Media Asuransi, JAKARTA – Hidup lebih lama ternyata bukan selalu kabar baik. Bagi banyak warga Singapura, umur yang semakin panjang justru memunculkan kekhawatiran baru, mulai dari biaya perawatan, tabungan pensiun, hingga kesehatan di hari tua.
Melansir Insurance Asia, berdasarkan AIA Longevity Study yang dirilis pada 23 Juli 2026, lebih dari separuh responden mengaku cemas menghadapi usia yang lebih panjang. Sebanyak 51 persen melihat harapan hidup yang meningkat sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan, sementara hanya 22 persen yang menganggapnya sebagai kabar baik.
Chief Marketing and Healthcare Officer AIA Singapore Irma Hadikusuma mengatakan masyarakat sebenarnya sudah memahami apa saja yang dibutuhkan agar bisa menjalani masa tua dengan baik. Namun, masih banyak yang belum benar-benar mempersiapkannya.
“Sebenarnya masyarakat sudah tahu apa yang dibutuhkan untuk menua dengan baik. Namun, masih ada kesenjangan besar antara keinginan mereka dan kesiapan yang dimiliki,” ujarnya.
Salah satu persoalan terbesar adalah minimnya perencanaan untuk perawatan jangka panjang. Hanya 19 persen responden yang mengaku sudah memahami sekaligus menyiapkan kebutuhan tersebut.
Saat ditanya soal sumber pendanaan, 52 persen berharap bisa mengandalkan program pemerintah, sedangkan hanya 23 persen yang berencana menggunakan asuransi swasta. Survei juga menemukan adanya jarak antara harapan hidup dan masa hidup sehat.
|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Bukukan Laba Bersih Rp30,4 Triliun di Semester I/2026
|Baca juga: Bank Mandiri (BMRI) Sebut Rasio BOPO Terjaga di 57,6% di Semester I/2026
Warga Singapura memperkirakan bisa hidup hingga usia rata-rata 80,2 tahun. Namun, mereka menilai kondisi kesehatan mulai menurun sejak usia 70,2 tahun. Artinya, ada sekitar 10 tahun ketika seseorang masih hidup, tetapi kesehatannya sudah tidak lagi optimal.
Dari sisi keuangan, hampir semua responden menyadari pentingnya memiliki kondisi finansial yang kuat saat memasuki masa pensiun. Sebanyak 87 persen menganggap keamanan finansial sangat penting. Sayangnya, hanya 33 persen yang rutin merencanakan dan mengevaluasi kondisi keuangan mereka.
Akibatnya, 61 persen responden khawatir tabungan pensiun mereka tidak akan cukup. Sebanyak 45 persen juga mengaku belum percaya diri menyusun rencana keuangan untuk menghadapi usia yang lebih panjang. Selain itu, 31 persen responden masih belum memiliki perlindungan kesehatan yang memadai.
Meski demikian, kesadaran untuk menjaga kesehatan fisik tergolong tinggi. Sebanyak 83 persen responden mengaku aktif menjaga kesehatan, dengan tujuan utama menghindari disabilitas dan menunda munculnya penyakit kronis.
Namun, kebiasaan mencegah penyakit masih belum optimal. Pada kelompok usia 41 hingga 50 tahun, sebanyak 60 persen baru memeriksakan atau menangani kondisi kesehatan setelah muncul masalah. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia 51 hingga 65 tahun yang mencapai 46 persen.
Selain kesehatan fisik dan keuangan, kondisi mental juga menjadi perhatian. Sebanyak 88 persen responden menilai kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Namun, banyak yang masih dihantui berbagai kekhawatiran menjelang masa tua.
Sebanyak 67 persen takut mengalami penyakit atau rasa sakit, 61 persen khawatir kehilangan tujuan hidup setelah pensiun, 53 persen takut menjadi beban keluarga, dan 40 persen cemas akan hidup dalam kesepian.
Hasil survei ini menunjukkan tantangan menghadapi umur panjang bukan hanya soal hidup lebih lama, tetapi juga bagaimana tetap sehat, mandiri, dan memiliki kondisi keuangan yang cukup untuk menikmati masa tua dengan tenang.
Editor: Angga Bratadharma
| Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
