tengah tekanan untuk selalu terlihat ‘mampu’. Mulai dari gaya hidup, liburan, gadget terbaru, hingga pencapaian finansial. Akibatnya, tidak sedikit orang yang akhirnya memaksakan diri demi menjaga image sosial.
|Baca juga: Berapa Banyak Daging Kurban yang Boleh Dimakan oleh Sahibul Kurban
Padahal kondisi finansial setiap orang berbeda-beda. Ada yang terlihat mapan di media sosial, tetapi sebenarnya tidak memiliki dana darurat. Ada yang terlihat sederhana, tetapi diam-diam sudah menyiapkan pelindungan dan masa depan keluarganya dengan baik. Karena ketenangan finansial sejatinya bukan soal terlihat kaya, melainkan soal seberapa siap seseorang menghadapi risiko kehidupan.
Iduladha Mengajarkan Tentang Prioritas
Di balik hiruk-pikuk media sosial, Iduladha sebenarnya membawa pesan yang jauh lebih dalam: tentang keikhlasan, kepedulian, dan kesiapan menempatkan hal yang penting sebagai prioritas. Bukan hanya tentang memberi hari ini, tetapi juga menjaga masa depan keluarga di kemudian hari.
Sebab dalam kehidupan nyata, tantangan finansial tidak berhenti setelah hari raya selesai. Biaya hidup terus berjalan. Risiko kesehatan bisa datang kapan saja. Kebutuhan keluarga pun terus bertambah. Karena itu, selain berbagi kepada sesama, penting juga untuk memastikan keluarga sendiri memiliki perlindungan yang cukup.
Proteksi Bukan untuk Pamer, Tapi untuk Bersiap
Dikutip dari keterangan tertulis PFI Mega Life, berbeda dengan flexing di media sosial yang sifatnya sesaat, pelindungan finansial justru sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
|Baca juga: Siapa Saja yang Berhak Menerima Daging Kurban?
Tidak di-posting. Tidak viral. Tidak mendapatkan likes. Tetapi dampaknya bisa sangat besar ketika risiko benar-benar terjadi. Memiliki asuransi bukan berarti mengharapkan hal buruk datang, melainkan bentuk tanggung jawab agar keluarga tetap memiliki pegangan di situasi yang tidak terduga.
Sama seperti makna kurban yang mengajarkan tentang memberi yang terbaik untuk orang-orang yang kita sayangi, pelindungan finansial juga menjadi bagian dari upaya menjaga mereka di masa depan.
Karena Hidup Bukan Tentang Terlihat Paling Mampu
Di era ketika semua orang berlomba menunjukkan pencapaiannya, mungkin kita perlu kembali mengingat bahwa hidup bukan kompetisi siapa yang paling terlihat sukses. Tidak semua hal harus dipamerkan. Tidak semua pencapaian harus divalidasi media sosial. Dan tidak semua bentuk cinta terlihat di permukaan.
Kadang, bentuk kasih sayang terbesar justru hadir lewat keputusan-keputusan yang sunyi, seperti menyiapkan dana darurat, menjaga kestabilan finansial keluarga, hingga memiliki perlindungan untuk masa depan orang tercinta. Karena sejatinya, yang paling penting bukan bagaimana terlihat aman di media sosial, tetapi bagaimana keluarga benar-benar tetap aman dalam kehidupan nyata.
Editor: S. Edi Santosa
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

